Minggu, 05 Juli 2009
Sajak-sajak

Minggu, 26 Oktober 2008 | 01:41 WIB

 

 

Noorca M Massardi

Campuhan

Sungai purba itu bertemu di bawah titi jembatan

Tapi bukan tiba-tiba kalau lelaki dan perempuan itu bercampur

Di bawah beringin tua dan pohon-pohon bersulur

Yang melahirkan delta bersaji banten

Dan meluruhkan mereka di gunung lebah

Tempat kita bersuci dan berdesah

Alangkah agung langkahmu di situ

Ketika mendaki turuni sebali

Kiri kanan lembah yang gamang

Melapang ilalang nyuh rumputan

Memandang sawah dan jejauhan

Yang berbaring di bangkiang sidem

Tapi ke manakah tukad suci itu mengalir

Setelah warung murni dan bukit blanco?

Aku tak tahu, kataku

Dan engkau masih membisu

Di antara wos dan sungai cerik

Yang menyergap kenangan silam

Sementara nasi bu mangku masih di tangan

Dan kedewatan di luar jangkauan

Inikah kebahagiaan?

ubud, agustus 2008

 

Noorca M Massardi

Ubud

Di antara gunung kulihat engkau

Di antara lembah kulihat engkau

Di antara sungai kulihat engkau

Di antara lukisan kulihat engkau

Di manakah aku?

Engkau menghadang di tengah perjalanan

Engkau membayang di tengah tujuan

Engkau menantang di tengah perhentian

Engkau berkumandang di tengah ladang

Masih jauhkah dekatku?

Di tepi sawah engkau menyembah

Di tepi sungai engkau menggapai

Di tepi ngarai engkau merangkai

Di tepi bukit engkau mengungkit

Lupakah dia ingatku

Ketika malam kau bangun mentari?

Ketika mimpi kau terbang jaga?

Ketika pagi kau nyala bintang?

Ketika siang kau bawa bulan?

Maka matalah engkau padaku

Biar raut engkau wajahku

Dan hirup engkau ciumku

Hingga ucap engkau bibirku

Dan dekap engkau tubuhku

Sampai aku padamu

Hingga kamu padaku

Dan kita sembah padanya

ubud, agustus 2008

 

Noorca M Massardi

bedulu_

gua gajah itu termangu ragu ketika buddha tak kukuh lagi di atas dua pundak yang bercak sedang ia tak mampu menjejak isyarat karena kala alpakan karma dan bedulu menyusup ke dalam kolam dibawa malam ke bawah lembah di mana sungai bening mendesir menyeruak semak dan pepohonan sebelum menghanyut luka dan membetis pemburu yang datang berderap membawa wara dari raja maja yang bertakhta di sebelah nusa yang tengah jaya penuh kuasa.

anjing hutan pun melolongkan aungnya ketika aku berlari menerbangi titian yang berlembab darah dan bergaram punggawa sementara samuhan tiga berkukuh diri mengingat langit menuju lalu bersama gamelan mengantar tembang mengiring tari dan ruh leluhur hingga menjulang ke puncak kahyangan di antara latar dan penataran yang mengiring pedanda menyapa dewa ketika pelebon terus menyala mengabadikan sukma di setra-setra di pura dalem abad dan abad.

banten dan saji telah disiapkan untuk arwah segala sudut yang mengacung di atas kebaya yang mengolah dan menata beban tanpa kata dan hanya mantra dan aku terduduk di sudut siku menghanyut jari ke pemandian suci di gapura yang tak kunjung lupa pada çaka dan pada babad.

dan di sini di tempat ini aku dahulu aku sekarang dalam bedulu dalam samuhan dalam tiga dalam menjaga dalam dua dalam mendoa dalam satu dalam berpadu dalam tiyang yang tak kunjung tahu: duh aji dan biang kami maka diamlah barang sekejap sebab tibalah sudah saatnya kata seru menderu-deru hingga tersungkur ke dalam tungku yang membakar menjadi abu menjadi bisu menjadi dedalu yang dari dulu datang berhulu sebagai bulu tanpa pun ragu. kaukah itu?

ubud, agustus 2008

 

Noorca M Massardi

pejeng_

telah kuhitung tangga batumu ketika lungsur

dan kubaca kaki kudaki kuingat lagi

tapi jumlahmu senyata takdir padaku

sebagai kau uji para jawara

yang berlaga siapa perkasa

bersujud senyap pengukur-ukuran

telah kujaga sungai lembah tebingmu

 kugeliatkan akar daun pohonmu

tapi ia menghanyutkanku ke genderang bulan

yang terpasung di penataran sasih

di atas menara yang tak kunjung goyah

yang menyangga logam mengelam

setelah berbalut kisah dan konon

yang dipetik dari penanda langit

dan diukir di luas semesta

kebo iwa!

kebo edan!

di mana

batuan

kalian

endapkan?

ubud, agustus 2008

 

Kurnia Effendi

Tamu

Langkahnya sangat kita kenal. Bersijingkat datang menghampiri

Ia mengucap salam lirih saja, bagai berbisik, namun rongga telinga kita

menggemakan panjang, hingga palung hati mendengarnya.

Suara kakinya terdengar tegar, ia mendatangi beranda rumah kita

Diketuknya pintu dalam jumlah yang wajar sekadar membuat kita sadar

Namun degup jantung kita berulang menggandakannya. Sampai-sampai gemetar

serat jiwa, seperti kedatangan seseorang yang tak terduga

Senyumnya sudah terasa karib dalam pandangan kita. Ia duduk di atas sofa, dalam

ruang perasaan kita. Demi pengalaman yang terus-menerus tertimbun peristiwa

remeh-temeh setiap hari, ingatan kita hendak melupakannya. Pura-pura

baru mengenalnya agar punya alasan untuk bicara sejak awal perkara

Dengan gembira atau ciut hati, tamu itu sungguh tak peduli

Dalam genggamannya terlihat cahaya tumpah berpendar-pendar

setiap kali membentur tanah. Lantai yang kita pijak dan penuh jejak,

cenderung berwarna kelam. Cahaya itu, bercak-bercak sinar itu,

serupa busa sabun mainan masa kanak-kanak, mencoba

membersihkan seluruh noktah gelap

Kita masih termangu setelah membuka pintu. Percakapan dirundung gagu

2008

 

Kurnia Effendi

Cemas

Hitunglah perasaan cemasmu dengan rasa khawatir yang lain. Seperti melipatgandakan

butiran batu dalam genggaman hingga kian berat menjadi beban. Hitunglah perasaan sedihmu

dengan rasa duka yang lain. Bagai menimbun bahan makanan yang seharusnya kaubagikan

kepada tangan-tangan tengadah. Hitunglah rasa sakitmu dengan nyeri yang lain. Seolah

seluruh duri di bumi ini milikmu yang enggan berpisah dari lembut tubuhmu. Hitunglah

perasaan kehilanganmu dengan rasa sunyi yang lain. Itulah rindu yang tak kunjung menemu

tempat berlabuh

Padahal jika kau tahu, betul-betul Ia semayam di urat nadimu

2008

 

Kurnia Effendi

Bulan Muda

Seruncing pedang pendekar, ujung lidahmu menggores langit fajar

Seutas cakrawala serasa terlepas paut, terpelanting untai benangnya menyeberangi laut

Di ujung sana ombak berarak-arak menghiasi pucuk-pucuk riak

Malam jauh menghilang, melupakan sejumlah utang-piutang

Dusun yang terlindung halimun menuai embun di kaki gunung

Seorang pelayar belia melambai-lambaikan bendera, dalam sayup lentera

Pemburu tua lepas dari rimbun hutan berpisah dengan bekantan

Para pemagut ilmu yang terjaga sepertiga malam di sudut aula

Pelantun suara manis yang sering pulang dalam taburan gerimis

Mereka menyambut segaris bulan muda sepucat suasa

Kalis oleh semburat surya yang terbit dengan tergesa

2008

 

Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah. Ia menulis puisi dan prosa. Kumpulan puisinya berjudul Kartunama Putih (1997). Ia tinggal di Jakarta.

Noorca M Massardi adalah sastrawan yang bertahun-tahun bekerja sebagai wartawan. Ia tinggal di Jakarta.

 

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: