Minggu, 05 Juli 2009
Kompas/Agustinus Handoko
Perajin mengemas mukena yang selesai dibordir di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (17/9). Mukena bordir dari Tasikmalaya ini sudah menembus pasar Asia Tenggara, dengan distribusi via Kuala Lumpur, Malaysia.
Geliat
Meraup Rezeki dari Bordir dan Rajut

Senin, 6 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Para pekerja sibuk mengemas mukena-mukena ke dalam plastik. Mukena-mukena itu tak lagi putih polos. Di ujung-ujungnya terdapat hiasan berbagai motif sulur warna-warni yang terangkai indah.

Sambil mengemas mukena ke dalam plastik, para pekerja sesekali mengamati motif-motif bordir yang menghiasi ujung mukena untuk memastikan kerapian hiasan-hiasan itu. Di rumah belakang, para pekerja lainnya mengecek kerja mesin-mesin bordir yang tersambung dengan komputer sambil sesekali membetulkan letak mata jahit yang kurang pas.

Aktivitas di tempat usaha milik Haji Asep (35) itu makin sibuk menjelang siang. Menjelang Idul Fitri 2008, pekan lalu, permintaan mukena bordir kepada Asep meningkat tajam, dari per bulan 100 kodi menjadi 150 kodi lebih. ”Dalam tiga bulan ini saya harus memenuhi pesanan 500 kodi untuk dikirim ke Kuala Lumpur (Malaysia),” ujar Asep.

Hasil tangan perajin

Dari Kuala Lumpur, mukena bordir buatan kelompok usaha yang dipimpin Asep itu didistribusikan lagi ke Singapura, Thailand, Kamboja, dan Brunei Darussalam. Dalam tiga tahun terakhir kelompok usaha bordir milik Asep, dengan 500 perajin, memang terus menggeliat. Pasalnya, bordir yang ditawarkan kepada pembeli tak hanya bordir produk mesin otomatis yang dikendalikan komputer, tetapi juga oleh mesin yang dioperasikan tangan-tangan perajin.

”Sebagian besar bordir produk kami memang dikerjakan oleh perajin, bukan yang menggunakan komputer. Hasilnya lebih bagus dan modelnya fleksibel kendati harganya jauh lebih mahal,” kata Asep.

Mukena hasil bordir otomatis dijual dengan harga Rp 90.000. Namun, bordir dari mesin yang diatur oleh tangan perajin bisa dijual hingga Rp 300.000 per buah. Selisih harga yang mencapai lebih dari Rp 200.000 merupakan penghargaan terhadap buah karya tangan-tangan terampil perajin bordir.

Signifikansi kenaikan omzet juga dialami industri rumahan peci rajut di Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tiga bulan menjelang Idul Fitri tahun ini, 180 perajin peci rajut yang dipimpin Iis Sumartini mendapat pesanan sebanyak 28.000 buah, mayoritas juga dari Kuala Lumpur.

”Karena kerajinan peci rajut ini hanya bisa dikerjakan dengan tangan, kami hanya bisa memenuhi pesanan sebanyak 12.800 buah,” kata Iis.

Perajin bordir dan peci rajut adalah sebagian warga yang meraup rezeki tambahan saat Ramadhan dan Idul Fitri. (Agustinus Handoko/ADH)

Share on Facebook
Nilai 4 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: