
Minggu, 19 Oktober 2008 | 02:15 WIB
Washington, Sabtu - Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menyerukan perlunya merombak sistem keuangan global. Sarkozy berniat membahas langkah perombakan ini dalam pertemuan dengan Presiden AS George Walker Bush di Camp David, Maryland, Sabtu (18/10) waktu setempat.
Sarkozy berada di AS dengan mandat penuh dari Uni Eropa guna mendesak Bush melakukan perombakan total sistem keuangan dunia. Sarkozy ditemani Ketua Komisi Eropa Jose Manuel Barroso. Bush akan ditemani Menkeu Henry Paulson dan Menlu Condoleezza Rice. Perjalanan Sarkozy ini di tengah terus bermunculan berita suram akibat krisis keuangan.
Hanya saja niat Sarkozy ini belum ditanggapi serius AS. Gedung Putih sebelumnya sudah mengingatkan bahwa pembicaraan selama tiga jam di Camp David ini tidak akan menghasilkan sebuah usulan kebijakan baru, atau tanggal dan lokasi bagi adanya pertemuan puncak para pemimpin dunia.
Perancis berharap adanya pertemuan puncak pemimpin dunia pada akhir bulan depan di New York. Sarkozy berniat bertemu para pemimpin G-8 di sana. Pertemuan ini akan menekan- kan perlunya reformasi menyeluruh dalam sistem keuangan dunia.
Sarkozy dan PM Kanada Stephen Harper menyerukan sebuah pertemuan puncak internasional pada akhir tahun 2008 guna mengoordinasikan respons penting atas krisis keuangan terburuk sejak Depresi Besar tahun 1930-an. Depresi Besar diawali dengan jatuhnya harga saham di bursa saham New York pada 24 Oktober 1929 yang dikenal dengan Selasa Kelabu.
”Dunia kini dikonfrontasi oleh krisis keuangan dan kondisi ekonomi yang terburuk sejak tahun 1930-an. Kita perlu merefleksikan peran, bagaimana kita bisa begini dan siapa yang bertanggung jawab, dan apa yang terjadi,” ujar Sarkozy saat pertemuan puncak negara-negara berbahasa Perancis di Kanada, Jumat malam.
Sarkozy sebelumnya mendesak perombakan arsitektur keuangan internasional yang dibangun sejak Konferensi Bretton Woods tahun 1944. Namun, Bush tidak membuat komentar publik soal usulan ini. Staf Gedung Putih menegaskan, pertemuan di Camp David ini hanya membahas langkah segera mengatasi krisis.
”Banyak pemimpin memiliki ide untuk memperbaiki sistem keuangan dunia,” ujar juru bicara Gedung Putih, Tony Fratto. Namun, Gedung Putih berpandangan, agar sebaiknya mendengarkan juga ide dan masukan dari pemimpin kelompok-kelompok ekonomi lainnya.
Berita suram
Berita suram berkaitan dengan memburuknya ekonomi terus bermunculan. Berita meningkatnya pengangguran terus terjadi, para pengelola bank terus menghadapi tekanan, sementara harga saham di berbagai bursa saham dunia tetap tidak menentu.
Di AS, pasar masih tetap lesu. Data sektor konstruksi menunjukkan pembangunan rumah baru turun 6,3 persen pada bulan September mencapai level terendah sejak resesi tahun 1991. Tercatat hanya 817.000 rumah yang dibangun, turun 31,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kredit macet sektor perumahan menjadi pemicu utama krisis keuangan di AS yang kemudian melebar ke Eropa. Sejumlah bank dan lembaga keuangan raksasa ambruk akibat kredit macet sektor perumahan AS.
Tingkat pengangguran juga terus bertambah di Eropa dan AS, dengan sektor otomotif paling parah diterpa pemutusan hubungan kerja. Analis memperkirakan, kondisi ekonomi yang memburuk akan dihadapi negara-negara industri terkemuka.
Caisse d’Epargne Bank dari Perancis menjadi korban krisis paling akhir dengan kerugian 600 juta euro atau sekitar Rp 7,71 triliun dalam transaksi derivatif. Seorang pejabat Caisse d’Epargne Bank yang tak bersedia menyebutkan namanya mengatakan, semua direktur keuangan bank itu sudah dipecat karena kerugian tadi. (Reuters/AFP/ppg)