
Minggu, 19 Oktober 2008 | 02:10 WIB
Obituari Pelukis Salim
Seandainya sungguh tanganku sebuah batu
akan jadi apa maut yang kusentuh ini
Mungkinkah ia jadi sekadar ranting
atau patung yang sebagian tubuhnya
retak oleh hujan bertahun
Atau mungkinkah ia akan datang mendekat
dan berbisik padaku
bahwa tanganku meski batu
tak akan kekal oleh waktu
Di taman ini hanya ada kami berdua
Maut yang menyamar jadi pohonan
aku yang diam-diam jadi pemotong rumput
mengulur-ngulur waktu
Bercakap-cakap tentang apa saja
dari pakaian pengantin yang terlupakan
hingga hari pertama penciptaan
Ia membuka rahasianya padaku
bahwa dirinya jemu mengunjungi pasien
yang terbaring di rumah sakit
atau yang lalai menyeberangi jalanan
Seandainya sungguh tanganku sebuah batu
akan jadi apa maut yang kusentuh ini
Mungkinkah ia akan sengaja mengulur-ulur waktu
dan mengizinkanku untuk pergi sekali lagi
mengunjungi sahabat-sahabat yang kukasihi
2008
Tiananmen
Kepada: Pelukis Suklu
Istana larangan
bayangan kota terlarang
Kau duga itu hanya sekilas pandang
dari kisah tak terhapuskan
seorang anak muda berdiri di depan tank
yang tak kunjung retak oleh isak
Kau kira itu serupa torehan cahaya
yang menggenangi dinding
ujung paling lengang
dari kanvasmu
Namun di bawah hujan
yang basah oleh kenangan
pohon tua di tepi petang
sesaat lagi tumbang
Seekor ulat
yang menghuni sepotong daun
terlambat menyadari
bahwa dirinya tak punya waktu
untuk menjelma seekor kupu-kupu.
Lalu di sisi lapangan yang agung ini
seorang ibu memberimu sekerat roti
sambil berulang meyakinkanmu
bahwa revolusi telah selesai tadi pagi.
2008
Simpang Jalan ke Konya
Datanglah padaku, wahai pencinta yang hampa
kekasih-kekasih malam yang kecewa
Datanglah dengan tepuk tangan berulang
dan nyanyian riang anak-anak jalanan
Sebab tak tahu ke arah manakah jalan pulang
Aku kunjungi semua kuil dan candi
aku datangi orang-orang suci
Berkali kutanyakan, kenapa semalaman
tak henti menari sendirian di taman?
Mereka malah balik bertanya kepadaku,
apalah arti rumah bagi pejalan jauh
sekadar tempat singgah
atau hanya untuk berteduh?
Alangkah dungu, alangkah pandirnya aku
Tak satu kata pun yang sungguh kupahami
dari tutur bijak mereka
Semua serba sekilas, melulu sepintas
bahwa tubuh yang indah
hanya selubung ingatan
cuma selilit kenangan
Bahwa anggur yang mencemari kata-kata ini
meski telah tumpah berkali-kali
masih tetap mewangi
Datanglah padaku, wahai pencinta yang kecewa
kunasehati dirimu dan nasehati pulalah diriku
Yakinkan diriku
dan yakinkan juga dirimu
bahwa di kota ini tak ada jalan darurat
di mana orang-orang bergegas cepat
mengharapkan segala yang ajaib
datang berulang dalam hidup yang sekejap.
Sebab tak tahu ke arah manakah jalan pulang
Orang-orang saling menawarkan
karcis sirkus gratis atau tiket terusan komidi putar
Tak seorang pun menyadari saat
seekor lalat putus asa menyeberangi malam
memberi isyarat bahwa di sudut taman
ada bayi mati perlahan dilupakan ibunya.
Datanglah padaku, wahai pencinta yang putus asa
kekasih-kekasih malam yang hampa
Datanglah dengan tepuk tangan berulang
dan nyanyian riang anak-anak jalanan
2008
Tarian Terakhir
Ini tarian terakhirmu yang indah
atau tubuh pasrah yang sedih
Melompat ke dalam unggun api
kenapa terbujuk jadi sita
padahal aku bukan rama
bukan pula rahwana
Penyihir tua itu telah menghasutmu
untuk jadi putri setia yang putus asa
Padahal semalaman
aku telah merancang akhir lakon ini
Seorang pangeran meneguk semangkuk racun
atau raja durjana itu tewas di pembaringan
dengan sebilah pisau tipis menembus jantung
Lalu kau menyelinap ke dalam gelap
membiarkan unggun api padam perlahan
Tak ada yang menagih janji
tak ada yang ingin menggenapi hari
Ini tubuh pasrahmu yang sedih
atau tarian terakhir yang indah?
Hapus topengmu,
beri aku wajah yang paling sunyi!
2008
Alamat
Begitu lekas usia membuat kita tua dan pelupa
Tiba dini hari di stasiun terakhir
tak tahu kota masa kecil siapakah ini?
Tertidur sepanjang perjalanan
tangan letih menulis
nama-nama yang kini ingin kuingat
alamat-alamat yang dulu luput tercatat
Melewati hujan dan genangan bayang di kaca
melintasi pohonan yang berkejaran di luar jendela
Apakah kita tengah pergi atau kembali
apakah pulang ke kampung halaman
atau mengunjungi anak cucu di tanah seberang
Dalam kereta malam yang melaju ini
hanya bayangan bocah masa silam
yang datang berulang
berlarian di pematang
mengejar layangan di ujung petang
yang entah berakhir di mana
Bukankah sore tadi sebelum berangkat
sahabat-sahabat kita dengan wajah sedih
mengucapkan selamat jalan
sambil mengingatkan jangan terburu tidur
nanti mimpi menghampiri
menyelinap dalam lelap penuh tangis bayi
tangan mungil mereka akan melambai
dari balik kaca
bagai ranting kering pohon mati
yang luruh di tanah jauh
Begitu lekas kita jadi tua dan pelupa
Tak ingat lagi
potret siapakah yang terselip di dompet ini
Musuh-musuh terkasih
atau kekasih-kekasih tersisih
Lamunan dan angan
atau kenangan dalam kenangan
yang menenggelamkan kita
jadi batu kecil di dasar lautan
Entah akan ke mana
entah berujung di mana
Kita melaju
bagai mengejar layangan
yang terlepas dari tangan
Basah oleh hari yang penuh kesedihan
tak paham kenapa riang tertinggal di tikungan
Begitu lekas semua terlepas dari tangan
Apakah kita telah sampai
atau selesai?
2008
Grafiti Penuh Grafiti
Tembok penuh grafiti
nyanyian orang-orang mati
pelipur bagi siapa pun
yang tak berumah di dunia ini
Aku temukan celah masuk
di retak tembok itu
bagi sebaris sajakku
yang malu-malu
yang ragu-ragu
Sekelumit kalimat
penahan sayat sakit
pil penenang semalaman
sebelum tiang gantungan
Aku temukan di retak diriku
celah masuk bagi sajak
grafiti penuh grafiti bagi siapa pun
yang tak tersentuh tembok lagi
Maka aku terbaca
kadang menjelma siapa saja
kadang menjadi apa saja
Keluh kekasih-kekasih
yang sedih berpisah
di senja yang indah
Pekik orang usiran
ratapan burung malam
isak hantu dalam gelap
Kadang hanya igauan
kerikil jalanan
yang kedinginan
Wahai sajak yang tak tertolak
Wahai celah retak diriku
Wahai kekasih puitik enam belas tahun
biarlah kita tak berumah di dunia ini
Biarlah penyair ragu-ragu
penyair malu-malu
datang berulang mengunjungiku
membaca berkali kisah kasihmu
Hikayat Seekor Burung
Sewaktu gunung meletus
seekor burung menyelamatkan diri
terbang di celah ranting
dan pohonan yang puing
terbang membayangkan
biji padi menguning
di ladang jauh yang lengang
menyelinap menyusup
ke liang batu
lalu terkubur lahar di situ
mati perlahan-lahan
melamunkan wajah tuhan
dari belukar terdengar samar
isak anak burung yang lapar
Warih Wisatsana lahir di Bandung, 1965. Buku puisinya berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan (2003). Ia tinggal di Bali.