
Kamis, 21 Agustus 2008 | 18:33 WIB
SOLO, KOMPAS - Seni tradisi Jawa ternyata memiliki kemiripan dengan seni tradisi Jepang, terutama dalam hal jiwa seninya. Atas dasar ini, Pasar Mangetsu Kaigan yang merupakan organisasi kultural yang berbasis di wilayah Shimane, Jepang, bekerja sama dengan Mataya Arts & Heritage Solo, menggelar program "Shimane-Indonesia Exchange of Traditional Arts" tanggal 2-8 September 2008 mendatang.
Rencananya, dalam program ini Mataya Arts & Heritage Solo akan mengirimkan sejumlah pekerja seni untuk berangkat ke Jepang, yakni Heru Prasetya, Agung Priyo Wibowo, Bambang Suryono, Fajar Satriadi, dan Dani Iswardana Wibowo.
Kepada pers, Rabu (20/8), Koordinator Program Shimane-Indonesia Exchange of Traditional Arts, Michi Tomiaka menyatakan, kehadiran Mataya Arts & Heritage Solo di Shimane membawa sejumlah misi. Misi riset
Misi pertama, untuk meriset manajemen seni Pasar Mangetsu Kaigan dan Sanggar "Okazaki Syachu" yang merupakan sanggar bersejarah 300 tahun dan paling lama di Shimane. Sanggar ini menjalankan seni teater tradisi Jepang yang dikenal dengan sebutan "Kagura". Kegiatan riset ini akan dilakukan Heru Prasetya dan Agung PW.
Misi lainnya adalah pentas di Kozu-Jinjatempat ibadah agama Shintodi Osaka pada tanggal 2 September 2008, yang akan dibawakan penari Fajar Satria dan Bambang Suryono, serta Michi Tomioka.
Selain itu, Fajar dan Bambang juga akan memberikan lokakarya tari klasik Jawa, dan pentas kolaborasi dengan seni tradisi Kagura dari Sanggar Okazaki Syachu tanggal 4-7 September 2008. Pentas kolaborasi ini lewat lakon "Yamata no Orochi" yang berarti naga berkepala delapan.
Pelukis wayang beber, Dani Iswardana, juga akan memberikan lokakarya, pameran, dan pentas wayang beber di Pasar Mangetsu Kaigan.
"Seni tradisi di Shimane memiliki kemiripan dengan seni tradisi Jawa. Bulan Juni lalu, saya mencoba tampil berkolaborasi dengan mereka lewat tarian Jawa, ternyata mereka menyadari kalau seni tradisi Jawa dan Shimane ada kemiripan," ujar Michi, yang juga penari, koreografer, dan peneliti tari Jawa yang tinggal di Solo sekitar 10 tahun lebih. Manajemen seni
Michi berharap, dengan adanya program pertukaran seni tradisi ini, pekerja seni dari Mataya Arts & Heritage Solo bisa mempelajari tentang manajemen seni tradisi di Shimane.
"Program ini sangat menarik karena kita ingin melihat lebih jauh bagaimana Shimane memelihara kesenian tradisi yang memang luar biasa. Saya pikir persoalan di Solo hampir sama. Karena itu, kami ingin melihat seperti managemen seni tradisi di sana," ujar Ketua Umum Mataya Arts & Heritage, Heru Prasetya.
Menurut Michi, Shimane adalah salah satu daerah di sebelah utara Osaka. Daerah ini merupakan tempat lahirnya teknologi yang paling canggih pada zaman kuno. Banyak gong kuningan dan senjata besi ditemukan di makam raja di daerah ini. Nenek moyang kerajaan Shimane tidak kalah dengan kerajaan kekaisaran Jepang. (SON)