Sabtu, 04 Juli 2009
REDAKSI YTH

Rabu, 13 Agustus 2008 | 01:04 WIB

Etika Dagang Mundur, Konsumen Dirugikan

Kemunduran sikap moral bangsa kita sekarang ini dapat dirasakan bukan saja mengenai budaya tertib dan santun dalam pergaulan kehidupan bermasyarakat, tetapi juga dirasakan dalam etika berdagang. Takaran, timbangan, dan meteran sudah tidak lagi dihiraukan sebagai alat ukur perdagangan yang sah.

Baik ukuran panjang, berat, maupun kubikasi telah seenaknya dipermainkan dan digunakan untuk membodohi masyarakat, kalau tidak dapat dikatakan menipu masyarakat banyak yang semakin tidak memiliki kemampuan untuk berbuat apa-apa. Sejauh mana masyarakat memiliki perlindungan sebagai konsumen? Dalam kehidupan sekarang ini banyak dijumpai baik pedagang kecil, menengah, maupun industri-industri besar mengurangi takaran/ukuran yang normal dengan leluasa tanpa ada tindakan dari pihak yang berwenang.

Ukuran liter, kilogram, meter tidak lagi digunakan secara benar. Satu liter bensin yang dijual di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU), misalnya, kenyataannya tidak lagi satu liter, ukuran kayu 6 x 15 x 400 cm tidak lagi sesuai dengan fakta. Dan, yang paling kacau adalah ukuran besi tidak lagi sesuai dengan label yang dicantumkan, seperti ukuran besi 88 mm, 10 mm, 12 mm tidak lagi sesuai sesuai ukuran sebenarnya. Yang dikatakan besi 14 mm kenyataannya hanya 12 mm lebih, besi 16 mm hanya 14 mm, dan seterusnya. Anehnya label ini dikeluarkan secara resmi oleh pabrik.

Apakah hal-hal seperti ini bukan merupakan penipuan terhadap masyarakat? Bagaimana peran standardisasi nasional industri kita dan pemerintah? Apakah perdagangan kita tidak lagi mengenal etika? Bukankah mengurangi takaran adalah pelanggaran hukum? Mudah-mudahan dapat menggugah mereka yang terkait dan memiliki kompetensi serta kewenangan untuk dapat meluruskan cara-cara berdagang di negeri ini.

Djuhari Karnawisastra Jalan Otista RT 03 RW 07, Kuningan, Jawa Barat

Perumahan Tatya Asri Sentul

Selaku pembeli unit rumah di Perumahan Tatya Asri Sentul, Bogor, saya merasa dirugikan oleh pihak Megapolitan Development selaku pengembang perumahan itu. Karena dari akad kredit Februari 2007 sampai Juli 2008 rumah belum juga selesai, padahal seperti yang dijanjikan pengembang yaitu akan selesai sembilan bulan setelah akad kredit dilakukan, yaitu bulan November 2007.

Kekecewaan saya yang lain adalah kamar mandi tidak dibuat sesuai dengan denah yang ada di PPJB dan disepakati bersama dengan pengembang sebelum rumah didirikan. Saya telah mengajukan komplain tertulis dan diterima oleh Marketing Support (Ibu Siti), namun sampai sekarang belum ada jawaban dari pihak pengembang selaku pihak yang bertanggung jawab.

Akhirnya sampai sekarang saya tidak bisa menempati rumah sesuai dengan yang dijanjikan oleh pengembang. Bagaimana tanggung jawab Megapolitan Development selaku pengembang? Bukankah rumah atau papan adalah kebutuhan yang paling pokok selain sandang dan pangan?

Magdalena Bangun Jalan Pala V, Pamulang, Tangerang

KPR Mandiri dan Bank Danamon

Saya mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) di Bank Mandiri Surabaya dan semua persyaratan, termasuk uang muka rumah yang akan dibeli sudah saya lunasi. Begitu juga dengan surat-surat kelengkapan lainnya. Jadi tinggal menunggu realisasi. Tiba-tiba pada tanggal 28 Juli 2008 pihak Bank Mandiri lewat Ibu Titin menghubungi dan mengabarkan bahwa KPR ditolak dengan alasan nama saya masuk dalam daftar hitam di Bank Indonesia oleh Bank Danamon.

Padahal, saya tidak pernah berhubungan dengan Bank Danamon, baik mempunyai rekening maupun sampai punya kredit, tetapi mengapa nama saya dimasukkan dalam daftar hitam kredit bermasalah di Bank Indonesia? Saya sudah menanyakan ke layanan nasabah Bank Danamon dan disuruh menghubungi bagian collection. Menurut keterangan dari penagihan utang Bank Danamon (Saudara Rachmat), saya tidak ada masalah apa-apa.

Tindakan Bank Danamon yang memasukkan nama saya dalam daftar hitam di Bank Indonesia tanpa alasan yang jelas tentu sangat merugikan saya karena KPR saya dibatalkan hanya karena masalah ini. Padahal, prosesnya tinggal menunggu realisasi saja. Tindakan Bank Danamon telah merugikan saya karena pembatalan KPR dan pencemaran nama baik.

Ahsan A Husain Jalan Tebet Utara IV A Nomor 18, Jakarta

Kehilangan di Restoran Hokben

Kejadiannya saya alami pada hari Sabtu 26 Juli 2008 pukul 16:56 (bill nomor 70101.382. 376). Saya dan teman makan di Hoka-Hoka Bento (Hokben) Bintaro Plaza, Tangerang, yang mengambil posisi meja makan berbatasan dengan dinding kaca tinggi. Duduk berhadapan dengan teman dan meletakkan tas berisi dompet, uang, kartu ATM, dua telepon seluler, kunci motor, dan STNK serta belanjaan di kursi saya yang berbatasan dengan dinding kaca.

Setelah 15-20 menit makan saya hendak mengambil tas tetapi ternyata sudah tidak ada dan saya coba cari di bawah kursi/meja ternyata tidak ada juga. Padahal, selama makan saya dan teman tidak meninggalkan meja. Setelah yakin tas tidak ada, saya bertanya kepada manajer yang bertugas hari itu, dan manajer yang bertugas hari itu (Saudari Elisabet) dan petugas keamanan Hokben malah balik bertanya, apakah saya tidak membaca stiker imbauan agar berhati-hati?

Pihak Hokben menyarankan untuk lapor ke Posko Keamanan gedung. Saya bergegas ke area parkir untuk melakukan pemblokiran kartu ATM dan mengecek sepeda motor saya serta lapor ke bagian keamanan parkir agar mengamankan sepeda motor karena kunci serta STNK ada di dalam tas yang hilang. Saya sangat menyayangkan kejadian ini bisa terjadi dan ternyata kejahatan saat ini tidak hanya terjadi di jalan raya, tetapi juga di dalam restoran.

Dwi Astuti Lebak Sari RT 001 RW 008, Kebayoran Lama, Jakarta

Pascasarjana di Esa Unggul

Saya ingin membagi pengalaman dengan yang berniat melanjutkan pascasarjana agar pengorbanan waktu, biaya, dan pikiran tidak sia-sia seperti yang saya alami. Saya tidak bermaksud untuk mendiskreditkan Universitas Esa Unggul, tetapi untuk menggali fakta di balik ketidaklulusan 300-an mahasiswa, paling tidak dari sudut pandang mahasiswa.

Saya masuk MM Esa Unggul karena letaknya dekat dengan rumah dan kuliah hari Sabtu. Ternyata saya tidak tahu bahwa mudah masuk tidak bisa keluar. Masuk silakan tetapi pindah/lulus nanti dulu. Tes TPA & TOEFL dilakukan setelah perkuliahan berjalan sehingga bisa dikatakan tidak ada seleksi. Saya mendapat jatah buku fotokopi hardcover tanpa hak cipta yang dilakukan sebuah institusi pendidikan yang seharusnya memberi contoh yang baik. Pendidikan akademis dapat dilalui dengan mudah sehingga cukup menjanjikan bisa lulus tepat waktu.

Karena ada biaya tambahan jika lewat waktu yang tidak diinformasikan sejak awal sehingga terlambat satu semester Rp 1.850.000, dua semester tambah Rp 2.200.000, tiga semester tambah Rp 4.400.000, dan seterusnya. Memasuki penulisan tesis, seminar proposal penelitian pun bisa dilakukan berkali-kali jika tidak sesuai selera penguji. Lalu apa gunanya dosen pembimbing yang sudah menyetujui proposal penelitian dilakukan?

Tidak mengherankan tingkat kelulusan hanya 50 persen dan sisanya jadi residu (mahasiswa abadi). Modal semangat dan ketekunan saja tidak cukup untuk lulus di Esa Unggul, tetapi perlu lebih banyak keberuntungan dan kesabaran waktu, biaya, serta pikiran. Sebaiknya Esa Unggul tidak hanya mengejar-ngejar kewajiban mahasiswa dan mempersulit mahasiswa mendapatkan hak untuk lulus.

Markus Ari Hadi Jalan Tanjung Duren Dalam VII, Jakarta Barat

Daging Ayam Mentah di Solaria

Saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan ketika makan malam di Solaria Cabang Bogor Botani Square, Bogor (30/7).

Saya memesan Chicken Cordon dan makan tanpa rasa curiga. Namun, setelah saya makan, setengah dari sajian itu masih mentah, daging ayamnya masih mengeluarkan darah.

Saya tanyakan kepada pelayan, tetapi malah berpura-pura tidak mengetahui. Ketika saya minta berbicara dengan manajemen, yang datang seorang kasir dan menyatakan bahwa tidak ada manajer yang bertugas. Apakah restoran sebesar Solaria hanya dikelola oleh seorang kasir? Apakah wajar bila tanggung jawab mengelola sebuah restoran diberikan kepada seorang kasir?

Teliti lebih dahulu makanan sebelum memakannya karena siapa tahu makanan yang diberikan adalah makanan mentah. Tidak mustahil makanan mentah banyak bakteri yang terdapat di dalamnya. Saya trauma makan di restoran tersebut. Ternyata makanan yang dibeli di restoran bagus belum tentu memberikan kepuasan.

Ronald Norman Jalan Sempur Kaler Blok 12/17, Bogor

Layanan Purnajual Dijamin

Sehubungan dengan surat Bapak Soentoro Djayaputera di Kompas (5/8) ”Sepeda Motor Listrik E-moto” perlu disampaikan, kami dari pihak after sales service perusahaan PT Honoris Industry (Modern Group) sudah menangani keluhan konsumen dengan baik dan hasilnya dapat diterima oleh yang bersangkutan.

Lamanya penanganan sebelumnya disebabkan ada miskomunikasi pada tempat penjualan tempat produk tersebut dibeli dan hal ini sudah diatasi oleh pihak perusahaan. Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami.

Produk sepeda motor listrik E-moto dijamin layanan purnajualnya langsung dari pihak perusahaan PT Honoris Industry, Modern Group.

Titus Handoko PT Honoris Industry, Modern Group, Jakarta

Pengembalian Biaya Percakapan

Terkait surat di Kompas (7/7) ”Pulsa Matrix di Luar Negeri” yang disampaikan oleh Bapak Surya Wijaya, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan terkait masalah biaya percakapan dari luar negeri melalui Matrix ke nomor telepon kantor di Jakarta.

Tim kami telah menindaklanjuti dengan menghubungi Bapak Surya Wijaya dan menjelaskan permasalahan biaya percakapan yang muncul saat di luar negeri. Sudah dilakukan proses pengembalian biaya dimaksud ke kartu kredit pelanggan sesuai prosedur yang berlaku. Bapak Surya Wijaya dapat memahami penjelasan dari kami.

Adita Irawati Division Head Public Relations Indosat

Share on Facebook
Nilai 6 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: