Senin, 22 Maret 2010
Yayan, Perajin Miniatur Perahu Sriwijaya

Senin, 3 November 2008 | 00:55 WIB

WISNU AJI DEWABRATA

Salah satu ”penanda” kejayaan Kerajaan Sriwijaya bisa dilihat dari miniatur perahu buatan Maruk Yulianto. Perahu yang pada masanya dulu menjadi kebanggaan Kerajaan Sriwijaya itu, rupanya berbentuk perahu layar yang dilengkapi cadik dengan hiasan kepala ular kobra pada haluannya.

Maruk Yulianto adalah sosok orang muda Palembang yang mampu mengembangkan usaha kecil dengan modal kerja keras, kreativitas, dan cita-cita. Ketika orang tak terpikir mewujudkan kembali kebanggaan Kerajaan Sriwijaya itu dalam bentuk miniatur, ia melakukannya. Bahkan menjadi bisnis yang mampu menyangga perekonomian keluarga.

Di rumah sekaligus ruang pamernya di kompleks OPI Jakabaring, Palembang, Yayan, nama panggilannya, mengungkapkan, usaha membuat miniatur perahu itu berawal dari hobi mengumpulkan suvenir. Ia lantas terpikir mengapa tak membuat suvenir khas Sumatera Selatan, sebagai pilihan lain di samping kain songket dan pempek.

”Sriwijaya adalah kerajaan maritim, jadi suvenir yang harus ditonjolkan seharusnya perahu layar Sriwijaya,” katanya.

Tahun 2003, Yayan bersama teman-teman merintis pembuatan miniatur perahu Sriwijaya, perahu jukung, dan miniatur Jembatan Ampera dari bahan tripleks, kayu, dan bambu. Dialah yang merancang semua miniatur tersebut.

”Waktu itu produksi kami masih sedikit, dalam satu hari hanya bisa membuat satu produk. Kami belum tahu teknik pembuatan yang efisien dan cara menjualnya,” kata Yayan yang memberi nama usahanya Putra Sriwijaya Art.

Mereka kemudian mencoba memasarkan miniatur itu dengan mengikuti berbagai pameran di Palembang. Modal untuk mengikuti pameran berasal dari kantong sendiri.

Berkat rajin mengikuti pameran dan kualitas produk yang baik, pesanan mulai berdatangan. Pesanan pertama datang dari DPD Real Estat Indonesia (REI) Sumsel, sebanyak 50 miniatur perahu jukung, yang dapat diselesaikan dalam waktu sebulan.

Pesanan berikutnya datang dari panitia Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI di Sumatera Selatan. Suvenir tersebut berupa 100 buah miniatur perahu Sriwijaya dengan panjang 25 sentimeter untuk para tamu penting. Semua itu membuat mereka mendapat kredit Rp 20 juta dan pembinaan usaha kecil dari PT Pupuk Sriwijaya (Pusri).

Dibantu tiga tenaga kerja, Yayan bisa membuat 100 miniatur setiap bulan. Bahkan saat pesanan menumpuk, ia terpaksa meminta bantuan perajin lain untuk membuat suvenir itu. Harga miniatur produknya bervariasi, dari puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah.

Produk yang dihasilkan pun berkembang, selain perahu Sriwijaya dan Jembatan Ampera, ada pula miniatur rumah tradisional Sumatera Selatan, seperti rumah limas, rumah rakit, rumah Ogan Ilir, dan miniatur perahu dalam botol. Yayan juga membuat miniatur perahu VOC dan miniatur perahu Dewa Ruci yang sangat detail seharga Rp 5 juta. Katanya, diperlukan sekitar 1,5 bulan untuk membuat miniatur sepanjang hampir 1 meter tersebut.

Miniatur perahu Sriwijaya buatan Yayan pun belakangan diekspor ke Taiwan oleh pihak kedua sebagai perantara. Miniatur perahunya juga diminati para awak kapal dari Jerman dan Ukraina yang singgah di pelabuhan PT Pusri.

Namun, usaha Yayan pun tak lepas dari berbagai kendala. Kesulitannya, antara lain, pada sumber daya manusia. Sulit mencari anak muda di Palembang yang tertarik bekerja membuat kerajinan. Pekerja yang ada pun masuk-keluar, karena merasa penghasilan sebagai perajin tak mencukupi.

Modalnya juga relatif terbatas. Untuk pemasaran produk, Yayan masih memakai sistem titip jual kepada beberapa hotel dan toko kerajinan di Palembang atau melalui perajin dari Jawa Timur.

Riset dan payung hukum

Yayan tak sembarangan membuat desain perahu Sriwijaya. Supaya bentuk perahunya mendekati akurat, ia melakukan riset kecil-kecilan dengan mendatangi Balai Arkeologi Palembang. Ia juga membandingkannya dengan relief perahu cadik di Candi Borobudur.

”Saya bertanya ke Balai Arkeologi Palembang soal bentuk perahu Sriwijaya, termasuk bentuk hiasan di haluan, apakah bentuk naga atau ular kobra? Dipilih bentuk ular kobra karena jenis ular ini merupakan simbol agama pada waktu itu,” ujarnya.

Menurut Yayan, Balai Arkeologi Palembang memberi penegasan, miniatur pun merupakan produk seni. Hal itu perlu ditegaskan, sebab sangat sulit mencari bentuk perahu Sriwijaya yang benar-benar akurat.

Selanjutnya Yayan berusaha mendapatkan sertifikat Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dari Departemen Hukum dan HAM untuk melindungi desain perahu Sriwijaya ciptaannya.

”Saya datang ke Departemen Hukum dan HAM tahun 2004 untuk mengurus sertifikat HaKI. Saya mendaftarkan hak cipta dan hak desain industri miniatur perahu Sriwijaya,” katanya.

Proses pembuatan sertifikat memakan waktu setahun lebih. Semua biaya proses pengurusan sertifikat tersebut keluar dari koceknya, ia mengaku tak bisa mengharapkan bantuan pemerintah.

”Ini produk ciptaan kita. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi yang memperjuangkan? Hak paten songket diambil Malaysia, tempe diambil Jepang, masak perahu Sriwijaya mau diambil orang lain juga,” katanya.

Ditentang orangtua

Jalan hidup Yayan sebagai perajin miniatur semula ditentang orangtua. Seperti kebanyakan orangtua, mereka pun ingin agar anak mereka bekerja sebagai orang kantoran. Apalagi Yayan adalah sarjana Teknik Kimia Universitas Sriwijaya.

”Saya pernah bekerja di perusahaan kelapa sawit, tapi tidak betah. Saya memilih wirausaha sebab tak mau terikat. Saya melihat ini sebagai peluang, karena belum ada yang membuat miniatur seperti ini,” ujar Yayan yang sejak kecil berjualan pempek dan roti. Saat kuliah, ia berjualan baju dan kain untuk menambah uang saku.

Baginya, besar-kecil penghasilan sebagai wirausaha atau karyawan bersifat relatif, meski tujuannya sama, yakni mendapatkan uang untuk kehidupan yang nyaman. Ada orang yang berpendapat lebih nyaman menjadi karyawan karena peng- hasilan bisa besar, sedangkan dia merasa lebih enak menjadi wirausaha karena tidak ada tekanan, tidak ada yang mengatur, dan tidak ada bos yang memarahi.

”Sebagai karyawan yang hidup dari gaji setiap bulan, kita bisa menghitung jumlah penghasilan selama hidup. Sedangkan sebagai wirausaha, kita bisa memperoleh penghasilan yang tak terbatas,” kata Yayan yang semakin mantap menekuni dunia miniatur.

BIODATA

Nama: Maruk Yulianto ST

Lahir: Palembang, 13 Juli 1978

Pendidikan:

- Teknik Kimia Universitas Sriwijaya, lulus 2003

- SMA Negeri 9 Palembang, 1997

- SMP Negeri 7 Palembang, 1994

- SD Muhammadiyah 2 Palembang, 1991

Istri: Dewi Ariyanti ST (28)

Anak:

- Muhammad Akbar Budi Prakoso (3)

- Muhammad Arief Nur Cahyo (1,5)

Prestasi:

- Juara II Lomba Desain Industri yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palembang, 2004

- Juara I Pemuda Pelopor Bidang Kewirausahaan Kota Palembang, 2008

 

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: