
Selasa, 29 Juli 2008 | 03:00 WIB
Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan jika berbicara mengenai pendidikan di Jerman adalah bagaimana negeri itu bisa menyesuaikan pendidikan dengan kemajuan teknologi yang dimiliki dunia industri. Atau, bagaimana Pemerintah Jerman membuat pendidikannya selalu up to date? Bagaimana mengatur hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri?
Berbagai pertanyaan itu memang pantas dikemukakan, terutama oleh kita yang sering kali terseok-seok dalam mengembangkan dunia pendidikan serta mencoba mengikuti perkembangan teknologi yang dimiliki dunia industri.
Kiblat pendidikan teknik
Namun, sebelum membedah rasa ingin tahu itu, perlu diketahui bahwa Jerman merupakan negara yang memiliki latar belakang dan sejarah pendidikan yang cukup lama. Selama ini, mungkin Jerman bukan kiblat utama untuk pendidikan terkait masalah-masalah sosial. Namun, untuk bidang-bidang teknik, hingga kini Jerman masih menjadi salah satu kiblatnya. Sudah berabad-abad lalu masyarakat Jerman memiliki budaya suka bermain perkakas. Mereka suka mengutak-utik alat.
Sikap dan kebiasaan itu didukung oleh rasa ingin tahu yang amat besar dari kebanyakan orang Jerman. Tidak mengherankan jika sikap, kebiasaan, dan budaya itu mendorong Jerman menjadi negara yang makin maju teknologinya.
”Yang saya ketahui, universitas di sini amat suka bersinergi antarmereka, misalnya membuat perhimpunan perbaikan sistem pendidikan, perhimpunan peningkatan penelitian di bidang tertentu, katakanlah elektro arus kuat, maka dijalin kerja sama dengan MIT, Virginia, Imperial College London, atau dengan Zurich, yang oleh banyak perusahaan dinilai sebagai universitas-universitas elite. Di antara universitas-universitas ini sering dilakukan tukar pikiran,” kata Rinaldi Sabirin dari Jurusan Elektro TU Darmstadt.
Kerja sama dan tukar pikiran ini juga dilakukan di antara universitas dalam menciptakan suatu produk. Hal ini, barangkali, hampir tidak umum dilakukan di Indonesia karena setiap universitas merasa memiliki kelebihan dan sering sulit diajak bersinergi.
Universitas-industri
Kerja sama itu terus berlanjut, tidak hanya antaruniversitas, tetapi juga antara universitas dan dunia industri. Biasanya, dunia industri menawarkan semacam proyek kepada universitas. Jika universitas menyetujui, kemudian dibuat kontrak, membuat penelitian dengan requirements dari industri, dan hasilnya diberikan kepada industri.
”Jadi, sifat kerja sama ini tidak hanya consulting office, tetapi benar-benar membuat produk,” kata Rinaldi menambahkan.
Sebagai contoh, ada perusahaan meminta universitas untuk membuatkan sensor listrik guna penghematan energi. Sensor itu akan bekerja dan memberikan sinyal untuk menyalakan lampu apabila dilewati oleh orang atau benda bergerak lainnya. Setelah tiga atau lima menit, lampu akan mati sendiri. Jika disetujui, proyek itu akan diikat dengan kontrak antara universitas dan perusahaan pemesan.
”Sang profesor yang mendapat tugas untuk melaksanakan segera membuat perencanaan dan rancangan. Perencanaan dan rancangan itu lalu di-break-down oleh asisten dosen yang biasanya terdiri dari mahasiswa S-3 yang sudah lulus Dipl-Ing. Jadi, di sini profesor bertindak sebagai penanggung jawab, sedangkan asisten sebagai pelaksana utama,” kata Dipl-Ing Sofian Ardi Limoa, alumnus Jurusan Elektroteknik Universitas Stuttgart.
Hasil break-down pelaksanaan proyek itu lalu ditawarkan kepada mahasiswa tingkat akhir, dan bisa dijadikan bahan tesis sekaligus tugas akhir bagi mahasiswa untuk meraih gelar kesarjanaan, bachelor atau dipl-ing.
”Dari sensor itu, misalnya, asisten akan membagi pekerjaan seperti sejauh mana sensitivitas sensor yang akan dibuat, komponen apa saja yang diperlukan, perangkat lunak seperti apa yang harus digunakan, dan sebagainya. Jika mahasiswa sudah mengambil salah satu tugas, ia akan bekerja baik di perpustakaan maupun di ruang praktikum, hingga benar-benar menemukan apa yang diinginkan. Pembiayaan atas pelaksanaan tugas itu tergantung kontrak. Bisa saja industri menanggung sepenuhnya, atau bisa saja kontrak hanya berupa joint-project,” kata Rinaldi.
Masuk kas universitas
Meski dalam proyek bersama profesor yang menandatangani kontrak dengan dunia industri, bukan berarti uang akan masuk ke kantong pribadi profesor. Uang itu akan masuk kas universitas. Hanya saja, profesor berhak menggunakan uang itu untuk pembelian alat-alat baru guna pengembangan pendidikan.
Apakah dengan cara ini selalu membuat pendidikan di Jerman terus up to date, sejalan dengan perkembangan teknologi di dunia industri? Pertanyaan ini perlu diajukan mengingat pengembangan kurikulum tidak secepat pertumbuhan teknologi.
”Memang begitu. Tetapi, para profesor ini mempunyai waktu seminggu sekali untuk bertemu, ngobrol-ngobrol soal pendidikan. Dari sana akan muncul perlu tidaknya melakukan pengembangan kurikulum. Tetapi, yang lebih penting, karena ini banyak terkait dengan teknologi, pengembangan kurikulum sebenarnya ada di ruang praktikum,” kata Rinaldi menambahkan.
Bisa sampai pagi
Sebagai contoh, di ruang praktikum Teknik Elektro TU Darmstadt terdapat sejumlah mahasiswa sedang mengerjakan tugas akhir yang menjadi bagian ”pesanan” dunia industri. Tugas-tugas akhir itu antara lain mesin listrik dengan putaran 40.000 RPM, tetapi tidak memakai lager. Sistem yang digunakan adalah menggunakan magnet, seperti kereta magnet. Jadi, benda yang berputar itu ”diangkat” dan berputar karena gaya tarik magnet. Penelitian ini bisa menjadi bagian utama generator atau motor, tergantung di mana akan dioperasikan. Selain itu, karena gesekannya minimal, hal itu diharapkan akan menambahkan keawetan.
Ada pula mahasiswa yang sedang meneliti direct pump. Selama ini umum diketahui, mesin pompa selalu ada di luar dengan dua saluran: satu untuk menyedot dan satu lagi untuk mendorong. Tetapi mesin yang diteliti itu nanti akan diletakkan di tengah-tengah pipa. Dan yang istimewa, daya isap serta daya dorongnya bisa ditingkatkan menjadi 50 meter sedot dan 50 meter dorong. Kerja ini melibatkan sejumlah lembaga, antara lain pembuat pipa dengan propeler, dan ada aktuatornya, serta bahan untuk kontrol dan lainnya.
”Kalau yang ini adalah karya anak dari RRC. Dia membuat brake atau rem by wire. Artinya tidak menggunakan kabel, tetapi memanfaatkan sensor. Proyek ini merupakan kerja sama dengan Bosch. Jadi, saat rem diinjak, ia akan mengeluarkan sinyal dan diterima untuk menggerakkan komponen lainnya. Masih banyak lagi. Atau mobil listrik ini. Tetapi, kalau sudah bekerja di laboratorium atau ruang praktikum ini, sering tidak ingat waktu. Apalagi kalau dikejar deadline, bisa bekerja sampai pagi,” kata Rinaldi Sabirin. (TON)