Minggu, 05 Juli 2009
Sajak Sajak

Minggu, 9 November 2008 | 02:03 WIB

Riki Dhamparan Putra

Cerita Bodoh

Kepada Noorca M Massardi

1.

Ke pulau Lombok

Air diam saja

ketika kapal-kapal rusak dari Padang Bai

menyeberangkan ratusan orang

tanpa sekoci dan baju pelampung

meninggalkan asap hitam

memaksa laut yang tak lagi asin

berpura-pura

mengirimkan angin garam

Tiba-tiba aku merasa tak pernah bepergian

Ombak menghapus jejak

Dan kembali resah

Di lubuknya ikan-ikan

meregang nyawa karena

siripnya merapuh tercampur limbah

minyak tumpah

Selat Lombok

Mungkin hanya satu lompatan ringan bagi seekor

kuda air

Namun enam jam menuju Lembar

lama sekali berakhir

Hingga aku mendengar suara penggerek

menurunkan pintu baja

bunyi alarm

dan suara gaduh orang-orang

berebut turun

ke dermaga

Tak ada yang asing

Aku melihat cermin yang sudah tua

Di dalamnya ada tubuh pengemis dan gelandangan

Jalan raya malam

Lampu-lampu mengeja huruf

di setiap persimpangan

2.

Seorang musafir fakir

Mengucap salam kepada air

di manapun bertemu

Tak terkecuali di Tetebatu

Bahkan di bawah air terjun yang dingin

Ia melepas baju

Lalu berendam bagai sepotong ranting

Hening di sekeliling

Nafas murni air menghembusnya

dari ketinggian seratus kaki

dari tuas-tuas batu yang basah

dari akar lumut dan pohonan

yang menggelayuti tebing

dengan pasrah

Ia bahkan tak mendengar gema

Saat sesuatu yang selembut puding es menyusup

ke relungnya

Sesuatu yang tak bisa diterangkan dengan kata

Dan di saat itu

ia merasa dibebaskan dari seluruh penderitaannya

3.

Mendengarmu mengaji

Sama artinya dengan mendengar

cerita bodoh petani

di sepanjang lereng Gunung Rinjani

Mengucap salam kepada aroma pestisida

Kepada janda janda miskin

Anak-anak kampung yang menerima upah

dengan tangan dekil

Hamparan ladang tembakau seluas pandang

Tidak membebaskan mata

Malahan menyekapku dalam hawa panas tak terkira

Bau sangit daun menebar

dari oven-oven pengeringan berdinding bata tebal

Bacalah sekali lagi

Aku masih ingin mendengarmu

Aku ingin kau mengerti betapa panorama yang hijau ini

tak ubahnya penipu di mataku

Lombok, Agustus-September 2008

 

Riki Dhamparan Putra

Jalan ke Tilong

Pada jejak yang pulang

Aku tinggalkan untukmu jalan ke Tilong yang sunyi

Pohon tuak seratus tahun dan wangi gula cair

Bocah-bocah berbahu kayu

tertatih-tatih memikul jeriken air

Aku tinggalkan juga sepotong senja purba

Bukit-bukit hantu

Dan jurang-jurang yang dalam

Di tempat mana Pah Nitu bangkit

serupa larung yang memanggil-manggil

di ambang malam

Ia begitu dekat

Dan mungkin ingin mengambilmu

Namun ia tak memiliki jalan

Ibu Tua di langit telah mengikatnya

di tempat-tempat pemujaan

Maka datanglah kepada angin kepada debu

datanglah kepada yang memiliki isi kebun

dan bendungan

kepada Pah Tua yang mengirim

badai dan penyakit

kepada Ibu Tua dan Ama Tua

yang berdiam

di langit paling tinggi

Apa kamu masih menanam padi dan jagung

Apa kamu masih menyadap nira

Atau mungkin kamu marah

kepada hidup yang tidak adil

Adukanlah semuanya

Peluklah pohon

Menyanyilah di pucuknya

Kasih bumi tak berhenti

Pada jejak yang pulang ia menemanimu

bersama roh

orang mati

Kupang, April-Mei 2008

 

Inggit Putria Marga

tiga angsa

1. bulu putih

terapung sendiri di tepi rawa, mengitari hutan seroja, mencari-cari sisa purnama.

ia temukan wajah matahari yang menggenang sia-sia, koyakan luka daun-daun padma juga kodok yang begitu dikenalnya. apa kabar anda? sapa angsa yang putih santan bulunya, kodok menyelam ke dalam rawa. pendaran air mengombang-ambingkan luka daun-daun padma, memecah wajah matahari

yang menggenang sia-sia.

2. bulu hitam

bersampan di tengah rawa, pikiran-hati gulana, tak satu pun ikan termangsa.

ia mengutuki cuaca, menyumpahi matahari yang tajam sinarnya. diserapahinya pula angin yang meletakkan sampah plastik di sampannya. pergi anda ke neraka! maki angsa yang hitam batu bara bulunya. sampah plastik menyelam ke dasar rawa.

di sana, sesosok kodok terganggu kesunyiannya.

3. bulu putih hitam

melayang di atas rawa, dunia bagai air di kelapa terbelah dua.

ia merindukan mama dan papa. mama yang putih dan papa yang hitam. mama yang terapung letih dan papa yang bersampan dendam. saya kangen anda berdua,

lirih angsa yang yin-yang warna bulunya. dipandangnya dua angsa di tepi dan tengah rawa, ditatapnya awan-awan bergerak ke utara. ia terbang menjauh dari rawa: hal yang selalu melemahkan kepak sayapnya.

2008

 

Inggit Putria Marga

menjelang hari raya

anak anjing jenis golden retriever—bulu cokelat lebat dan mata agak berkurap—gemetar di depan pintu toko sembako. orang-orang berkelebat di depannya. orang-orang hanya melewatinya. ia pandangi hutan manusia. dalam duduk terengah-engah, ia tebarkan kutu- kutunya.

anak manusia jenis betina—kulit arang dan hidung bundar pinang—gemetar di seberang pintu toko sembako. orang-orang berkerumun mengelilinginya. orang-orang sibuk melempar tanya. ia pandangi jasad lelaki di depannya. dalam duduk

terengah-engah, ia dekap pisau lipatnya.

anak burung jenis gereja—paruh lancip dan cakar serapuh abu dupa—gemetar di atap teras toko sembako. orang-orang tak pernah mendongak padanya. orang-orang hanya mengalir bagai liur naga. ia pandangi anak anjing dan anak manusia yang gemetar seperti dirinya. dalam hinggap terengah-engah, sebutir peluru entah dari mana, menembus tubuhnya.

2008

 

M Aan Mansyur

Bermain Hujan

Pada mulanya hujan itu hanya ada di dalam mimpiku, di dalam tidurku, di sepasang mataku yang terpejam.

Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada sepasang mataku yang tidak tidur. Aku selalu menemukan bebulu mataku basah bagai embun di rerumputan, di pagi dan sore hari.

Kemudian hujan itu jatuh cinta juga kepada tubuhku. Hujan senang sekali menyiram-memandikan tubuhku. Tubuhku tiba-tiba saja memiliki sebuah kamar mandi dengan sebuah kolam yang selalu penuh dengan hujan.

Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada tempat tidurku, kepada kamarku, juga rumahku. Rumahku penuh hujan. Aku melihat lemari, kursi dan meja, pakaian, buku-buku, dan kenanganku berenang-renang di genangan hujan.

Kemudian hujan jatuh cinta kepada halaman rumahku. Hujan menenggelamkan pohon-pohon dan bunga-bunga yang pernah ditanam di taman itu. Aku melihat tangkai dan bangkai bunga mengapung-apung di depan rumahku.

Kemudian hujan itu juga jatuh cinta kepada jalan raya. Aku menyaksikan hujan itu berjalan seperti kendaraan di atasnya. Aku tak tahu akan berjalan menuju ke mana.

Engkau tahu? Aku selalu membayangkan hujan itu singgah di halaman rumahmu, mengetuk-ngetuk pintu rumahmu, mendesak masuk ke kamarmu, naik ke tempat tidurmu, merasuk ke tubuhmu, dan jatuh cinta kepada matamu.

Aku selalu berdoa, di dalam tidurmu, di dalam mimpimu, sepasang matamu yang terpejam melihat aku dan hujan, melihat aku bermain hujan, bermain hujan sendirian. Dan engkau ingin sekali menemani aku bermain hujan.

Makassar, 2008

 

M Aan Mansyur

Di Matamu

Di matamu aku lihat wajahku jadi pohonan tua dan mataku adalah dua lembar daun yang kisut pelan-pelan basah oleh rimbun embun terakhir yang hangat dan sangat mencintai keduanya.

Di matamu masih akan terbitkah pagi lagi bagi mataku—atau matiku? Sebab dua daun jatuh itu sungguh akan selalu berkeras kembali mencari ranting pohonan yang pernah memeluk keduanya.

Makassar, 2008

Inggit Putria Marga lahir di Tanjungkarang, 25 Agustus 1981. Ia aktif di Komunitas Berkat Yakin, Bandar Lampung.

M Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982. Ia bergiat di Komunitas Sastra Jalan Pulang dan Komunitas Literasi Biblioholic di Makassar. Buku puisinya yang terbaru adalah Aku Hendak Pindah Rumah (2008).

Riki Dhamparan Putra lahir 1 Juli 1975 di Talamau, Sumatera Barat. Ia tinggal di Denpasar. Saat ini ia sedang menyiapkan buku kumpulan puisinya, Pembaringan Siang Malam.

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: