Minggu, 05 Juli 2009
Sajak-sajak Warih Wisatsana

Minggu, 19 Oktober 2008 | 02:10 WIB

 

 

 

Obituari Pelukis Salim

Seandainya sungguh tanganku sebuah batu

akan jadi apa maut yang kusentuh ini

Mungkinkah ia jadi sekadar ranting

atau patung yang sebagian tubuhnya

retak oleh hujan bertahun

Atau mungkinkah ia akan datang mendekat

dan berbisik padaku

bahwa tanganku meski batu

tak akan kekal oleh waktu

Di taman ini hanya ada kami berdua

Maut yang menyamar jadi pohonan

aku yang diam-diam jadi pemotong rumput

mengulur-ngulur waktu

Bercakap-cakap tentang apa saja

dari pakaian pengantin yang terlupakan

hingga hari pertama penciptaan

Ia membuka rahasianya padaku

bahwa dirinya jemu mengunjungi pasien

yang terbaring di rumah sakit

atau yang lalai menyeberangi jalanan

Seandainya sungguh tanganku sebuah batu

akan jadi apa maut yang kusentuh ini

Mungkinkah ia akan sengaja mengulur-ulur waktu

dan mengizinkanku untuk pergi sekali lagi

mengunjungi sahabat-sahabat yang kukasihi

2008

 

Tiananmen

Kepada: Pelukis Suklu

Istana larangan

bayangan kota terlarang

Kau duga itu hanya sekilas pandang

dari kisah tak terhapuskan

seorang anak muda berdiri di depan tank

yang tak kunjung retak oleh isak

Kau kira itu serupa torehan cahaya

yang menggenangi dinding

ujung paling lengang

dari kanvasmu

Namun di bawah hujan

yang basah oleh kenangan

pohon tua di tepi petang

sesaat lagi tumbang

Seekor ulat

yang menghuni sepotong daun

terlambat menyadari

bahwa dirinya tak punya waktu

untuk menjelma seekor kupu-kupu.

Lalu di sisi lapangan yang agung ini

seorang ibu memberimu sekerat roti

sambil berulang meyakinkanmu

bahwa revolusi telah selesai tadi pagi.

2008

 

Simpang Jalan ke Konya

Datanglah padaku, wahai pencinta yang hampa

 kekasih-kekasih malam yang kecewa

Datanglah dengan tepuk tangan berulang

dan nyanyian riang anak-anak jalanan

Sebab tak tahu ke arah manakah jalan pulang

Aku kunjungi semua kuil dan candi

aku datangi orang-orang suci

Berkali kutanyakan, kenapa semalaman

tak henti menari sendirian di taman?

Mereka malah balik bertanya kepadaku,

apalah arti rumah bagi pejalan jauh

sekadar tempat singgah

atau hanya untuk berteduh?

Alangkah dungu, alangkah pandirnya aku

Tak satu kata pun yang sungguh kupahami

dari tutur bijak mereka

Semua serba sekilas, melulu sepintas

bahwa tubuh yang indah

hanya selubung ingatan

cuma selilit kenangan

Bahwa anggur yang mencemari kata-kata ini

meski telah tumpah berkali-kali

 masih tetap mewangi

Datanglah padaku, wahai pencinta yang kecewa

kunasehati dirimu dan nasehati pulalah diriku

Yakinkan diriku

dan yakinkan juga dirimu

bahwa di kota ini tak ada jalan darurat

di mana orang-orang bergegas cepat

mengharapkan segala yang ajaib

datang berulang dalam hidup yang sekejap.

Sebab tak tahu ke arah manakah jalan pulang

Orang-orang saling menawarkan

karcis sirkus gratis atau tiket terusan komidi putar

Tak seorang pun menyadari saat

seekor lalat putus asa menyeberangi malam

memberi isyarat bahwa di sudut taman

ada bayi mati perlahan dilupakan ibunya.

Datanglah padaku, wahai pencinta yang putus asa

kekasih-kekasih malam yang hampa

Datanglah dengan tepuk tangan berulang

dan nyanyian riang anak-anak jalanan

2008

 

Tarian Terakhir

Ini tarian terakhirmu yang indah

atau tubuh pasrah yang sedih

Melompat ke dalam unggun api

kenapa terbujuk jadi sita

padahal aku bukan rama

bukan pula rahwana

Penyihir tua itu telah menghasutmu

untuk jadi putri setia yang putus asa

Padahal semalaman

aku telah merancang akhir lakon ini

Seorang pangeran meneguk semangkuk racun

atau raja durjana itu tewas di pembaringan

dengan sebilah pisau tipis menembus jantung

Lalu kau menyelinap ke dalam gelap

membiarkan unggun api padam perlahan

Tak ada yang menagih janji

tak ada yang ingin menggenapi hari

Ini tubuh pasrahmu yang sedih

atau tarian terakhir yang indah?

Hapus topengmu,

beri aku wajah yang paling sunyi!

2008

 

Alamat

Begitu lekas usia membuat kita tua dan pelupa

Tiba dini hari di stasiun terakhir

tak tahu kota masa kecil siapakah ini?

Tertidur sepanjang perjalanan

tangan letih menulis

nama-nama yang kini ingin kuingat

alamat-alamat yang dulu luput tercatat

Melewati hujan dan genangan bayang di kaca

melintasi pohonan yang berkejaran di luar jendela

Apakah kita tengah pergi atau kembali

apakah pulang ke kampung halaman

atau mengunjungi anak cucu di tanah seberang

Dalam kereta malam yang melaju ini

hanya bayangan bocah masa silam

yang datang berulang

berlarian di pematang

mengejar layangan di ujung petang

yang entah berakhir di mana

Bukankah sore tadi sebelum berangkat

sahabat-sahabat kita dengan wajah sedih

mengucapkan selamat jalan

sambil mengingatkan jangan terburu tidur

nanti mimpi menghampiri

menyelinap dalam lelap penuh tangis bayi

tangan mungil mereka akan melambai

dari balik kaca

bagai ranting kering pohon mati

yang luruh di tanah jauh

Begitu lekas kita jadi tua dan pelupa

Tak ingat lagi

potret siapakah yang terselip di dompet ini

Musuh-musuh terkasih

atau kekasih-kekasih tersisih

Lamunan dan angan

atau kenangan dalam kenangan

yang menenggelamkan kita

jadi batu kecil di dasar lautan

Entah akan ke mana

entah berujung di mana

Kita melaju

bagai mengejar layangan

yang terlepas dari tangan

Basah oleh hari yang penuh kesedihan

tak paham kenapa riang tertinggal di tikungan

Begitu lekas semua terlepas dari tangan

Apakah kita telah sampai

atau selesai?

2008

 

Grafiti Penuh Grafiti

Tembok penuh grafiti

nyanyian orang-orang mati

pelipur bagi siapa pun

yang tak berumah di dunia ini

Aku temukan celah masuk

di retak tembok itu

bagi sebaris sajakku

yang malu-malu

yang ragu-ragu

Sekelumit kalimat

penahan sayat sakit

pil penenang semalaman

sebelum tiang gantungan

Aku temukan di retak diriku

celah masuk bagi sajak

grafiti penuh grafiti bagi siapa pun

yang tak tersentuh tembok lagi

Maka aku terbaca

kadang menjelma siapa saja

kadang menjadi apa saja

Keluh kekasih-kekasih

yang sedih berpisah

di senja yang indah

Pekik orang usiran

ratapan burung malam

isak hantu dalam gelap

Kadang hanya igauan

kerikil jalanan

yang kedinginan

Wahai sajak yang tak tertolak

Wahai celah retak diriku

Wahai kekasih puitik enam belas tahun

biarlah kita tak berumah di dunia ini

Biarlah penyair ragu-ragu

penyair malu-malu

datang berulang mengunjungiku

membaca berkali kisah kasihmu

Hikayat Seekor Burung

Sewaktu gunung meletus

seekor burung menyelamatkan diri

terbang di celah ranting

dan pohonan yang puing

terbang membayangkan

biji padi menguning

di ladang jauh yang lengang

menyelinap menyusup

ke liang batu

lalu terkubur lahar di situ

mati perlahan-lahan

melamunkan wajah tuhan

dari belukar terdengar samar

isak anak burung yang lapar

Warih Wisatsana lahir di Bandung, 1965. Buku puisinya berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan (2003). Ia tinggal di Bali.

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: