
Minggu, 10 Agustus 2008 | 01:43 WIB
Sejak lama orang dapat merasakan energi bidang kreatif yang membuat Bandung berbeda dari banyak kota lain di Indonesia, bahkan Jakarta.
Musik indi, gaya berpakaian yang dimunculkan distro alias distribution outlet, atau makanan hanyalah beberapa contoh produk Bandung yang membuat kota itu unik.
Sosiolog dari Universitas Padjadjaran Bandung, Budi Rajab, mengamati, kreativitas anak muda Bandung sudah muncul sejak tahun 1970-an dalam bentuk kelompok musik atau mode busana sendiri. Tetapi, kreativitas itu masih sebatas aktualisasi diri, belum menjadi sebuah bisnis.
Munculnya kreativitas itu, menurut Budi, antara lain karena Bandung tidak memiliki akar budaya tradisional sekuat kota-kota lain. Dengan demikian, orang Bandung lebih terbuka dalam menerima ide-ide dari luar dan lebih egaliter. Ini berbeda dari Solo atau Yogyakarta yang akar budaya Jawanya sangat kuat.
”Kalaupun ada kultur yang dominan, yaitu Sunda, itu hanya terbatas pada bahasa,” papar Budi.
Penasihat Bandung Creative City Forum, Wawan Juanda, menarik sejarah Bandung hingga ke masa abad ke-13. Setelah Kerajaan Padjadjaran tidak ada lagi kerajaan di Jawa Barat dan tidak ada peninggalan sejarah, itu menjadikan Bandung kota yang tidak mempunyai akar budaya terlalu kuat.
Selain itu, menurut Budi, Bandung adalah kota yang dibangun Belanda sebagai kota pendidikan sehingga mengundang pelajar dari berbagai daerah ke kota itu. Selain menjadikan Bandung kota plural, kedatangan pelajar itu membuat warga yang berada pada usia produktif pun tinggi jumlahnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil. Belanda sengaja menjadikan Bandung sebagai kota waktu luang dan gaya hidup yang terkenal dengan Jalan Braga dan sebutan Parisj van Java. Hal ini membuat sejak tahun 1920-an sudah terjadi pertukaran ide dan nilai-nilai budaya dengan pihak luar. ”Bandung sejak dulu sudah kosmopolitan,” papar Ridwan.
Keterbukaan dan pluralisme itu, menurut Ridwan, merupakan salah satu syarat tumbuhnya ekonomi kreatif.
Kota menengah
Faktor lain yang menjadikan ekonomi kreatif tumbuh subur di Bandung adalah karena ukuran kotanya tergolong menengah. Dengan mengutip ahli kota kreatif asal Inggris, Charles Landry, Ridwan menyebut keuntungan sebagai kota menengah (secondary city).
Ukuran radius kota dan populasinya lebih mudah dikelola dan sebagai kota menengah lebih mudah menonjolkan keunggulan yang ada di kota. ”Ini berbeda dibandingkan dengan Jakarta yang ukurannya besar,” kata Ridwan.
Populasi orang usia muda di bawah 40 tahun di Bandung tinggi, sekitar 60 persen. Keadaan ini memungkinkan terjadinya diskusi dan pertukaran ide secara intensif dengan lokasi di kafe, warung, atau tempat nongkrong lain.
Faktor lain adalah banyaknya perguruan tinggi di kota itu sehingga melahirkan banyak anak muda terdidik. Syarat tumbuhnya industri atau ekonomi kreatif adalah talenta yang dimiliki warganya sehingga mereka dapat menangkap peluang serta mengakses dan memanfaatkan teknologi.
”Sistem sosial yang toleran terhadap ide dan nilai baru sangat penting untuk industri kreatif. Ini yang memungkinkan musik underground terus berkembang di Bandung,” tambah Ridwan.
Keberagaman itu pula yang menyebabkan industri dan ekonomi kreatif yang berkembang di Bandung berbeda dari Bali, Solo, dan Yogyakarta. (NMP/IVV)