Rabu, 10 Februari 2010
Kesehatan Ibu dan Anak
Pemberian ASI Eksklusif Terus Menurun

Sabtu, 2 Agustus 2008 | 00:59 WIB

Jakarta, Kompas - Menurut Sensus Dasar Kesehatan Indonesia, pemberian air susu ibu eksklusif terus menurun. Pada tahun 1997 sebesar 42,4 persen, menurun menjadi 39,5 persen tahun 2003. Pemakaian susu botol justru meningkat dari 10,8 persen tahun 1997 menjadi 32,4 persen pada tahun 2003.

”Dua bulan pertama, sekitar 80 persen bayi baru lahir mendapat ASI eksklusif. Tetapi, ketika masuk usia tiga bulan, pemberian ASI eksklusif umumnya terputus,” kata dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi dari Satuan Tugas ASI Pengurus Besar Ikatan Dokter Anak Indonesia (PB IDAI), Jumat (1/8) di Jakarta.

Terhentinya pemberian ASI eksklusif terjadi pada ibu bekerja, terutama di perkotaan. Mereka kembali bekerja setelah cuti melahirkan—3 bulan.

Sebagian besar perempuan kesulitan menyusui bayinya maupun memerah ASI di tempat kerja. Selain padatnya aktivitas kerja, masih sedikit perusahaan yang menyediakan tempat khusus untuk menyusui bayi maupun memerah ASI. Padahal, jika tidak diperah secara teratur, produksi ASI akan terus turun.

Ketidaktahuan para ibu tentang manajemen laktasi, seperti cara memerah dan menyimpan ASI, turut menghambat proses menyusui. Banyak ibu tidak percaya diri produksi ASI-nya mencukupi sehingga memberi susu formula kepada bayinya.

Maih banyak ibu yang tidak mengerti soal laktasi. Menurut Partiwi peran rumah sakit amat penting. Rumah sakit seharusnya mengajarkan soal laktasi sejak pemeriksaan kehamilan hingga paska kelahiran.

Nutrisi terbaik

Untuk mendukung para ibu dapat memberi ASI eksklusif enam bulan, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyelenggarakan acara ”Menyusui Serentak Ibu Indonesia”, Sabtu (2/8) ini, pada acara puncak dalam rangka Pekan ASI Sedunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI pertama kali dilakukan satu jam setelah bayi lahir. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa tambahan makanan dan minuman, juga termasuk air putih. Menyusui juga seharusnya dilakukan sesuai keinginan bayi sesering mungkin dan diupayakan tidak menggunakan botol. (EVY)

 

 

 

Share on Facebook
Nilai 4.4 A A A
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
dian eka sari @ Kamis, 19 November 2009 | 10:56 WIB
wanita sesungguhnya telah menyia2kan apa yg sudah dianugerahkan Tuhan kepadanya dengan tdk mberikan ASI, hak mutlak anak. Go KOMPAS!keep support breastfeeding!
novita sitoresmi firman @ Senin, 9 November 2009 | 00:59 WIB
apa yg diungkapkan di artikel ini memang ssuai knyataan dlapangan,saat ini ksdran msyrkt u/mnyusui ASI Ekslusive sngt rndah..a.l dsbbkn ktdk tahuan msyrkt ttg ASI Ekslusive,biasanya ada ibu2 yg mnyusui dianggp tdk modern&keindahan;tbh..jg krn phk pnylnggara playanan mdis yg tdk up to date shgga bnyk by yg br lahir lsg dibr sufor dgn alasan bayi nya lapar.pdhl tdk dmkian,by thn max.2hr tdk mnm..jg krn pndpt2 orangtua 'baheula' yg brpndpt klo by ngs brarti lapar shgga dbrilah tmbhn sufor&mknan;lain nya..mgkn ada baiknya kalo sosialisasi ASI Ekslusive lbh di giatkan hgga ke pusat2 plynan kshtn trpencil..jg ada baiknya ASI ekslusive jg dmskn kdalm kurikulum pndidikan kshtn,baik dokter,prwt,bidan atw pun tnga kshtn yg lain nya.

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: