Sabtu, 04 Juli 2009
REDAKSI YTH

Kamis, 31 Juli 2008 | 00:35 WIB

Surat untuk Redaksi YTH hendaknya dilengkapi fotokopi KTP/SIM/Paspor yang masih berlaku. Kompas tidak mengembalikan surat-surat yang diterima.

***

Ibu Lansia Sakit, Telantar di Landasan Pesawat

Saya harus mengantar ibu yang sudah lansia dan sakit untuk berobat ke Jakarta. Tertarik promo Lion Air bahwa armadanya mempunyai 178 pesawat terbang terbaru Boeing 737-900 ER, saya memutuskan menggunakan Lion Air. Tanggal 3 Juli 2008 membeli tiket Lion Air jurusan Surabaya-Jakarta untuk penerbangan tanggal 8 Juli 2008 pukul 13.50 (JT 577).

Pada waktu check in diberi tahu ada keterlambatan lebih dari 60 menit, lalu ditawarkan untuk ganti penerbangan yang lebih cepat dan kemudian diberikan boarding pass (kursi 36 C/D/E/F dengan pesawat nomor IW8977). Karena ibu dalam keadaan sakit, saya minta disediakan kursi roda dan diantar staf Lion Air ke ruang tunggu Gerbang 4. Pada waktu lapor ulang, saya sangat terkejut ternyata dipindahkan ke penerbangan lain, yaitu Wing Air.

Kemudian diberikan kompensasi nasi bungkus dan ketika sedang makan datang petugas yang minta kursi roda yang sedang diduduki ibu dan diminta tanda tangan surat pernyataan untuk memakai kursi roda setibanya di Jakarta. Saat masuk pesawat mesti bersitegang dengan petugas karena tidak ada kursi roda, dan ternyata pesawatnya bukan pesawat baru seperti yang dijanjikan.

Ketika mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, kami harus menunggu kursi roda sampai penumpang semua turun dan pilot serta awak kabin yang baru datang lalu saya diusir dengan alasan pesawat akan terbang lagi. Kami disuruh turun menunggu di landasan pesawat di tengah terik sinar matahari dan mobil yang lalu lalang.

Sementara awak kabin dan petugas RAMP saling lempar tanggung jawab masalah kursi roda. Karena keadaan ibu yang lemah, saya tuntun berjalan cukup jauh, tanpa ada pertolongan dari petugas. Sampai saat ini ibu saya masih trauma dan saya kecewa dengan perlakuan Lion Air.
Paulus Luhur PTB Duren Sawit O3/2, Jakarta Timur


Buku Sekolah di SDN Bebani Orangtua

Tanggal 14 Juli 2008 adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Banyak pengeluaran uang bagi orangtua untuk keperluan sekolah. Bagi yang berkantong tebal pasti tidak masalah, tetapi bagi yang berkantong tipis tentu bikin sakit kepala. Walaupun begitu, jika ingin anak tetap sekolah tetap diusahakan seperti mengutang.

Sebagai yang berpenghasilan rendah dengan gaji UMP, saya sangat berharap pemerintah dapat meringankan beban pengeluaran untuk biaya sekolah dengan program BOS. Seperti yang saya baca di surat kabar bahwa program BOS adalah meliputi pembiayaan buku, sumbangan pembangunan, dan lain-lain. Benarkah? Dalam dua tahun ini saya harus membelikan buku cetak pelajaran untuk tiga anak saya, untuk satu anak harus mengeluarkan uang sekitar Rp 400.000 untuk membeli buku di sekolah. Sebenarnya adakah BOS masuk ke sekolah SDN Gunung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan?

Kalau SDN Gunung masuk dalam program BOS, kenapa orangtua murid harus membeli buku yang lumayan mahal buat ukuran saya yang berpenghasilan rendah? Pemerintah jangan hanya menghamburkan uang tapi tidak dikontrol, kalau di sekolah yang notabene tempat belajar sudah jadi tempat/ajang korupsi, anak didiknya mau jadi apa?

Buku pelajaran tahun lalu dengan buku pelajaran tahun ini sama, hanya halamannya di acak- acak dan dipindah-pindah.
Moch Abdullah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan


Kredibilitas Dirusak ABN AMRO

Pada Juni 2008 saya mengajukan kredit pemilikan rumah ke Bank BCA, kemudian sekitar dua minggu saya mendapat jawaban dari BCA bahwa permohonan KPR ditolak dengan alasan saya memiliki tunggakan kartu kredit dari Bank ABN AMRO dan nama saya ada dalam daftar hitam Bank Indonesia. Merasa tidak memiliki utang kartu kredit di ABN AMRO, saya jelaskan kepada BCA bahwa tagihan kartu kredit yang dimaksud adalah tagihan fiktif.

Tagihan itu akibat kartu kredit saya dijebol oleh oknum internal bank yang memegang dan mengetahui data saya secara pasti. Pada Oktober 2007 saya mendapat tagihan dari ABN AMRO untuk pinjaman transfer dana yang tidak pernah saya lakukan dan tidak pernah saya minta. Padahal, dari pertama saya terima kartu tersebut tidak pernah digunakan dan belum pernah diaktifkan. Bagaimana mungkin pihak ABN AMRO bisa mentransfer pinjaman dana tanpa permintaan dan verifikasi data dari saya?

Masalah ini sudah pernah saya laporkan ke call cnter/phone banking ABN AMRO, (diterima oleh Bapak Johny dengan nomor laporan: C 0002TI) dan dijanjikan akan ditindak lanjuti. Pada bulan berikutnya, November 2007, tagihan fiktif datang lagi, dan saya laporkan masalah ini ke phone banking ABN AMRO (diterima oleh Bapak Ade dengan nomor laporan: C 0004AB) yang menjelaskan bahwa masalah sedang diinvestigasi oleh ABN AMRO dan akan segera diselesaikan.

Namun, ternyata setelah sembilan bulan berjalan sejak laporan terakhir, pihak ABN AMRO tidak pernah menghubungi saya untuk menyelesaikan masalah, bahkan nama saya dimasukkan dalam daftar hitam Bank Indonesia oleh Bank ABN AMRO. Pihak ABN AMRO sengaja membiarkan masalah ini. Saya merasa nama baik saya sudah dirusak oleh ABN AMRO. Mohon agar bertanggung jawab memulihkan nama baik saya.
AGUS MUCHLIS Jalan Karbela Selatan Nomor 19, Setiabudi, Jakarta


Lelah Menggunakan Fastnet

Saya berlangganan Fastnet sejak Desember 2007 (nomor pelanggan: 224173 atas nama Diah Astarini). Seminggu pertama modem dan koneksi berjalan baik selama 24 jam. Khawatir dengan kondisi modem yang menyala 24 jam, modem dimatikan saat tidak digunakan. Sekitar minggu kedua modem tidak dapat tersambung (off line), saya telepon layanan konsumen di nomor 55777788. Dengan dipandu, prosedur restart modem dijalankan dan kemudian online kembali tanpa kehadiran teknisi.

Sejak saat itu sering didapati modem dalam kondisi offline. Setiap kali saya menghubungi layanan konsumen First Media dan mendapatkan prosedur restart yang sama, dan terkadang dengan embel-embel lain. Sebagian besar cara itu tidak dapat memperbaiki koneksi yang terputus sehingga kalimat ”Kami akan menghubungi bagian teknis untuk segera diperbaiki kualitas sinyalnya” selalu menjadi pamungkas untuk mengakhiri komplain. Beberapa kalimat lugu seperti: ”Modemnya sudah dinyalakan?” atau ”Di sini terlihat modem offline” sering dilontarkan.

Hal seperti itu hanya menghabiskan pulsa telepon dan mengulur waktu. Hingga saat ini ritual menelepon layanan konsumen First Media selalu dilakukan setiap kali hendak menggunakan internet. Jika memang harus demikian, apa bedanya dengan dial-up? Lelah menggunakan Fastnet.
WIRATMA SASONGKO Jalan Haji Nawi Buntu Nomor 12, Jakarta


Croisant di Cafe Oh La La

Sekitar tiga bulan lalu saat masih hamil, saya dan suami serta anak makan croisant isi cream keju dan beef salami di Cafe Oh La La di Ambasador Mal, Jakarta. Saya merasakan cream kejunya sudah agak asam seperti akan basi karena biasanya saya memakan croisant tidak seperti itu rasanya. Lalu, saya memberikannya kepada suami untuk mencobanya dan pendapatnya sama.

Namun, ketika saya tanyakan kepada para pelayan, mereka menyatakan memang rasanya seperti itu. Saya jelaskan biasanya rasa tidak seperti itu karena tidak ingin terjadi apa-apa terhadap kandungan saya. Sekitar minggu kedua bulan Juli 2008 saya dan suami kembali makan dan memesan croisant yang sama di Cafe Oh La La di Cibubur Junction. Tapi, karena agak trauma, saya menanyakan lebih dulu kepada pelayan, apakah cream kejunya terasa asam?

Saya menceritakan kejadian di Ambasador Mall. Saya mendapat penjelasan kalau croisant yang masih baru rasa cream kejunya tidak asam dan biasanya kalau yang sudah agak lama mulai asam.

Ternyata benar ketika saya mencicipi croisant tersebut tidak asam. Saya kecewa terhadap para pelayan di Cafe Oh La La Mall Ambasador yang mungkin tidak mau rugi mengganti dengan yang baru, padahal untuk nama sebesar dan terkenal Cafe Oh La La tidak boleh berbuat hal itu. Jika pengunjung memakan croisant, apakah bisa menjamin kalau tidak menimbulkan keracunan makanan?
Elvin Herlina Legenda Wisata H5/33, Bogor


Bentuk dan Luas Berubah

Menanggapi surat di Kompas (14/7) ”Rumah Permata Depok Regency” yang disampaikan oleh Bapak Bangun perlu disampaikan, untuk tanah yang letaknya berbatasan dengan tanah milik warga sekitarnya pada saat dilakukan pemecahan sertifikat setiap kavling dari sertifikat induk kadang berubah baik bentuk maupun luas kavling sebagaimana seperti kavling (Blok E5/10) yang telah dibeli Bapak Bangun di Permata Depok Regency.

Mengenai masalah perubahan bentuk kavling tersebut, kami pada 3 Juli 2008 telah bertemu dengan Bapak Bangun, sudah saling memahami dan diterima oleh yang bersangkutan sehingga kami anggap permasalahan sudah selesai.
MOHAMAD BAIHAQI Legal PT Citrakarsa Hansaprima, Depok


Pembayaran Kartu Kredit Bermasalah

Menanggapi surat yang ditulis Bapak Oka Putra Wirja di Kompas (16/7) ”Kartu ANZ Diblokir Sepihak”, bersama ini kami informasikan, pemblokiran atas kartu ANZ yang bersangkutan terjadi diakibatkan ada permasalahan dalam pembayaran tagihan selama enam bulan terakhir.

Informasi mengenai permasalahan dalam pembayaran tersebut telah kami sampaikan sejak awal baik melalui lembar penagihan bulanan atau telepon. Yang bersangkutan dapat mengajukan penggantian kartu baru apabila seluruh pembayaran tagihan sudah terpenuhi.

Penjelasan telah kami sampaikan secara langsung kepada Bapak Oka Putra Wirja dan dapat diterima.
MEYDI GUNAWAN Head Service Center ANZ Card Center

 
Tanggung Jawab Penerbangan

Menanggapi surat yang ditulis Ibu Caroline di Kompas (13/7) ”Gembok Koper Dirusak di Bandara Soekarno-Hatta”, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami.

Perlu disampaikan bahwa pelayanan terhadap bagasi penumpang di Bandara Soekarno-Hatta merupakan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing perusahaan penerbangan (airlines).

Namun, terkait dengan kejadian dimaksud, manajemen Kantor Cabang Utama Bandara Soekarno-Hatta telah membuat rekomendasi kepada perusahaan penerbangan agar pengawasan terhadap bagasi penumpang juga menjadi prioritas utama.
HARIYANTO Kepala Cabang Utama PT (Persero) Angkasa Pura II


Data Komputer Telah Sesuai

Sehubungan dengan surat nasabah atas nama Tatyana Pardiyanto yang disampaikan melalui Kompas (16/6) ”Tunai ATM BCA Bermasalah” perlu dijelaskan bahwa berdasarkan data yang ada pada komputer kami transaksi telah berjalan sesuai dengan permintaan Ibu Tatyana Pardiyanto.

Hal ini sesuai dengan yang telah kami sampaikan kepada Ibu Tatyana baik melalui surat tertanggal 28 April 2008 dan tertanggal 9 Juli 2008 maupun secara langsung pada tanggal 8 Juli 2008.
Dwi Narini Manager PT Bank Central Asia Tbk Sekretariat Perusahaan Biro Hubungan Masyarakat

 

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: