
![]() |
Bandung, Kompas - Dalam satu hari, Sabtu (6/9), dua kereta anjlok di Jawa Barat. Kereta yang anjlok adalah KA Eksekutif Argowilis jurusan Bandung-Surabaya dan Kereta Rel Diesel Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang. Tidak ada korban jiwa dalam dua kecelakaan itu.
KA Argowilis anjlok di Kilometer 233+100/200 di antara Stasiun Bumi Waluya dan Stasiun Cipeundeuy, Kabupaten Garut. Rangkaian KA Argowilis yang mengangkut 235 penumpang anjlok pada pukul 08.45 setelah berangkat dari Stasiun Besar Bandung pukul 07.00.
Sementara KRD Bandung Raya yang terdiri atas satu unit lokomotif dan tujuh gerbong anjlok sekitar 500 meter sebelum Stasiun Ciroyom, Kota Bandung, pada pukul 09.40. Kereta itu mengangkut sekitar 100 penumpang. Roda lokomotif yang membawa tujuh kereta (gerbong) anjlok dan keluar dari rel. Posisi lokomotif miring hingga 45 derajat.
Kepala Humas PT KA Daerah Operasi (Daop) II Bandung Mateta Rijalulhaq menyebutkan, tidak ada korban jiwa dalam dua kecelakaan tersebut. Kerugian yang dialami PT KA diperkirakan ratusan juta rupiah. ”Gerbong keempat dari tujuh rangkaian KA Argowilis anjlok. Perjalanan akhirnya dilanjutkan hanya dengan tiga gerbong,” kata Mateta.
Menurut Mateta, rangkaian KA Argowilis lalu ditarik ke Stasiun Tasikmalaya dan sebagian penumpang dialihkan menggunakan bus eksekutif. Penambahan gerbong mungkin akan dilakukan di Stasiun Yogyakarta.
Akibat anjloknya KA itu, KA Lodaya jurusan Bandung-Solo yang membawa 219 penumpang tertahan selama beberapa jam di wilayah Cibatu, Garut. KA Lodaya akhirnya bisa diberangkatkan sekitar pukul 13.00.
Anjloknya dua rangkaian kereta di Jawa Barat dalam selisih waktu sekitar satu jam itu memunculkan dugaan sabotase terhadap lintasan rel kereta. Namun, dugaan itu masih dalam tahap awal sehingga perlu diselidiki secara intensif oleh aparat kepolisian. ”Sabotase dapat berupa pencurian bantalan rel. Akan tetapi, hal itu juga tidak dapat dijadikan kesimpulan, Tergantung penemuan aparat kepolisian yang hingga kini masih terus menyelidiki kejadian ini. Selain Kepolisian, penyelidikan juga melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT),” kata Mateta.
Secara terpisah, Direktur Indonesia Railway Watch (IRW) Taufik Hidayat mengatakan, dugaan sabotase yang selama ini selalu dilontarkan PT KA setiap terjadi kecelakaan KA tidak bisa diterima.
”Hingga kini, kepolisian tidak pernah bisa membuktikan unsur sabotase yang benar-benar direncanakan dalam kecelakaan KA. Paling banter hanya pencurian biasa,” ujarnya.
Menurut Taufik, dua kecelakaan dalam sehari ini menambah tinta merah di rapor pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan publik. (GRE)