
Rabu, 8 Oktober 2008 | 01:14 WIB
PERTH, Selasa - Tak kurang dari 40 penumpang pesawat Qantas, Selasa (7/10), menderita luka-luka akibat turbulensi. Pesawat Airbus A330-300 yang terbang dari Singapura menuju Perth itu berhasil melakukan pendaratan darurat di bandar udara dekat kota Exmouth di negara bagian Australia Barat.
”Tak kurang dari 40 orang luka-luka akibat insiden dalam penerbangan tersebut. Akan tetapi, belum diketahui pasti apa penyebab insiden tersebut,” kata Sersan Greg Lambert dari Kepolisian Australia Barat.
Biro Keselamatan Transportasi Udara Australia, dalam pernyataan tertulisnya, menjelaskan, ketika tengah terbang di ketinggian yang semestinya, pesawat tiba-tiba mengalami guncangan hebat. Akibatnya, sejumlah awak pesawat dan penumpang menderita luka-luka, khususnya yang berada di bagian belakang.
”Kru kemudian mengumumkan keadaan darurat dan mengarahkan pesawat ke Learmonth, dekat Exmouth, di mana pesawat kemudian mendarat tanpa insiden lebih jauh,” tambahnya.
Qantas menjelaskan, pesawat berkode QF72 itu berpenumpang 303 orang dan 10 awak. ”Laporan pendahuluan menunjukkan tiga awak kabin dan sekitar 30 penumpang menderita luka-luka, termasuk 15 yang terluka serius, khususnya patah tulang dan luka karena tersayat atau bagian tubuh robek.
Para petugas tanggap darurat dan staf medis langsung bersiap di bandara yang berada sekitar 1.100 km timur laut Perth itu. Learmonth hanya mempunyai satu landasan pacu dengan panjang sekitar 3.000 meter. Bandara itu selama ini terutama digunakan oleh pesawat milik perusahaan-perusahaan minyak dan gas Australia.
Kesekian kalinya
Insiden itu merupakan insiden kesekian kalinya bagi perusahaan penerbangan nasional Australia itu belakangan ini. Pada 25 Juli 2008, sebuah pesawat Boeing 747-400 milik Qantas terpaksa mendarat darurat di Filipina dalam penerbangan langsung dari Hongkong ke Melbourne. Hal itu dilakukan setelah sebuah tabung oksigen meledak di ruang bagasi yang menimbulkan lubang seukuran mobil minibus di badan pesawat tersebut. Ke-346 penumpang dan 19 awak pesawat selamat dalam insiden ini.
Empat hari setelah insiden itu, sebuah pesawat penerbangan domestik Australia dipaksa kembali ke Adelaide setelah pintu roda pendarat tidak bisa ditutup.
Kemudian pada 2 Agustus lalu, sebuah Boeing 767 dengan 200 penumpang di dalamnya terpaksa kembali ke bandara Sydney segera setelah lepas landas karena petugas pengawas penerbangan melihat adanya cairan yang keluar dari sayap pesawat tersebut.(AFP/Reuters/OKI)