
Minggu, 10 Agustus 2008 | 01:43 WIB
Ninuk M Pambudy & Susi Ivvaty
Ratusan remaja bertahan mengelilingi arena yang dibuat seadanya di bawah naungan pepohonan besar di tepi lapangan Gasibu, Bandung, Minggu siang lalu hingga menjelang matahari tergelincir. Di tengah arena beberapa sarana atraksi ”skateboard” menunggu digunakan.
Sekitar pukul 15.00 beberapa anak mulai beraksi dengan papan skate mereka. Seorang pembawa acara menyemangati sambil memberi komentar kekurangan dan kelebihan pemain-pemain itu.
Atraksi tersebut menjadi bagian dari KICKFest yang tahun ini berbarengan dengan HelarFest. KICK atau Kreative Independent Clothing Kommunity, berlangsung 1-3 Agustus lalu di Gasibu, diikuti 160 perusahaan pakaian (clothing) dari 14 kota.
Pengunjung seolah tak peduli terik matahari yang membuat tubuh seakan meleleh, silih berganti mengerumuni tenda-tenda di tengah lapangan. Alhasil, nilai transaksi total Rp 16 miliar.
Pencapaian tersebut tidak main-main dalam situasi ekonomi saat ini. Tawaran utama adalah kemeja T. Dalam jumlah lebih kecil, juga ada tas, berjenis dompet, sepatu, topi, ikat pinggang, hingga kaos kaki.
Di antara industri kreatif Bandung, industri clothing sudah berkembang dengan pembangkitan ekonomi signifikan. Mereka memasarkan sendiri produk itu melalui distro, singkatan dari distribution outlet, dan membanggakan diri sebagai pengusaha yang mampu membangun merek sendiri.
Menurut Ketua KICK yang mewadahi komunitas dan industri clothing Bandung, Tubagus Fiki Chikara Satari (32), di Bandung terdapat 400 perusahaan dengan omzet Rp 25 miliar per bulan, 30 perusahaan di antaranya bergabung dalam KICK. Kini organisasi ini juga membentuk semacam cabang di enam kota: Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Lampung, dan Makassar, dengan anggota 100 perusahaan.
Komunitas
Industri clothing, menurut Fiki, bermula pada tahun 1996-1997, meskipun ada juga yang mulai dari 1994, sebagai respons atas kebutuhan komunitas band, skateboard, punk, anak nongkrong, dan komunitas lain untuk memperlihatkan identitas. ”Dari awal bukan ingin bisnisan,” kata Fiki.
Industri ini tumbuh dan menumbuhkan komunitas. Usaha Fiki dan dua temannya, Helvi dan Colay, dengan nama Airplane Systm Clothing tumbuh dari komunitas band. Awalnya Helvi Sjarifuddin (36) sendirian mendirikan Reverse tahun 1994 untuk memenuhi kebutuhan stiker dan poster untuk anak-anak band, antara lain Pas Band. Dari situ muncul kebutuhan kaos T. Tahun 1997 Reverse berhenti berproduksi karena krismon dan setahun berikutnya berdiri Airplane Systm Clothing.
Atraksi papan luncur di acara KICKFest di Gasibu juga bagian dari membangun komunitas. Begitu juga pertunjukan band indi mulai Minggu sore. ”Airplane meng-endorse sejumlah band indi,” kata Fiki.
”Sebagian dari pemain skateboard itu komunitas saya,” kata Febby Arhemsyah (28), pemilik Twoclothes Skateboard Wear Industries, yang tadinya juga pemain skateboard.
”Waktu krismon 1998, saya enggak bisa beli tas backpack impor khusus untuk skateboard. Harganya jadi mahal sekali. Padahal, anak Bandung terkenal senang tampil beda, enggak mau disamakan dengan orang lain. Kebetulan saya punya teman tukang jahit di perusahaan tas. Saya minta dibikinkan tas dari sisa bahan. Ternyata enam tas yang saya bikin laku. Dari situ saya berdua teman bikin usaha ini, makanya namanya Twoclothes,” kata sarjana ekonomi Universitas Padjadjaran itu.
Sebagai orang yang tumbuh di komunitas, Febby sangat sadar harus ikut memelihara dan membesarkan komunitas skateboard yang menjadi pasarnya. Strategi ini bukan khas Bandung sebetulnya sebab industri pakaian dari luar negeri untuk kelompok khusus, seperti peselancar dan pemain skateboard, melakukan hal sama.
”Perusahaan clothing skateboard luar negeri menggaji beberapa pemain untuk demonstrasi. Saya menggaji dua atlet. Gaji mereka biasanya Rp 500.000- Rp 700.000 per bulan ditambah gratis produk,” papar Febby.
Dia juga membuat acara skateboard. ”Acara seperti ini jarang dan fasilitas terbatas di ruang publik. Kalau saya bikin acara, daftar tunggu yang mau ikut demo panjang. Padahal, peserta hanya bisa 100 orang,” tambah Febby. ”Belum bisa rutin, masih butuh sponsor dan tergantung keuangan perusahaan, ha-ha....”
Pengalaman Dicky Sukmana (28) tak jauh berbeda. Invictus yang didirikan Dicky tahun 2003 menyasar kelompok yang lebih umum, di atas usia a-be-ge tetapi masih merasa muda.
”Orang urbanlah, yang kuliahan dan kantoran,” kata sarjana arsitektur Universitas Parahyangan.
Invictus lalu mengamati kebutuhan mereka yang ternyata suka gadget. Maka, selain kaos T, juga lahir tas untuk laptop, dompet yang macam-macam fungsinya, selain topi, ikat pinggang, gantungan kunci, kaos kaki, pokoknya lengkap dari kepala hingga ke kaki.
”Branding”
Industri clothing tumbuh dari pergaulan anak muda di kafe, warung, atau tempat nongkrong lain. ”Dari ngobrol-ngobrol itu muncul keinginan bikin grup band, bikin clothing,” kata Febby.
Industri ini juga tumbuh sebagai ”perlawanan” terhadap dominasi modal besar. ”Musik indi tumbuh karena mereka susah sekali menembus major label, akhirnya bikin sendiri. Begitu juga distro. Karena susah masuk mal, enggak punya modal, kenapa enggak bikin tempat sendiri,” jelas Dicky. ”Industri kreatif, kere tapi aktif. Berangkat dari keterbatasan.”
Kehadiran KICKFest, menurut Fiki, utamanya untuk branding komunitas. ”Jangan sampai tiba-tiba ada pengusaha kaya bikin distro dan promosinya pakai billboard besar di jalan-jalan. Wah, bisa mati usaha clothing yang mulai dari rumahan. Makanya komunitas harus kuat,” kata Fiki.
Membangun merek juga dilakukan pengusaha. Febby menyebut, membajak desain orang lain sebagai masalah dalam pengembangan industri ini, walaupun ketika membuat enam tas pada awal produksi dia mengaku menyontek desain tas impor.
”Itu dulu, sekarang bikin sendiri,” kata Febby yang memulai usaha dengan modal Rp 500.000 dan kini punya 10 pegawai tetap. Orisinalitas desain menjadi penting. ”Komunitas akan loyal pada merek,” tambah Febby.
Dicky bercita-cita meluaskan Invictus dan majalah khusus produk distronya, Suave, ke tingkat nasional dan Asia. Produknya sudah dijual rutin di Singapura, Brunei Darussalam, dan Kuala Lumpur. Pembeli online datang dari Toronto (Kanada) dan Perancis, meskipun belum rutin.
Dia tidak takut usahanya menjadi besar dan massal. ”Saya tetap akan memenuhi kebutuhan gaya hidup mereka dengan desain yang cepat berganti dan produksi tiap jenisnya terbatas,” kata Dicky.