
Kamis, 31 Juli 2008 | 00:53 WIB
Jakarta, Kompas - Angka kejadian infeksi baru, infeksi lampau, dan infeksi berulang entamoeba hystolytica asimtomatik lebih tinggi pada anak usia sekolah dibanding anak usia prasekolah. Penyebabnya, antara lain, karena kebiasaan jajan.
”Satu penelitian menemukan, pada 97 persen penjaja makanan di pinggir jalan ditemukan satu atau lebih jenis parasit. E hystolytica ditemukan pada 72 persen penjaja, Ascaris lumbricoides ditemukan pada 54 persen penjaja,” kata Rini saat mempertahankan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor dalam Bidang Ilmu Kedokteran pada Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (29/7).
Disertasi Rini Sekartini berjudul ”Perbedaan Faktor Risiko Infeksi Entamoeba Hystolytica Asimtomatik pada Anak Usia Prasekolah dan Usia Sekolah Sebagai Dasar Tindakan Intervensi: Pemanfaatan Sistem Skoring dan Analisis Spasial Menggunakan Sistem Informasi Geografi”.
Rini dinyatakan berhak menyandang gelar doktor dengan yudisium cumlaude. Ia merupakan doktor ke-89 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2000-2008 dengan IPK 3,83 dan lulus sebelum tiga tahun masa studi.
Penelitian dilakukan pada April-Oktober 2007, mengikutsertakan 1.215 anak di kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur— terdiri dari 655 anak usia sekolah (6-12 tahun) dan 560 anak usia prasekolah (2-6 tahun).
Penyebab mortalitas
Survei Kesehatan Rumah Tangga mendapati penyebab mortalitas pada anak di Indonesia salah satunya adalah diare yang menempati urutan ketiga. Salah satu penyebab diare adalah infeksi parasit E hystolytica.
Transmisi terjadi melalui fekal-oral. Infeksi dapat terjadi bila tertelan kista matang dalam makanan, air, atau tangan yang terkontaminasi dengan tinja. Sumber penularan utama adanya infeksi kronik atau karier pada manusia. Salah satu cara untuk memutus rantai penularan adalah dengan usaha pencegahan.
Tujuan khusus dari penelitian, kata Rini, adalah membuat skoring untuk prediksi tingkat probabilitas terjadinya infeksi E hystolytica asimtomatik pada individu dengan model Sistem Informasi Geografi untuk menentukan tingkat kerawanan suatu wilayah/daerah pada terjadinya infeksi E hystolytica asimtomatik.
Penelitian ini sangat berguna. Data ini dapat menjadi dasar kebijakan pemerintah, khususnya pencegahan penyebaran infeksi amoeba dan menjadi dasar dalam kebijakan kesehatan anak secara nasional, baik oleh pemerintah maupun nonpemerintah dalam aspek promotif, preventif, dan kuratif pada infeksi E hystolytica asimtomatik. (LOK)