
Jumat, 24 Oktober 2008 | 01:05 WIB
Yogyakarta, Kompas - Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia menyelenggarakan Konferensi Mahasiswa Indonesia guna memperbarui Sumpah Pemuda 1928. Kongres yang berlangsung di Yogyakarta, 23-28 Oktober, ini diikuti perwakilan mahasiswa dari setidaknya 80 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia.
Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia, Budiyanto, mengatakan, Sumpah Pemuda perbaruan akan berisi pernyataan sikap dan komitmen mahasiswa terhadap berbagai persoalan bangsa, terutama kepemimpinan nasional. Detail Sumpah Pemuda perbaruan yang dideklarasikan 28 Oktober akan dibahas selama konferensi.
”Puluhan tahun Indonesia merdeka, tetapi tidak ada pemimpin yang benar-benar mampu menyatukan semua elemen bangsa dan mengatasi persoalan di Indonesia,” katanya di sela-sela diskusi pembuka konferensi Secangkir Kopi untuk Bangsaku di Yogyakarta, Kamis (23/10).
Menurut Budiyanto, Sumpah Pemuda 1928 masih relevan, tetapi diperlukan cara pandang baru, yaitu cara pandang yang lebih jauh ke depan menghadapi persoalan bangsa. Dalam konferensi dirumuskan langkah mahasiswa secara konkret dan detail.
Selain itu, kata Budiyanto, Sumpah Pemuda perbaruan bertujuan mengingatkan kembali kaum muda Indonesia akan komitmen pendiri bangsa. Sumpah Pemuda perbaruan diharapkan mampu menjadi tonggak bersatunya kembali kaum muda untuk mencapai tujuan bangsa sebagaimana terdapat dalam Undang- Undang Dasar 1945. ”Esensi yang kami usung tetap sama, yaitu bersatu nusa, bangsa, dan bahasa,” tuturnya.
Dalam konferensi itu juga akan dibahas Tujuh Gugatan (Tugu) Rakyat yang disampaikan melalui deklarasi dan aksi simpatik.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie dalam diskusi mengatakan, persatuan pelajar dan mahasiswa sangat penting dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa. Pemuda juga harus sadar, persatuan yang dimaksudkan bukanlah keseragaman yang mematikan keberagaman. ”Misalnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bukan berarti sebagai satu-satunya bahasa yang diakui bangsa dan negara,” katanya.
Menurut Jimly, Sumpah Pemuda menunjukkan peran penting pemuda dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan.
Dari Yogyakarta, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan juga menyatakan, bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, harus lebih optimistis menatap masa depan negeri ini. Bangsa Indonesia lebih banyak bersikap pesimistis terhadap kondisi negara. Gejala pesimistis terlihat setelah 10 tahun pascareformasi 1998.
Ia mengemukakan itu dalam sarasehan Menuju Indonesia Mulia yang merupakan rangkaian peringatan 100 tahun Kongres I Boedi Oetomo di Aula Budi Utomo, SMA Negeri 11 Yogyakarta, Rabu malam. (eng/ire)