
Sabtu, 9 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Oleh Joice Tauris Santi
Ilmu ekonomi dapat dipakai di mana-mana, termasuk dalam bidang olahraga. Sebuah perusahaan akuntan publik PricewaterhouseCoopers atau PwC mengeluarkan perhitungan perkiraan perolehan medali pada Olimpiade Beijing 2008.
Menurut perhitungan PwC, China akan mendapatkan total 88 medali—gabungan dari medali emas, perak, dan perunggu. Ini menjadi peraihan paling banyak pada Olimpiade kali ini. Jumlah itu hanya berbeda tipis dari perolehan Amerika Serikat dengan 87 medali dan Rusia 79 medali.
Karena bukan total perhitungan medali emas, urutan tersebut tidak memprediksi peringkat kemenangan.
Ini merupakan ketiga kalinya akuntan publik PwC menerbitkan analisis mengenai perolehan medali di Olimpiade berdasarkan faktor kinerja masa lalu, ekonomi, dan rencana politik.
”Perhitungan ini tidak memprediksikan kinerja sebuah negara pada Olimpiade, tetapi lebih pada kinerja perekonomian negara,” jelas penulis laporan tersebut, John Hawksworth, ekonom bidang ekonomi makro di PwC.
Perhitungan ini berdasarkan beberapa besaran ekonomi penting yang signifikan secara statistik. Faktor-faktor itu adalah populasi, tingkat pendapatan rata-rata yang diukur dengan pendapatan domestik bruto per kapita pada nilai tukar paritas daya beli (purchasing power parity). Selain itu, dimasukkan pula faktor apakah negara itu dulunya merupakan bagian dari Blok Timur, faktor apakah negara itu merupakan tuan rumah, dan jumlah perolehan medali pada Olimpiade sebelumnya.
Dengan model perhitungan yang dibuat oleh PwC, 90 persen perolehan negara-negara dalam Olimpiade ditentukan oleh faktor ekonomi dan politik. ”Sedangkan 10 persen sisanya ditentukan oleh kegeniusan individual atau faktor-faktor yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah,” kata Hawksworth.
Untung menjadi tuan rumah
China diperkirakan unggul dalam Olimpiade kali ini karena beberapa faktor. Keuntungan sebagai tuan rumah, besarnya dukungan pemerintah kepada olahraga, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat akan membuat China berhadapan langsung dengan AS pada pe- rebutan medali di Olimpiade Beijing 2008.
Sementara itu, setelah dua dekade runtuhnya Tembok Berlin, banyak negara-negara bekas Eropa Timur diperkirakan juga akan menambah perolehan medali secara signifikan.
”Pada umumnya jumlah perolehan medali bertambah seiring dengan pertambahan populasi dan kekayaan ekonomi di sebuah negara,” ujar Hawksworth. ”Daud ada kalanya mengalahkan Goliath di arena Olimpiade walaupun negara adidaya, seperti AS, China, dan Rusia, terus menempati urutan teratas perolehan medali.”
Beberapa kesimpulan menarik diperoleh dalam laporan berdasarkan model PwC ini, antara lain sebagai negara tuan rumah dan negara dengan pertumbuhan ekonomi pesat sejak 2004, perkiraan perolehan medali China sebanyak 88 buah menurut PwC terlalu tinggi dibandingkan dengan perolehan medali aktual di Olimpiade Athena 2004 (63) atau Olimpiade Sydney 2000 (59).
Perhitungan model PwC memperkirakan, China akan mendapatkan medali sedikit di atas AS (berbeda satu medali) walaupun perbedaan ini masih dalam cakupan margin error dari model itu. Karena itu, perlombaan untuk mendapatkan tempat pertama sangat ketat jika berdasarkan analisis PwC.
Rusia diperkirakan akan terus mencetak kinerja yang baik seiring dengan besaran ekonominya yang juga terus membaik. Rusia menurut model PwC akan menempati urutan ketiga dengan 79 medali. Posisi Rusia ini berada di atas Jerman (43) dan Australia (41) yang dihitung berdasarkan kinerja masa sebelumnya. Walaupun demikian, ada kemungkinan ketiga negara itu berkinerja lebih baik dalam memperoleh medali karena telah memiliki tradisi Olimpiade yang kuat.
Beda China dan India
Perhitungan PwC ini juga memasukkan faktor populasi sebuah negara. China dan India, dua negara yang memiliki populasi terbesar di planet ini, memiliki prestasi di bidang olahraga yang sangat berbeda. China mendapatkan 63 medali pada Olimpiade Athena dan 59 medali di Sydney, sedangkan India hanya memperoleh satu di Olimpiade Sydney dan Athena.
Walaupun sama-sama berpenduduk padat, India kali ini diperkirakan hanya akan meraih enam medali saja. Pertanyaannya, mengapa bisa berbeda?
Penjelasan yang paling mendekati adalah (dengan mengecualikan cabang olahraga hoki) kecenderungan perencanaan olahraga di India lebih fokus pada kejuaraan-kejuaraan yang tidak terkait dengan Olimpiade. Mereka hanya memerhatikan kriket. Sebaliknya, China merupakan salah satu contoh negara yang memiliki perencanaan olahraga sangat efektif, bahkan dapat disandingkan dengan blok negara bekas Eropa Timur.
”Semua orang di India tergila-gila dengan kriket, tetapi tidak pada Olimpiade,” jelas Hawksworth.
Sementara itu, perhitungan model PwC juga menyebutkan bahwa negara-negara Eropa, seperti Prancis, Italia, dan Belanda, harus puas jika mereka dapat meraih medali sama seperti perolehan mereka di Athena. Tidak adanya kemajuan signifikan dalam perolehan medali di Beijing ini terkait dengan besaran ekonomi negara-negara tersebut dan kurangnya dukungan pemerintah atas olahraga.
Untuk Inggris, perhitungan ala PwC ini mengindikasikan mereka akan memperoleh hasil yang sama seperti di Sydney (28 medali), turun dari perolehan Athena sebanyak 30 medali.
Negara yang target modelnya sama atau mirip dengan Beijing adalah Ukraina, Rumania, Spanyol, Hongaria, Kanada, Bulgaria, Turki, dan Ceko.
Secara keseluruhan, model tersebut menghitung bahwa ada 30 negara yang mendapatkan 82 persen dari total medali yang diperebutkan di Olimpiade Beijing. Jumlah ini hampir sama dengan Olimpiade Sydney, tetapi turun tipis dari perhitungan di Olimpiade Athena.
Negara yang menunjukkan ada perkembangan ekonomi yang signifikan setelah Olimpiade Athena adalah Polandia, Brasil, Meksiko, dan Indonesia. Sangat menarik memerhatikan perolehan medali mereka di Beijing.
Dalam tabel PwC, Indonesia berada di urutan ke-29 dengan perolehan delapan medali, naik empat medali dari Olimpiade Athena. Benarkah ramalan ini? Kita lihat saja hasilnya.