Sabtu, 22 November 2008
Transaksi Lesu, Harga Minyak Bisa 75 Dollar
Rabu, 8 Oktober 2008 | 01:15 WIB

Singapura, Selasa - Harga minyak di pasar Asia hari Selasa (7/10) naik lagi di atas level 90 dollar AS per barrel. Para pedagang mengaku kegiatan transaksi cenderung lesu akibat jatuhnya harga saham dunia yang bisa berakibat turunnya permintaan akan minyak mentah. Harga bisa mencapai 75 dollar AS per barrel pada akhir tahun ini.

Minyak light sweet yang menjadi patokan perdagangan di New York Mercantile Exchange, AS, naik lagi 3,25 dollar AS menjadi 91,06 dollar AS per barrel. Hari sebelumnya, kontrak minyak light sweet untuk penyerahan bulan November ini jatuh 6,07 dollar AS dan ditutup pada 87,81 dollar AS per barrel.

Sementara itu, minyak Brent Laut Utara untuk penyerahan November, naik 2,31 dollar AS menjadi 85,99 dollar AS per barrel. Harga minyak Brent, Senin, anjlok 6,57 dollar AS dan ditutup pada 83,86 dollar AS per barrel di pasar minyak London, Inggris.

”Terjadi koreksi pada hari ini,” ujar Ken Hasegawa, manajer energi pada perusahaan pialang Newedge di Tokyo. Dikatakan, kontrak harga minyak light sweet di pasar minyak New York bergerak sejalan dengan indeks Dow Jones di Wall Street. Dow Jones, Senin, merosot 800 poin, tetapi membaik di akhir perdagangan.

Harga minyak di Asia membaik seiring membaiknya harga saham di Asia Pasifik dan Eropa pada hari Selasa. ”Pemulihan harga saham membantu mendorong harga minyak,” ujar Hasegawa. Harga membaik setelah sejumlah pedagang yang menjual minyak mereka karena takut harga jatuh lagi, kembali melakukan pembelian.

Harga minyak mentah naik tajam dari sekitar 20 dollar AS per barrel tahun 2002 dan mencapai puncaknya sekitar 147 dollar AS per barrel pada 11 Juli lalu. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di China mendorong permintaan energi dan harga minyak naik tajam dalam lima tahun ini.

Meski harga membaik, diperkirakan harga minyak akan kembali terkoreksi. Perekonomian dunia yang masih lesu seiring dengan krisis keuangan yang diyakini belum segera pulih, bakal mengurangi permintaan energi.

Harga saham jatuh karena pasar tidak yakin paket Gedung Putih bernilai 700 miliar dollar AS bisa mengatasi krisis dalam jangka pendek. Arus kredit diyakini masih tetap mandek.

Hasegawa memperkirakan, harga minyak berjangka akan turun ke 95 dollar AS per barrel. Situasi ekonomi yang lesu bahkan bisa membuat harga turun ke 75 dollar AS per barrel pada akhir tahun ini. (Reuters/AFP/ppg)

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort