
Minggu, 31 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Budi Suwarna
Belakangan ini semakin banyak musisi yang menggratiskan album mereka. Apakah langkah ini akan mematikan industri musik atau sebaliknya justru akan menyelamatkannya?
Di Indonesia, band papan atas Naif menggratiskan album terbarunya, ”Let’s Go!!”, sekitar April lalu. Naif melepas begitu saja album yang diproduksinya sendiri dan menyilakan publik merekam ulang bahkan menyebarkannya tanpa membayar uang sepeser pun.
”Kalau lagu itu digunakan untuk kepentingan bisnis, kami hanya berharap penggunanya memberi tahu kami,” ujar Mohammad Amil Hussein atau biasa dipanggil Emil, pemain bas merangkap manajer Naif, Kamis (28/8) di Jakarta.
Album tersebut, kata Emil, telah diperbanyak dan diedarkan secara gratis oleh sebuah majalah musik ternama di Indonesia. Di luar itu, dia tidak tahu pihak mana lagi yang telah memperbanyaknya. Pasalnya, lagu-lagu dalam album itu sudah beredar di internet dan diunduh banyak orang.
Selain Naif, grup cadas asal Bandung, Koil, menggratiskan album ketiganya, ”Blacklight Shines On”. Manajemen Koil sengaja mencetak 50.000 keping CD dan membagi-bagikannya kepada penggemar. ”CD yang tersisa di tangan saya tinggal 7.000 keping. Sebentar lagi akan saya bagi-bagikan sampai habis,” ujar Santi Yasfini Z, Personal and Business Manager Koil, Jumat (29/8) di Jakarta.
Bulan Agustus ini, grup indie The Upstairs juga menggratiskan mini albumnya, ”Kunobatkan Jadi Fantasi”. Album berisi enam lagu itu diedarkan ke publik melalui situs www.yesnowave.com. Pengguna internet kemudian dapat mengunduhnya tanpa bayar sepeser pun.
Sebelumnya, pada pertengahan Juli lalu, The Upstairs melepas sebuah single-nya di situs Myspace. Lagu gratisan itu sejauh ini telah diunduh oleh sekitar 250.000 orang.
Penggratisan album seperti ini bukan sesuatu yang baru di dunia. Grup rock alternatif asal Inggris, Radiohead, disebut-sebut sebagai band yang memelopori pengratisan album. Juni tahun lalu, Radiohead melelang album ”In Rainbows” di situs resminya. Pengguna internet bisa mengunduh 10 lagu dengan membayar 0-100 poundsterling.
Meski banyak pengunduh yang membayar 0 poundsterling alias mencomot tanpa bayar, eksperimen itu dianggap berhasil mengokohkan nama Radiohead.
Belakangan, langkah ini juga ditempuh Metallica dan Coldplay. Metallica menggratiskan beberapa lagu pada album ”Death Magnetic”, Juli lalu. Sementara itu, Coldplay menggratiskan dua lagu pada album keempat mereka melalui sebuah majalah di Inggris, Juni lalu.
Pancingan
Mengapa banyak band menggratiskan album? Ini tidak lepas dari kondisi industri musik yang sedang lesu darah di seluruh dunia. Penjualan album terus merosot akibat pembajakan dan meluasnya teknologi internet yang membuat orang bisa mengunduh dan menyebarkan lagu-lagu secara gratis. Akibatnya, banyak grup band lebih memfokuskan diri untuk mendulang pemasukan dari konser dan penjualan cenderamata.
Dalam kondisi seperti ini, album lantas hanya menjadi bagian dari alat promosi. Semakin luas album itu beredar, semakin dikenal grup band itu. Jika sudah begitu, tawaran manggung akan semakin banyak dan penjualan cenderamata meningkat.
Perhitungan semacam itu dipegang Koil. Santi mengatakan, sejak awal Koil memang tidak mengandalkan penjualan album. ”Album fisik seperti CD itu hanya marketing tool. Kami lebih mengandalkan pemasukan dari konser dan penjualan merchandise,” ujarnya.
Santi mengatakan, sebagai alat marketing, album gratis cukup ampuh karena album itu bisa dengan cepat menyebar ke banyak orang. Setelah album keluar, tawaran konser pun bertambah. Dalam seminggu, lanjut Santi, Koil manggung rata-rata dua kali dengan tarif Rp 35 juta-45 juta (publish rate).
Santi menambahkan, pemasukan terbesar grup band yang lahir dari kultur indie ini berturut-turut berasal dari manggung, penjualan cenderamata, dan royalti CD. ”Royalti merchandise Koil dibanding royalti CD dan sejenisnya sekarang 60:40,” ujar Santi.
Emil juga berhitung serupa ketika menggratiskan album Naif. ”Royalti dari penjualan album makin kecil. Kalau royalti per CD Rp 1.000 dan kita bisa menjual 75.000 keping CD, kita hanya mendapat royalti sebesar Rp 75 juta. Uang segitu setara dengan tarif satu seperempat kali manggung Naif,” ujar Emil.
Karena itu, Naif tidak lagi mengandalkan pemasukan dari penjualan album, tetapi dari konser. ”Album sekarang hanya untuk memperkuat nama band. Yang kami genjot sekarang ini konser,” ujar Emil.
Emil mengatakan, setelah album gratisnya beredar luas, tawaran konser terus berdatangan. Meski demikian, Naif membatasi jadwal konser dua kali seminggu setiap akhir pekan.
Emil tidak bisa memastikan apakah penggratisan album akan dijadikan strategi marketingnya ke depan. Karena, menurut Emil, sebenarnya penggratisan album Naif awalnya ditujukan sebagai ungkapan protes atas pembajakan lagu.
The Upstairs pun memandang album sekadar alat untuk memancing tawaran konser. ”Sekarang konser lebih menguntungkan. Hasilnya lebih besar dan cepat. Kalau hasil royalti penjualan CD, kita harus menunggu satu tahun,” ujar vokalis Upstairs, Jimi Multhazam.
Bagaimana nasib ke depan perusahaan rekaman besar yang jualan utamanya adalah album? Entahlah. Yang pasti, menurut Product Manager-Domestic Universal Music Indonesia Wawan AEC, perusahaan rekaman di dunia mulai mengadopsi strategi yang sama, yakni memperlakukan album sebagai alat pemasaran dan mengeksploitasi bisnis lainnya, seperti manajemen artis, penjualan lagu digital, dan cenderamata. Hanya dengan cara itu perusahaan-perusahaan rekaman akan tetap bertahan.
Industri musik memang telah berubah secara radikal. Perusahaan rekaman yang dulu begitu perkasa menentukan arah industri musik dan selera pasar kini lesu darah. Sebaliknya, grup band semakin independen karena teknologi memungkinkan mereka memproduksi sendiri album dengan biaya murah.
Penikmat musik juga kian merdeka dengan hadirnya internet. Mereka tidak perlu membeli CD atau kaset. Mereka cukup mengunduh lagu yang mereka inginkan melalui blog atau situs orang lain.
Siapa yang bisa mencegah?