
Minggu, 26 Oktober 2008 | 01:41 WIB
Noorca M Massardi
Campuhan
Sungai purba itu bertemu di bawah titi jembatan
Tapi bukan tiba-tiba kalau lelaki dan perempuan itu bercampur
Di bawah beringin tua dan pohon-pohon bersulur
Yang melahirkan delta bersaji banten
Dan meluruhkan mereka di gunung lebah
Tempat kita bersuci dan berdesah
Alangkah agung langkahmu di situ
Ketika mendaki turuni sebali
Kiri kanan lembah yang gamang
Melapang ilalang nyuh rumputan
Memandang sawah dan jejauhan
Yang berbaring di bangkiang sidem
Tapi ke manakah tukad suci itu mengalir
Setelah warung murni dan bukit blanco?
Aku tak tahu, kataku
Dan engkau masih membisu
Di antara wos dan sungai cerik
Yang menyergap kenangan silam
Sementara nasi bu mangku masih di tangan
Dan kedewatan di luar jangkauan
Inikah kebahagiaan?
ubud, agustus 2008
Noorca M Massardi
Ubud
Di antara gunung kulihat engkau
Di antara lembah kulihat engkau
Di antara sungai kulihat engkau
Di antara lukisan kulihat engkau
Di manakah aku?
Engkau menghadang di tengah perjalanan
Engkau membayang di tengah tujuan
Engkau menantang di tengah perhentian
Engkau berkumandang di tengah ladang
Masih jauhkah dekatku?
Di tepi sawah engkau menyembah
Di tepi sungai engkau menggapai
Di tepi ngarai engkau merangkai
Di tepi bukit engkau mengungkit
Lupakah dia ingatku
Ketika malam kau bangun mentari?
Ketika mimpi kau terbang jaga?
Ketika pagi kau nyala bintang?
Ketika siang kau bawa bulan?
Maka matalah engkau padaku
Biar raut engkau wajahku
Dan hirup engkau ciumku
Hingga ucap engkau bibirku
Dan dekap engkau tubuhku
Sampai aku padamu
Hingga kamu padaku
Dan kita sembah padanya
ubud, agustus 2008
Noorca M Massardi
bedulu_
gua gajah itu termangu ragu ketika buddha tak kukuh lagi di atas dua pundak yang bercak sedang ia tak mampu menjejak isyarat karena kala alpakan karma dan bedulu menyusup ke dalam kolam dibawa malam ke bawah lembah di mana sungai bening mendesir menyeruak semak dan pepohonan sebelum menghanyut luka dan membetis pemburu yang datang berderap membawa wara dari raja maja yang bertakhta di sebelah nusa yang tengah jaya penuh kuasa.
anjing hutan pun melolongkan aungnya ketika aku berlari menerbangi titian yang berlembab darah dan bergaram punggawa sementara samuhan tiga berkukuh diri mengingat langit menuju lalu bersama gamelan mengantar tembang mengiring tari dan ruh leluhur hingga menjulang ke puncak kahyangan di antara latar dan penataran yang mengiring pedanda menyapa dewa ketika pelebon terus menyala mengabadikan sukma di setra-setra di pura dalem abad dan abad.
banten dan saji telah disiapkan untuk arwah segala sudut yang mengacung di atas kebaya yang mengolah dan menata beban tanpa kata dan hanya mantra dan aku terduduk di sudut siku menghanyut jari ke pemandian suci di gapura yang tak kunjung lupa pada çaka dan pada babad.
dan di sini di tempat ini aku dahulu aku sekarang dalam bedulu dalam samuhan dalam tiga dalam menjaga dalam dua dalam mendoa dalam satu dalam berpadu dalam tiyang yang tak kunjung tahu: duh aji dan biang kami maka diamlah barang sekejap sebab tibalah sudah saatnya kata seru menderu-deru hingga tersungkur ke dalam tungku yang membakar menjadi abu menjadi bisu menjadi dedalu yang dari dulu datang berhulu sebagai bulu tanpa pun ragu. kaukah itu?
ubud, agustus 2008
Noorca M Massardi
pejeng_
telah kuhitung tangga batumu ketika lungsur
dan kubaca kaki kudaki kuingat lagi
tapi jumlahmu senyata takdir padaku
sebagai kau uji para jawara
yang berlaga siapa perkasa
bersujud senyap pengukur-ukuran
telah kujaga sungai lembah tebingmu
kugeliatkan akar daun pohonmu
tapi ia menghanyutkanku ke genderang bulan
yang terpasung di penataran sasih
di atas menara yang tak kunjung goyah
yang menyangga logam mengelam
setelah berbalut kisah dan konon
yang dipetik dari penanda langit
dan diukir di luas semesta
kebo iwa!
kebo edan!
di mana
batuan
kalian
endapkan?
ubud, agustus 2008
Kurnia Effendi
Tamu
Langkahnya sangat kita kenal. Bersijingkat datang menghampiri
Ia mengucap salam lirih saja, bagai berbisik, namun rongga telinga kita
menggemakan panjang, hingga palung hati mendengarnya.
Suara kakinya terdengar tegar, ia mendatangi beranda rumah kita
Diketuknya pintu dalam jumlah yang wajar sekadar membuat kita sadar
Namun degup jantung kita berulang menggandakannya. Sampai-sampai gemetar
serat jiwa, seperti kedatangan seseorang yang tak terduga
Senyumnya sudah terasa karib dalam pandangan kita. Ia duduk di atas sofa, dalam
ruang perasaan kita. Demi pengalaman yang terus-menerus tertimbun peristiwa
remeh-temeh setiap hari, ingatan kita hendak melupakannya. Pura-pura
baru mengenalnya agar punya alasan untuk bicara sejak awal perkara
Dengan gembira atau ciut hati, tamu itu sungguh tak peduli
Dalam genggamannya terlihat cahaya tumpah berpendar-pendar
setiap kali membentur tanah. Lantai yang kita pijak dan penuh jejak,
cenderung berwarna kelam. Cahaya itu, bercak-bercak sinar itu,
serupa busa sabun mainan masa kanak-kanak, mencoba
membersihkan seluruh noktah gelap
Kita masih termangu setelah membuka pintu. Percakapan dirundung gagu
2008
Kurnia Effendi
Cemas
Hitunglah perasaan cemasmu dengan rasa khawatir yang lain. Seperti melipatgandakan
butiran batu dalam genggaman hingga kian berat menjadi beban. Hitunglah perasaan sedihmu
dengan rasa duka yang lain. Bagai menimbun bahan makanan yang seharusnya kaubagikan
kepada tangan-tangan tengadah. Hitunglah rasa sakitmu dengan nyeri yang lain. Seolah
seluruh duri di bumi ini milikmu yang enggan berpisah dari lembut tubuhmu. Hitunglah
perasaan kehilanganmu dengan rasa sunyi yang lain. Itulah rindu yang tak kunjung menemu
tempat berlabuh
Padahal jika kau tahu, betul-betul Ia semayam di urat nadimu
2008
Kurnia Effendi
Bulan Muda
Seruncing pedang pendekar, ujung lidahmu menggores langit fajar
Seutas cakrawala serasa terlepas paut, terpelanting untai benangnya menyeberangi laut
Di ujung sana ombak berarak-arak menghiasi pucuk-pucuk riak
Malam jauh menghilang, melupakan sejumlah utang-piutang
Dusun yang terlindung halimun menuai embun di kaki gunung
Seorang pelayar belia melambai-lambaikan bendera, dalam sayup lentera
Pemburu tua lepas dari rimbun hutan berpisah dengan bekantan
Para pemagut ilmu yang terjaga sepertiga malam di sudut aula
Pelantun suara manis yang sering pulang dalam taburan gerimis
Mereka menyambut segaris bulan muda sepucat suasa
Kalis oleh semburat surya yang terbit dengan tergesa
2008
Kurnia Effendi lahir di Tegal, Jawa Tengah. Ia menulis puisi dan prosa. Kumpulan puisinya berjudul Kartunama Putih (1997). Ia tinggal di Jakarta.
Noorca M Massardi adalah sastrawan yang bertahun-tahun bekerja sebagai wartawan. Ia tinggal di Jakarta.