Sabtu, 22 November 2008
Kreativitas dari Dalam Kamar
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO / Kompas Images
Anggota komunitas musik elektronik Open Labs saat berkumpul di Common Room, Jalan Kyai Gede Tapa, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/9) malam. Kecintaan pada musik elektronik membuat para anak muda ini bergabung dan membentuk komunitas yang terbuka bagi siapa saja yang mencintai musik elektronik.
Minggu, 7 September 2008 | 03:00 WIB

Susi Ivvaty & Herlambang Jaluardi

Inilah sekelompok anak muda Bandung yang gemar mengutak-atik komputer dan alat musik hingga melahirkan bunyi-bunyian unik. Sekadar hobi? Tidak juga. Daya kreatif seperti ini laku dijual.

Jauh sebelum pemerintah mendengung-dengungkan industri kreatif atau ekonomi kreatif, Bandung (dan mungkin kota-kota lain) sudah memulainya, khususnya di bidang busana dan musik.

Denyutnya terasa makin kuat ketika anak-anak muda Bandung unjuk diri melalui Helar Fest pada Juli-Agustus yang digagas Bandung Creative City Forum.

Di ajang itu muncul beragam komunitas yang semuanya mengusung kreativitas. Satu komunitas bernama Open Labs, cukup unik. Komunitas ini adalah wadah buat para penggemar musik elektronik, seni visual, dan media eksperimental.

Apa jenis musiknya seperti yang diperagakan disc jockey (DJ)? Sama sekali bukan. Pertanyaan seperti itu memang kerap dilontarkan.

”Musik kami sering dikira musik dugem. Memang akarnya sama seperti musik yang biasa di kelab malam yang pakai DJ. Tetapi, ya… bedalah,” kata Rimba, awak kelompok Europe in de Tropen.

”Sebal juga sih, tetapi kami maklum. Nanti kalau jenis musik ini booming, orang pasti tahu bedanya,” tukas Deon (22), anggota komunitas Open Labs yang mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran.

Untuk memudahkan penjelasan, sebut saja musik ini musik elektronik. Mereka mengendalikan bunyi-bunyian yang keluar dari rangkaian perangkat elektronik, meliputi komputer jinjing, synthesizer, mixer, dan speaker.

Musik ini juga biasa dijuluki musik kamar lantaran diciptakan di kamar dan paling enak didengarkan di kamar. Musik ini kebanyakan berupa instrumental meski ada pula beberapa grup yang kemudian mengisi musik dengan lirik untuk kemudian dinyanyikan sang vokalis. Ditambah keyboard, lengkaplah performa satu grup musik elektronik.

Berawal dari Myspace

Terbentuknya komunitas ini tak lepas pula dari teknologi. Mereka bertemu lewat situs www.myspace.com. Rupanya, banyak musisi elektronik yang mencatatkan karyanya lewat situs ini, sekalian bisa curhat.

Kebetulan ada beberapa musisi elektronik yang suka berkumpul di Common Room, semacam lembaga independen pemersatu komunitas. Gagasan mengumpulkan hobi kreatif ini ke dalam satu komunitas pun menjadi klop. Di Common Room, anggota Open Labs bisa bertukar pikiran untuk mengkreasikan ide baru bermusik.

Anggota Open Labs yang aktif saat ini ada sebelas grup dan perorangan, yakni M.U.S.I.K[elektrik], Europe in de Tropen, BotttleSmoker, These R Fakes, Damina Tilada, Slylab, Texture, Killafternoon, Desklap, Asturiaz, dan Elemental Gaze. Namun, ada belasan musisi elektronik yang bergabung secara cair, kadang aktif kadang tidak nongol.

Grup musik elektronik, seperti Homogenic dan Souldelay, adalah dua grup yang cukup senior dan menjadi tempat konsultasi awak Open Labs yunior.

Apa saja yang dikerjakan Open Labs? Mereka biasa berkumpul tiap pekan untuk mengobrol soal peranti lunak, konser kecil-kecilan, jam session berimprovisasi main musik bareng, dan mencoba-coba alat musik. Untuk pergelaran tahunan, Open Labs mempunyai Nu Substance, presentasi karya, dan pentas bareng.

”Di sini (Common Room) kami biasa berbagi bunyi baru, software baru, dan teknik-teknik mengomposisi lagu,” kata Okkie dari Europe in de Tropen.

Dengan berkumpul bareng, kata Gin dari grup Damina Tilada, mereka bisa mengeksplorasi kemampuan menghasilkan bunyi dan mengeksploitasi berbagai plugin, fitur dalam perangkat lunak virtual studio technologies (VST), seperti Steinberg Cubase yang berfungsi seperti amplifier.

Momen berkumpul bagaikan membuka jendela kamar dan melihat hal baru di luar. Maklum, hampir seluruh musisi elektronik adalah orang yang betah berjam-jam duduk di depan komputer. ”Setiap kumpul pasti dapat pencerahan,” kata Angkuy dari BottleSmoker.

Open Labs juga berperan menjadi semacam ”manajemen artis” bagi band yang berkumpul di sini. ”Pembuat acara biasanya kontak ke Open Labs. Nanti kami tentukan siapa yang akan tampil. Terbuka saja, siapa yang mau lebih dulu,” jelas Okkie.

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort