Sabtu, 04 Juli 2009
Sajak-sajak Gunawan Maryanto

Minggu, 2 November 2008 | 01:41 WIB

yang selalu terjadi di hari minggu

: inez dikara

ia mengacungkan kuas itu persis ke mukaku

mungkin bertanya atau hanya menggerutu:

apa aku berusaha menghapus jejak di dinding

sebagaimana dulu kerap kumatikan lampu

untuk mengakhiri pertunjukannya

tapi nyatanya ia justru bertanya,

“di mana kausimpan album kita

yang dulu ada di meja itu?”

aku hanya memegang dadaku

tak menunjuk sesuatu, selain rasa sakitku

lalu ia menempelkan telinga

ke televisi. entah merekam apa

“kaudengar detak jantungku?”

kubenamkan wajahku ke dalam bantal

dalam-dalam. jadi bulan-bulanan ingatan

ceritaku, anakku, tak pernah berakhir dalam sebuah botol. layaknya hujan, ia menjelma selokan yang melintas di bawah jendela kamarmu, menyaru kabut di kaca rumahmu. meski kadang berhenti menjadi kursi bagi tidurmu yang tak nyenyak

ia tertawa, keras dan menggelikan. juga mengerikan

luar biasa, ia bisa dengan cepat menggulung ingatan

aku mesti berlama-lama menunggu,

memilih waktu dengan jitu

: ini bukan sekadar mencuci kenangan

atau memasaknya dengan cara lain

sudahlah,

kami lantas membelah sepi;

kendaraan meluncur kesetanan

tak perlu mengerling di tiap tikungan

atau menguras senyuman

mereka toh telah menutup daun pintunya

begitu sepi yang tengah kauhayati itu

: menjadi dan susah dimengerti

jogjakarta, 2008

 

jalan kecil di belakang rumahmu

membujur jalan setapak, tanpa pohon, tanpa pagar

kesedihan segera meluap dari tubuhnya seperti es krim,

meleleh di tangan bocah

: kental dan setengah dingin

menyentuhnya membuatmu menepi sebentar

dari kenyataan yang jauh menyedihkan

kenangan, sebutlah demikian,

kini menyusur jalan setapak itu

tanpa pohon, tanpa pagar

tanpa aku dan kamu lagi

jogjakarta, 2008

 

penari dari masa lalu

kenakan kacamata hitammu. biar gelap lebih gelap dari biasanya. ini saatnya melepas lelahmu, menutup dirimu dari keramaian. kepadamu akan datang seorang lelaki yang berpendar dalam cahaya lampu senter. menari bersamamu hingga kau pecah berserakan seperti vas bunga yang jatuh dari meja makan. dan pagi akan merapikanmu kembali seperti perawan yang bangun sedikit kesiangan

jogjakarta, 2008

 

tobong 3

kepiting yang luka—bagaimana aku harus memanggilmu—yuyu rumpung dari kampung yang jauh, sebuah pulau yang tak mengenal arah dan cermin. tubuhmu yang melepuh menghalau kesepian sampai punah seluruh sejarah leluhurmu. aku memanggilmu lagi untuk menghidupkan malamku yang biasa-biasa saja. di sini. di tobong yang kehilangan isi

jogjakarta, 2008

 

rumah kosong

apa yang membasahi tubuhmu, apa yang mengepungmu, hantu-hantu dari masa lalu?

tak ada apa-apa lagi di rumah ini. semuanya sudah pergi. keset karet di ruang depan itu tak menjelaskan apa-apa. ia telah lama kehilangan kaki. dan tangga besi di gudang belakang. siapa lagi yang menaiki kini?

juga garpu yang menancap dalam di dinding dapur itu (begitu dalam,

 hampir-hampir tak kelihatan, cuma setitik hitam)

sesuatu memang pernah terjadi. sesuatu yang mengemudikan kita dengan cepat hingga tersesat sampai di sini. sesuatu yang mungkin akan kita bicarakan lagi nanti—dengan ringan dan penuh senyuman

jogjakarta, 2008

 

bocah bajang yang bangun siang-siang

: aranku sunya

bocah bajang yang putus asa membalik impian jadi kenyataan

kini sudah tak ada

ia keburu dewasa—ia telah larung seluruh belatinya

: samudra tetap luas, angin tetap tak punya sarang

tapi bocah bajang yang lain telah datang

tanpa sekeranjang kalanjana di punggungnya

ia pakai dasi kupu-kupu di lehernya, manis sekali,

dengan baluran kembang telon dari ibunya

tak ada batok kelapa atau cemeti lagi

ia berjalan dengan ringan

menuju samudra dan angin yang sama

jogjakarta, 2008

 

mengenang lau po nio

aku akan meninggalkanmu sebentar, membiarkanmu menunggu sementara waktu. malam turun terbata-bata, mengendap di aspal-aspal jalan yang dilintasi para peronda yang meninggalkan gardunya masing-masing. kelengangan yang asing mengunci dirinya rapat- rapat. tapi di langit, bulan kembali menghadirkan alis matamu. kegagalan yang kesekian kali. tapi bagaimanapun, aku akan tetap merawat pengkhianatan semacam ini

jogjakarta, 2008

 

riwayat 2 sungai

: f.i.

kita adalah 2 sungai 1 mata air

dan mengalir

membelah bebatu

menuju samudra yang satu

kita tak tahu kapan alir kita ketemu

sebagai sungai kita tak pernah tahu

tapi samudra, ia begitu mengenal kita

sebagaimana mata air yang melahirkan kita

di antara 2 sungai hanya ada lagu-lagu

yang kerap menumbuhkan rindu

dan rindu itu bercecabang

—yang oleh waktu,

sebagian hilang sebagian jadi kenangan

: delta-delta dan daratan

aku tahu kau ada

entah di sebelah mana dari tubuhku

aku pun demikian, katamu

sebagai sungai kita tak punya banyak bahasa

untuk saling mengatakan cinta atau apa saja

kita hanya harus terus mengalir

menggulirkan perasaan-perasaan

yang mungkin berlebihan

tapi benar dan menggetarkan

sebab kita sungai

: selalu penuh kelokan dan tipuan

jogjakarta, 2008

 

sejenis puisi cinta

lagi kuselami dirimu lewat secangkir kopi,

selembar potret,

dan sebentang jarak

(yang menyimpan perjalanan)

tak ada yang bisa menghabisinya

menghentikannya

hingga kematian menyelimuti dan mengantarmu

pada kobaran api

jogjakarta, 2008

Gunawan Maryanto lahir di Yogyakarta, 10 April 1976. Ia menulis puisi dan prosa, bergiat di Teater Garasi dan BlockNot Institute.

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: