Sabtu, 04 Juli 2009
Elpiji 3 Kg Mulai Menghilang

Jumat, 29 Agustus 2008 | 00:59 WIB

Jakarta, Kompas - Elpiji dalam tabung kemasan 3 kilogram di Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Serang sejak Kamis (28/8) mulai menghilang dari pasar. Hal itu terjadi karena permintaan terus melonjak, sementara pasokan terbatas. Konsumen dari kalangan rumah tangga kini kebingungan mencari elpiji, terutama kemasan 3 kg.

Konsumen tak hanya kesulitan mencari elpiji yang disubsidi pemerintah itu, tetapi juga harus menghadapi kenaikan harga elpiji ukuran 3 kg. Di Bekasi dari harga Rp 13.500 per tabung, kini naik Rp 5.00-Rp 1.000 per tabung.

Di Karang Tengah, Kota Tangerang, harga elpiji kemasan 3 kg kemarin Rp 16.000-Rp 17.000. Di Pondok Pucung, Karang Tengah, Kota Tangerang, harga elpiji 3 kg Rp 16.500 per tabung.

Keadaan yang sama terjadi pada elpiji kemasan 12 kg. Fathir, pemilik pangkalan elpiji di Pondok Pucung, mengakui menjual elpiji ukuran 12 kg Rp 75.000. Adapun harga yang ditetapkan Pertamina Rp 69.000

Kelangkaan elpiji, baik kemasan 3 kg maupun 12 kg, terjadi antara lain di Srengseng (Jakarta Barat) dan Karang Tengah (Tangerang).

Fathir mengakui dagangan elpiji kemasan 3 kg sebanyak 400 tabung sudah ludes pada pukul 12.00. Syarief (23), pemilik subagen elpiji di Tebet, Jakarta Selatan, mengatakan, hingga kemarin permintaan akan elpiji masih tak seimbang dengan persediaan. ”Banyak yang cari, tapi barang terbatas?” tanyanya.

Di Serang, Banten, agen elpiji PT Sinar Andaru yang memasok ke ratusan gerai elpiji di Banten mencatat permintaan elpiji dalam dua hari terakhir naik.

Jika biasanya sehari hanya mengisi ulang 240 tabung, kemarin mencapai 480 tabung. Pengurus Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Bekasi Syahrizal Siregar juga mengakui terjadi lonjakan permintaan elpiji isi 3 kg, tetapi ia belum menghitung angka lonjakan secara persis.

Membantah

Berkait pemberitaan di Kompas mengenai sekitar 450.000 paket kompor dan gas untuk warga Tangerang, Serang, dan Cilegon yang belum disalurkan, Direktur Utama Perusahaan Daerah Banten Global Development Rudy Radjab membantah hal itu.

Menurut Rudy, distribusi paket kompor dan tabung sudah 78 persen dari 700.000 paket. Sisa pekerjaan akan diselesaikan sebelum 30 September 2008.

”Salah satu hambatan pendistribusian paket adalah lambatnya proses penagihan sehingga sampai saat ini hanya 9,33 persen hasil pekerjaan yang sudah dibayar,” tulis Rudy dalam surat yang ditujukan kepada Pertamina dan dikirim ke Kompas. (RTS/COK/PIN/SF/TRI)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: