
![]() |
|
|
KOMPAS/ILHAM KHOIRI / Kompas Images
Michi Tomioka dan Rieko Fujiwara, dua penari asal Jepang, membawakan tarian "Water Stone" dalam 6th Riau Contemporary Dance Mart 2008 di Pekanbaru, Riau, Kamis (7/8) malam. |
Oleh Ilham Khoiri
Pernahkah kita jenuh dengan rutinitas sehari-hari dan tersudut oleh gempuran berbagai informasi yang mengharu biru? Jika begitu, ada baiknya kita mencoba diam sejenak, mengambil jeda dari kenyataan yang riuh, lantas meresapi pergumulan batin diri sendiri.
Siapa tahu, dalam kediaman itu, kita bisa kembali meresapi getaran kemanusiaan yang selama ini kerap terabaikan.
Ajakan berkontemplasi begitu kental terasa saat menyaksikan 6>jmp -2008m<>h 8032m,0<>w 8032m<th>jmp 0m<>h 9736m,0<>w 9736m< Riau Contemporary Dance Mart 2008 alias Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) VI di Gedung Teater Anjung Seni Idrus Tintin Bandar Seni Raja Ali Haji Pekanbaru, Riau, 7-9 Agustus. Selama tiga hari, ada 18 penampil tari dari Nusantara dan mancanegara.
Pada malam pertama, Kamis (7/8) lalu, Pastakom menampilkan Ronnarong Khampha asal Thailand membawakan karyanya, Spirit in You; Michi Tomioka dan Rieko Fujiwara dari Jepang memainkan tari Water Stone; dan Empat penari asal Surakarta menyuguhkan Tanda karya Yashinta Desi Natalia.
Ada juga Jangan Marahi Mereka Jembalang karya Musrial Mustafa dari Bengkalis, Riau. Koreografer Malaysia, Bilqis Hijjas, mementaskan River Memory.
Pada dua malam berikutnya, bakal tampil para penari lain, seperti Sharmila Mukerjee dan Suman Sarawgi (India), Diah Kristin Ni Kadek/Jasmine Okubo (Bali/Jepang), S Trisapto (Jakarta), Tom Ibnur (Jambi), dan Iwan Irawan Permadi (Pekanbaru).
Kontemplasi
Bagaimana tarian bisa merangsang orang berkontemplasi? Meski menyuguhkan bermacam tema, setiap tarian pada dasarnya dibangun dari olah tubuh. Dan, olah tubuh berangkat dari olah rasa.
Ketika muncul sebagai pertunjukan yang matang di atas panggung, tarian menebarkan getaran rasa tadi. Para penonton digiring untuk menyelami sesuatu yang lebih spiritual daripada sekadar gerakan fisik. Pada tahap tertentu, bahkan penonton seperti digoda mengamati perilaku tubuh sendiri sebagai manifestasi gejolak batin.
Sebagian dari lima penampil pada malam pertama Pastakom cukup menyiratkan godaan itu.
Lewat tarian kuku jari Spirit in You, misalnya, Ronnarong mengulik spirit tubuh yang menopang harmoni diri. Ketika spirit hilang, ditandai dengan kuku yang bercopotan, tiba-tiba tabiat tubuh tak terkendali, bahkan mengamuk. Namun, saat kuku ditancapkan lagi pada ujung jari-jari, gerak tubuh kembali harmonis. ”Kita perlu berkonsentrasi untuk bersandar pada spirit diri. Jika tidak, perilaku bisa berantakan,” kata Ronnarong.
Tomioka dan Fujiwara membawa imajinasi penonton untuk menyadari dua kekuatan diri: kekacauan dan keteraturan, dua energi yang saling mengisi untuk menyelaraskan kehidupan manusia. Keteraturan dilambangkan lewat tarian patung Buddha bersemedi, sedangkan kekacauan lewat tari kontemporer yang agresif.
Suatu saat, satu penari hanya diam mirip patung atau bergeser lembut. Penari lain berjibaku ke sana-ke mari dengan kasarnya. Namun, pada titik tertentu, dua penari itu tiba-tiba menyatu dalam belitan kain putih. ”Keras- lembut bisa berlawanan, tetapi akhirnya juga menyatu. Itu ritme hidup manusia,” kata Tomioka.
Pada Tanda, koreografer Yashinta mengingatkan kita pada ego manusia. Tiga penari perempuan yang bergerak gemulai mewakili jiwa yang tenteram. Penari laki-laki berselendang yang berlompatan menggambarkan tabiat yang berangasan.
Meski sempat bersitegang, akhirnya tiga perempuan yang menyunggi kayu hio yang terus mengepulkan asap itu bisa menundukkan polah tingkah laki-laki yang serakah. Barangkali ini serupa dengan jiwa-jiwa lapang yang mengontrol nafsu.
Kosmopolitan
Para penari dalam Pastakom menyajikan beragam kosagerak dari berbagai wilayah. Tarian tradisional disandingkan begitu saja dengan yang kontemporer. Khazanah dari Nusantara bisa mudah bersapaan dengan kekayaan budaya dari mancanegara.
Koreografer Tomioka mengadaptasi tari Jawa klasik. Walau bermula dari tari tradisional Von Lip (tari kuku) asal Thailand utara, karya Ronnarong mengingatkan kelincahan memainkan jari tari Bali. Yashinta meramu tari Jawa tradisi dengan musik Makassar, sedangkan tarian gadis-gadis seksi asal Malaysia terang-terangan mengeksplorasi keindahan balet.
”Dalam pergumulan budaya sekarang, tari semakin melintasi batas geografis. Semuanya bisa saling berbagi karena sama-sama bermula dari pengalaman mengolah pergulatan tubuh,” kata Nungki Kusumastuti, dosen tari Institut Kesenian Jakarta.
Pengamat budaya dari Universitas Riau, Yusmar Yusuf, menilai, keragaman tari itulah yang membuat Pastakom jadi penting. Keragaman mencerminkan keterbukaan pada semua khazanah budaya di dunia. Inilah spirit kosmopolitan, semangat menerima pengaruh dari sana-sini secara arif.
Kosmopolitanisme relevan untuk mencairkan politik identitas Melayu yang kerap diterjemahkan sebagai strategi pemencilan diri yang ahistoris. Lebih dari itu, spirit ini juga bisa mendobrak merebaknya gejala puritanisme belakangan ini, yang hendak mengajak bangsa ini mundur ke belakang.
Bagi Direktur Pastakom VI Iwan Irawan Permadi, kegiatan yang didanai sekitar Rp 300 juta dari APBD Provinsi Riau ini juga untuk meleburkan hubungan pusat-daerah yang selama ini terlalu berorientasi Jakarta.