
Minggu, 2 November 2008 | 01:41 WIB
yang selalu terjadi di hari minggu
: inez dikara
ia mengacungkan kuas itu persis ke mukaku
mungkin bertanya atau hanya menggerutu:
apa aku berusaha menghapus jejak di dinding
sebagaimana dulu kerap kumatikan lampu
untuk mengakhiri pertunjukannya
tapi nyatanya ia justru bertanya,
“di mana kausimpan album kita
yang dulu ada di meja itu?”
aku hanya memegang dadaku
tak menunjuk sesuatu, selain rasa sakitku
lalu ia menempelkan telinga
ke televisi. entah merekam apa
“kaudengar detak jantungku?”
kubenamkan wajahku ke dalam bantal
dalam-dalam. jadi bulan-bulanan ingatan
ceritaku, anakku, tak pernah berakhir dalam sebuah botol. layaknya hujan, ia menjelma selokan yang melintas di bawah jendela kamarmu, menyaru kabut di kaca rumahmu. meski kadang berhenti menjadi kursi bagi tidurmu yang tak nyenyak
ia tertawa, keras dan menggelikan. juga mengerikan
luar biasa, ia bisa dengan cepat menggulung ingatan
aku mesti berlama-lama menunggu,
memilih waktu dengan jitu
: ini bukan sekadar mencuci kenangan
atau memasaknya dengan cara lain
sudahlah,
kami lantas membelah sepi;
kendaraan meluncur kesetanan
tak perlu mengerling di tiap tikungan
atau menguras senyuman
mereka toh telah menutup daun pintunya
begitu sepi yang tengah kauhayati itu
: menjadi dan susah dimengerti
jogjakarta, 2008
jalan kecil di belakang rumahmu
membujur jalan setapak, tanpa pohon, tanpa pagar
kesedihan segera meluap dari tubuhnya seperti es krim,
meleleh di tangan bocah
: kental dan setengah dingin
menyentuhnya membuatmu menepi sebentar
dari kenyataan yang jauh menyedihkan
kenangan, sebutlah demikian,
kini menyusur jalan setapak itu
tanpa pohon, tanpa pagar
tanpa aku dan kamu lagi
jogjakarta, 2008
penari dari masa lalu
kenakan kacamata hitammu. biar gelap lebih gelap dari biasanya. ini saatnya melepas lelahmu, menutup dirimu dari keramaian. kepadamu akan datang seorang lelaki yang berpendar dalam cahaya lampu senter. menari bersamamu hingga kau pecah berserakan seperti vas bunga yang jatuh dari meja makan. dan pagi akan merapikanmu kembali seperti perawan yang bangun sedikit kesiangan
jogjakarta, 2008
tobong 3
kepiting yang luka—bagaimana aku harus memanggilmu—yuyu rumpung dari kampung yang jauh, sebuah pulau yang tak mengenal arah dan cermin. tubuhmu yang melepuh menghalau kesepian sampai punah seluruh sejarah leluhurmu. aku memanggilmu lagi untuk menghidupkan malamku yang biasa-biasa saja. di sini. di tobong yang kehilangan isi
jogjakarta, 2008
rumah kosong
apa yang membasahi tubuhmu, apa yang mengepungmu, hantu-hantu dari masa lalu?
tak ada apa-apa lagi di rumah ini. semuanya sudah pergi. keset karet di ruang depan itu tak menjelaskan apa-apa. ia telah lama kehilangan kaki. dan tangga besi di gudang belakang. siapa lagi yang menaiki kini?
juga garpu yang menancap dalam di dinding dapur itu (begitu dalam,
hampir-hampir tak kelihatan, cuma setitik hitam)
sesuatu memang pernah terjadi. sesuatu yang mengemudikan kita dengan cepat hingga tersesat sampai di sini. sesuatu yang mungkin akan kita bicarakan lagi nanti—dengan ringan dan penuh senyuman
jogjakarta, 2008
bocah bajang yang bangun siang-siang
: aranku sunya
bocah bajang yang putus asa membalik impian jadi kenyataan
kini sudah tak ada
ia keburu dewasa—ia telah larung seluruh belatinya
: samudra tetap luas, angin tetap tak punya sarang
tapi bocah bajang yang lain telah datang
tanpa sekeranjang kalanjana di punggungnya
ia pakai dasi kupu-kupu di lehernya, manis sekali,
dengan baluran kembang telon dari ibunya
tak ada batok kelapa atau cemeti lagi
ia berjalan dengan ringan
menuju samudra dan angin yang sama
jogjakarta, 2008
mengenang lau po nio
aku akan meninggalkanmu sebentar, membiarkanmu menunggu sementara waktu. malam turun terbata-bata, mengendap di aspal-aspal jalan yang dilintasi para peronda yang meninggalkan gardunya masing-masing. kelengangan yang asing mengunci dirinya rapat- rapat. tapi di langit, bulan kembali menghadirkan alis matamu. kegagalan yang kesekian kali. tapi bagaimanapun, aku akan tetap merawat pengkhianatan semacam ini
jogjakarta, 2008
riwayat 2 sungai
: f.i.
kita adalah 2 sungai 1 mata air
dan mengalir
membelah bebatu
menuju samudra yang satu
kita tak tahu kapan alir kita ketemu
sebagai sungai kita tak pernah tahu
tapi samudra, ia begitu mengenal kita
sebagaimana mata air yang melahirkan kita
di antara 2 sungai hanya ada lagu-lagu
yang kerap menumbuhkan rindu
dan rindu itu bercecabang
—yang oleh waktu,
sebagian hilang sebagian jadi kenangan
: delta-delta dan daratan
aku tahu kau ada
entah di sebelah mana dari tubuhku
aku pun demikian, katamu
sebagai sungai kita tak punya banyak bahasa
untuk saling mengatakan cinta atau apa saja
kita hanya harus terus mengalir
menggulirkan perasaan-perasaan
yang mungkin berlebihan
tapi benar dan menggetarkan
sebab kita sungai
: selalu penuh kelokan dan tipuan
jogjakarta, 2008
sejenis puisi cinta
lagi kuselami dirimu lewat secangkir kopi,
selembar potret,
dan sebentang jarak
(yang menyimpan perjalanan)
tak ada yang bisa menghabisinya
menghentikannya
hingga kematian menyelimuti dan mengantarmu
pada kobaran api
jogjakarta, 2008
Gunawan Maryanto lahir di Yogyakarta, 10 April 1976. Ia menulis puisi dan prosa, bergiat di Teater Garasi dan BlockNot Institute.