
![]() |
Fransisca Romana
Bangkok, Kompas - Para pemimpin protes anti-Pemerintah Thailand yang dimotori Aliansi Rakyat untuk Demokrasi atau PAD, Sabtu (6/9), kembali menegaskan penolakan dialog dengan pemerintah selama Perdana Menteri Samak Sundaravej tetap berkuasa. Mereka tidak akan berpartisipasi dalam pembicaraan apa pun dengan Pemerintah Thailand.
Dalam keterangan kepada wartawan di lokasi protes di kompleks Gedung Pemerintah, Bangkok, Thailand, Sabtu, pemimpin PAD, Chamlong Srimuang, mengatakan bahwa PAD juga tidak mau bernegosiasi dengan pemerintah kendati Ketua Senat Prasobsuk Boondech menawarkan diri sebagai mediator.
Berdasarkan kesepakatan antara Ketua DPR Chai Chidchob, Prasobsuk, dan pemimpin oposisi Abhisit Vejjajiva, Jumat lalu, Prasobsuk ditunjuk sebagai mediator antara pemerintah dan kelompok antipemerintah. Dia ditunjuk karena dipandang netral dan tidak memiliki afiliasi politik serta diterima banyak pihak.
”Sampai saat ini kami belum dihubungi oleh Prasobsuk,” kata Somsak Kosaisuk, pemimpin PAD lainnya yang turut dalam konferensi pers.
Chamlong menambahkan, pembicaraan tidak akan ada gunanya karena PAD tetap bersikukuh pada tuntutan mereka, yaitu agar PM Samak mundur dari jabatannya.
”Kami tidak bisa menolak keinginan rakyat yang ingin berjuang sampai tujuan mereka tercapai,” katanya. PAD menilai Samak hanya kepanjangan tangan dari pemerintahan sebelumnya yang dipimpin PM Thaksin Shinawatra.
Thaksin, yang terguling oleh kudeta militer pada September 2006, kini dalam proses meminta suaka di Inggris.
Memasuki hari ke-12
Memasuki hari ke-12, Sabtu, para pemrotes masih bertahan di tenda-tenda yang kondisinya makin buruk. Hujan deras yang mengguyur Bangkok dalam beberapa hari terakhir membuat tanah becek dan genangan air di berbagai tempat di sekitar tenda-tenda pemrotes.
Mereka terlihat mengantre di berbagai tenda yang memberikan layanan medis. Mereka juga terlihat mengantre di toilet-toilet portabel yang menebarkan aroma tidak sedap ke mana-mana.
Ratusan mahasiswa bergabung pada sore hari dan membuat kompleks Gedung Pemerintah semakin penuh sesak. Di bawah guyuran hujan, mereka dengan setia mendengarkan orasi sambil bertepuk tangan dan bernyanyi bersama para seniman yang menghibur mereka.
Baru dalam dua hari terakhir ini para mahasiswa jelas-jelas menyatakan sikap menentang pemerintah dan menggabungkan diri dengan barisan pemrotes.
Pemrotes menyatakan akan terus berjuang sampai tujuan mereka tercapai, yaitu digantinya pemerintahan saat ini dengan yang baru. ”Kami tidak tahu sampai kapan semua ini berlangsung, tetapi kami tetap akan di sini sampai kami menang,” kata Somphol Sangkhthat, salah satu pemrotes.
Di berbagai sudut bisa dilihat plakat-plakat yang digantungkan di tenda-tenda, yang antara lain berisi ”Pemerintahan ini baik, tetapi 99 persen bohong kepada rakyat” atau ”Jangan beri tempat kepada pengkhianat dan pembohong. Jangan beri tempat bagi Thaksin dan Samak”.
Dalam waktu dekat, PM Samak berencana mencabut status keadaan darurat di Bangkok yang diberlakukan sejak hari Selasa pekan lalu karena tidak efektif mengakhiri protes.
Saat ini, parlemen tengah menggodok rancangan undang-undang untuk pelaksanaan referendum. Pemerintahan Samak menilai referendum adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan krisis.