Sabtu, 22 November 2008
Mi Kepiting di Meulaboh
KUSHARTATI / Kompas Images
Mi kepiting di warung Harkat Syedara, Meulaboh, Aceh, nikmat disantap perlahan-lahan mulai dari kuahnya.
Minggu, 7 September 2008 | 03:00 WIB

Kushartati

Bagi para pemburu kuliner yang kebetulan mampir ke Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat, ada baiknya mencoba mi kepiting di kedai Basri, Harkat Syedara, yang sederhana di Jalan Makam Pahlawan, Kelurahan Runding, Meulaboh.

Jika datang, usahakan jangan waktu malam. Biasanya pada malam hari kedai kecil itu akan penuh sesak, terutama oleh orang asing yang menetap di Meulaboh karena tugas ataupun hanya berkunjung sementara.

Mi dan kepiting merupakan perpaduan yang agak kurang lazim karena selama ini yang lebih dikenal adalah mi ayam, mi udang, atau mi babi, yang menggunakan daging babi.

Ternyata, karena Meulaboh merupakan kota pantai, mi sea food merupakan hal lazim. Oleh karena itu, di samping mi kepiting, Basri juga menyediakan mi udang dan mi kerang.

Penggemar makanan laut tentu telah paham bahwa hasil laut yang namanya berakhiran ”ng” biasanya memiliki kandungan protein dan lemak yang tinggi. Bahkan dewasa ini, teripang atau mentimun laut sudah dibudidayakan dalam berbagai kemasan obat karena diyakini memiliki daya penyembuh berbagai macam penyakit.

Di warung Basri yang kecil dan sederhana, kepiting yang katanya dibeli dari Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, dilepaskan di kotak keranjang di depan dapurnya. Para pembeli boleh memilih kepiting yang diinginkan. Basri akan mengambil kepiting itu, memotong-motong, mencuci bersih, kemudian memasak.

Sebesar paha ayam

Ukuran kepiting itu bervariasi, mulai dari yang hanya 200 gram sampai 2.000 gram per ekor. Sekadar untuk dibayangkan, kepiting dengan berat 1,6 kilogram memiliki cangkang kaki sebesar paha ayam potong seberat 1 kilogram.

Jika kepiting yang Anda pilih seberat 1,6 kilogram, tinggal mengira-ira saja berapa harga satu porsi mi yang Anda nikmati. Menurut Basri, harga kepiting mentah itu Rp 45.000 sekilogramnya. Apabila Anda ingin sekadar mencoba, tidak ada salahnya memilih kepiting kecil yang beratnya sekitar 0,25 kilogram sampai 0,5 kilogram.

Sambil menunggu kepiting masak, Basri mengeluarkan piring kosong di depan setiap konsumen yang di atasnya ada semacam alat untuk menjepit. Piring itu nantinya digunakan untuk menampung kulit kepiting.

Di samping piring kosong dan alat penjepit, pelayan juga mengeluarkan tempat air dari plastik yang ditaruh di dalam ember plastik kecil. Jangan salah paham, air tersebut bukan untuk diminum melainkan untuk mencuci tangan. Jadi, sebagai pengganti wastafel.

Ketika mi kepiting telah terhidang, bau kepiting yang khas memenuhi warung. Pertama-tama, cicipi kuahnya yang kental dengan rasa manis kepiting yang lezat. Setelah mi dan kepiting agak dingin, tibalah saat memotong-motong kepiting yang masih terlalu besar.

Untuk memotong kepiting, ada kiatnya. Cangkang kepiting setebal kira-kira 3 milimeter itu di samping keras juga sangat licin.

Caranya, alat penjepit itu harus diletakkan di antara kaki-kaki kepiting yang masih tersisa sehingga tidak mudah meleset karena licin. Kalau belum berhasil juga membelah cangkang kepiting, Anda bisa meminjam pisau besar milik Basri.

Nah, setelah cangkang kaki dipecahkan, tarik pelan-pelan dagingnya yang sebesar paha ayam, kemudian gigit sedikit demi sedikit. Lebih nikmat jika daging kepiting itu dicelup ke kuah di piring. Tiada kata lain yang tepat untuk melukiskan, kecuali nikmat.

Pascatsunami

Basri berjualan mi kepiting baru saja, yaitu setelah Aceh terkena tsunami pada 26 Desember 2004 pagi.

Sebelumnya, dia berjualan buah-buahan dengan menggunakan becak untuk berkeliling menyusuri seluruh kota. Kata Basri, menjual buah membutuhkan modal relatif besar, dengan risiko cukup tinggi. Jika tidak laku, cepat membusuk dan harus dibuang.

Namun, mengapa pilihannya mi kepiting?

Di samping modalnya tidak harus sebesar modal berjualan buah, alasan lain adalah karena risikonya tidak sebesar berjualan buah. Kemudian dia ingat, sewaktu dia masih kecil, neneknya sering memasak mi kepiting. Maka ia hanya melanjutkan resep neneknya tersebut.

Menurut Rizal, pengemudi mobil yang kami carter, banyak orang kulit putih yang telah diantarkannya ke warung Harkat Syedara (kata Rizal, artinya berkat saudara). Sebagian dari mereka menyatakan puas dan ingin kembali lagi makan di situ, meskipun mereka juga mengeluhkan antrenya yang lama sekali.

Itulah mungkin sebabnya, jika di Jalan Makam Pahlawan itu dahulunya hanya Basri yang berjualan mi kepiting dan buka siang-malam, tetangga depan rumah belakangan juga ikut-ikutan berjualan mi kepiting walaupun hanya buka malam hari. Bisa jadi bermaksud menampung limpahan dari warung Basri yang tidak sabar antre.

Setiap harinya warung Basri menghabiskan 25 kilogram sampai 50 kilogram kepiting. Jika dulu dia pergi sendiri membeli kepiting ke Calang, sekarang peternak kepiting dari Calang secara teratur mengirimkan kepiting untuk warung Basri.

Kushartati Redaktur Majalah Berbahasa Jawa Damar Jati.

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort