Rabu, 10 Februari 2010
PEMBUNUHAN
Psikiater Pemeriksa Caleg Tewas bersama Sopirnya

Selasa, 2 September 2008 | 01:26 WIB

SEMARANG, KOMPAS - Psikiater Arya Hasanuddin (45) dan sopirnya, Sudarto (27), ditemukan tewas—tetapi tidak ada tanda-tanda penganiayaan—di Hotel Alam Indah, Gombel, Tembalang, Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (31/8). Hingga kemarin polisi belum mengetahui persis apa motif pembunuhan tersebut.

Arya baru-baru ini ditunjuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah (Jateng) sebagai salah satu anggota tim dokter pemeriksa kejiwaan bakal calon anggota legislatif (caleg) partai politik (parpol) Pemilu 2009.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor (Polres) Semarang Selatan Ajun Komisaris Gandung Sarjito, polisi, selain memeriksa tujuh saksi, saat ini masih menunggu hasil otopsi jenazah korban dari Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Semarang. ”Semua kemungkinan akan diselidiki, termasuk latar belakang pembunuhan, apakah karena bisnis, politik, atau keluarga. Polisi juga masih mencari dua teman korban yang datang bersama-sama korban ke Hotel Alam Indah,” kata Gandung.

Kamar 902

Sehari sebelum tewas, Arya dan Sudarto datang ke Hotel Alam Indah bersama dua laki-laki yang belum diketahui identitasnya. Mereka menggunakan mobil Toyota Kijang Innova bernomor polisi H 8469 UG, milik Arya. Arya kemudian memesan kamar 902 dan masuk ke kamar tersebut bersama-sama.

Tengah malam, dua laki-laki yang tidak dikenal tadi diketahui pergi menggunakan taksi. Minggu siang petugas hotel yang mengantarkan minuman ke kamar 902 menemukan Arya dan Sudarto sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh kedua korban.

Kuasa hukum korban, Susilowati, mengatakan, Arya memiliki sejumlah usaha, antara lain rumah sakit, klinik, apotek, dan restoran. ”Mungkin ada masalah dalam bisnis, kami juga belum tahu,” ujarnya.

Secara terpisah, anggota KPU Jateng, Ida Budhiati, mengatakan, terakhir kali dia berkomunikasi dengan Arya pada 6 Agustus 2008 melalui telepon seluler. Saat itu Arya menyampaikan keprihatinannya terkait pemeriksaan kejiwaan bakal caleg.

Dalam pesan singkatnya (SMS), lanjut Ida, Arya menceritakan, ketika dia hendak memeriksa kejiwaan bakal caleg di Rumah Sakit Umum Kendal, tiba-tiba diberi tahu bahwa pemeriksaan kesehatan cukup dengan pemeriksaan fisik di puskesmas. Menanggapi kebijakan itu, Arya menyatakan khawatir parpol akan meloloskan bakal caleg dengan gangguan kejiwaan berat. ”Sebab, berdasarkan pemeriksaan yang ia lakukan, ditemukan empat bakal caleg yang menderita kelainan psikis berat,” kata Ida. (UTI)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: