
Minggu, 9 November 2008 | 02:03 WIB
Riki Dhamparan Putra
Cerita Bodoh
Kepada Noorca M Massardi
1.
Ke pulau Lombok
Air diam saja
ketika kapal-kapal rusak dari Padang Bai
menyeberangkan ratusan orang
tanpa sekoci dan baju pelampung
meninggalkan asap hitam
memaksa laut yang tak lagi asin
berpura-pura
mengirimkan angin garam
Tiba-tiba aku merasa tak pernah bepergian
Ombak menghapus jejak
Dan kembali resah
Di lubuknya ikan-ikan
meregang nyawa karena
siripnya merapuh tercampur limbah
minyak tumpah
Selat Lombok
Mungkin hanya satu lompatan ringan bagi seekor
kuda air
Namun enam jam menuju Lembar
lama sekali berakhir
Hingga aku mendengar suara penggerek
menurunkan pintu baja
bunyi alarm
dan suara gaduh orang-orang
berebut turun
ke dermaga
Tak ada yang asing
Aku melihat cermin yang sudah tua
Di dalamnya ada tubuh pengemis dan gelandangan
Jalan raya malam
Lampu-lampu mengeja huruf
di setiap persimpangan
2.
Seorang musafir fakir
Mengucap salam kepada air
di manapun bertemu
Tak terkecuali di Tetebatu
Bahkan di bawah air terjun yang dingin
Ia melepas baju
Lalu berendam bagai sepotong ranting
Hening di sekeliling
Nafas murni air menghembusnya
dari ketinggian seratus kaki
dari tuas-tuas batu yang basah
dari akar lumut dan pohonan
yang menggelayuti tebing
dengan pasrah
Ia bahkan tak mendengar gema
Saat sesuatu yang selembut puding es menyusup
ke relungnya
Sesuatu yang tak bisa diterangkan dengan kata
Dan di saat itu
ia merasa dibebaskan dari seluruh penderitaannya
3.
Mendengarmu mengaji
Sama artinya dengan mendengar
cerita bodoh petani
di sepanjang lereng Gunung Rinjani
Mengucap salam kepada aroma pestisida
Kepada janda janda miskin
Anak-anak kampung yang menerima upah
dengan tangan dekil
Hamparan ladang tembakau seluas pandang
Tidak membebaskan mata
Malahan menyekapku dalam hawa panas tak terkira
Bau sangit daun menebar
dari oven-oven pengeringan berdinding bata tebal
Bacalah sekali lagi
Aku masih ingin mendengarmu
Aku ingin kau mengerti betapa panorama yang hijau ini
tak ubahnya penipu di mataku
Lombok, Agustus-September 2008
Riki Dhamparan Putra
Jalan ke Tilong
Pada jejak yang pulang
Aku tinggalkan untukmu jalan ke Tilong yang sunyi
Pohon tuak seratus tahun dan wangi gula cair
Bocah-bocah berbahu kayu
tertatih-tatih memikul jeriken air
Aku tinggalkan juga sepotong senja purba
Bukit-bukit hantu
Dan jurang-jurang yang dalam
Di tempat mana Pah Nitu bangkit
serupa larung yang memanggil-manggil
di ambang malam
Ia begitu dekat
Dan mungkin ingin mengambilmu
Namun ia tak memiliki jalan
Ibu Tua di langit telah mengikatnya
di tempat-tempat pemujaan
Maka datanglah kepada angin kepada debu
datanglah kepada yang memiliki isi kebun
dan bendungan
kepada Pah Tua yang mengirim
badai dan penyakit
kepada Ibu Tua dan Ama Tua
yang berdiam
di langit paling tinggi
Apa kamu masih menanam padi dan jagung
Apa kamu masih menyadap nira
Atau mungkin kamu marah
kepada hidup yang tidak adil
Adukanlah semuanya
Peluklah pohon
Menyanyilah di pucuknya
Kasih bumi tak berhenti
Pada jejak yang pulang ia menemanimu
bersama roh
orang mati
Kupang, April-Mei 2008
Inggit Putria Marga
tiga angsa
1. bulu putih
terapung sendiri di tepi rawa, mengitari hutan seroja, mencari-cari sisa purnama.
ia temukan wajah matahari yang menggenang sia-sia, koyakan luka daun-daun padma juga kodok yang begitu dikenalnya. apa kabar anda? sapa angsa yang putih santan bulunya, kodok menyelam ke dalam rawa. pendaran air mengombang-ambingkan luka daun-daun padma, memecah wajah matahari
yang menggenang sia-sia.
2. bulu hitam
bersampan di tengah rawa, pikiran-hati gulana, tak satu pun ikan termangsa.
ia mengutuki cuaca, menyumpahi matahari yang tajam sinarnya. diserapahinya pula angin yang meletakkan sampah plastik di sampannya. pergi anda ke neraka! maki angsa yang hitam batu bara bulunya. sampah plastik menyelam ke dasar rawa.
di sana, sesosok kodok terganggu kesunyiannya.
3. bulu putih hitam
melayang di atas rawa, dunia bagai air di kelapa terbelah dua.
ia merindukan mama dan papa. mama yang putih dan papa yang hitam. mama yang terapung letih dan papa yang bersampan dendam. saya kangen anda berdua,
lirih angsa yang yin-yang warna bulunya. dipandangnya dua angsa di tepi dan tengah rawa, ditatapnya awan-awan bergerak ke utara. ia terbang menjauh dari rawa: hal yang selalu melemahkan kepak sayapnya.
2008
Inggit Putria Marga
menjelang hari raya
anak anjing jenis golden retriever—bulu cokelat lebat dan mata agak berkurap—gemetar di depan pintu toko sembako. orang-orang berkelebat di depannya. orang-orang hanya melewatinya. ia pandangi hutan manusia. dalam duduk terengah-engah, ia tebarkan kutu- kutunya.
anak manusia jenis betina—kulit arang dan hidung bundar pinang—gemetar di seberang pintu toko sembako. orang-orang berkerumun mengelilinginya. orang-orang sibuk melempar tanya. ia pandangi jasad lelaki di depannya. dalam duduk
terengah-engah, ia dekap pisau lipatnya.
anak burung jenis gereja—paruh lancip dan cakar serapuh abu dupa—gemetar di atap teras toko sembako. orang-orang tak pernah mendongak padanya. orang-orang hanya mengalir bagai liur naga. ia pandangi anak anjing dan anak manusia yang gemetar seperti dirinya. dalam hinggap terengah-engah, sebutir peluru entah dari mana, menembus tubuhnya.
2008
M Aan Mansyur
Bermain Hujan
Pada mulanya hujan itu hanya ada di dalam mimpiku, di dalam tidurku, di sepasang mataku yang terpejam.
Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada sepasang mataku yang tidak tidur. Aku selalu menemukan bebulu mataku basah bagai embun di rerumputan, di pagi dan sore hari.
Kemudian hujan itu jatuh cinta juga kepada tubuhku. Hujan senang sekali menyiram-memandikan tubuhku. Tubuhku tiba-tiba saja memiliki sebuah kamar mandi dengan sebuah kolam yang selalu penuh dengan hujan.
Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada tempat tidurku, kepada kamarku, juga rumahku. Rumahku penuh hujan. Aku melihat lemari, kursi dan meja, pakaian, buku-buku, dan kenanganku berenang-renang di genangan hujan.
Kemudian hujan jatuh cinta kepada halaman rumahku. Hujan menenggelamkan pohon-pohon dan bunga-bunga yang pernah ditanam di taman itu. Aku melihat tangkai dan bangkai bunga mengapung-apung di depan rumahku.
Kemudian hujan itu juga jatuh cinta kepada jalan raya. Aku menyaksikan hujan itu berjalan seperti kendaraan di atasnya. Aku tak tahu akan berjalan menuju ke mana.
Engkau tahu? Aku selalu membayangkan hujan itu singgah di halaman rumahmu, mengetuk-ngetuk pintu rumahmu, mendesak masuk ke kamarmu, naik ke tempat tidurmu, merasuk ke tubuhmu, dan jatuh cinta kepada matamu.
Aku selalu berdoa, di dalam tidurmu, di dalam mimpimu, sepasang matamu yang terpejam melihat aku dan hujan, melihat aku bermain hujan, bermain hujan sendirian. Dan engkau ingin sekali menemani aku bermain hujan.
Makassar, 2008
M Aan Mansyur
Di Matamu
Di matamu aku lihat wajahku jadi pohonan tua dan mataku adalah dua lembar daun yang kisut pelan-pelan basah oleh rimbun embun terakhir yang hangat dan sangat mencintai keduanya.
Di matamu masih akan terbitkah pagi lagi bagi mataku—atau matiku? Sebab dua daun jatuh itu sungguh akan selalu berkeras kembali mencari ranting pohonan yang pernah memeluk keduanya.
Makassar, 2008
Inggit Putria Marga lahir di Tanjungkarang, 25 Agustus 1981. Ia aktif di Komunitas Berkat Yakin, Bandar Lampung.
M Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982. Ia bergiat di Komunitas Sastra Jalan Pulang dan Komunitas Literasi Biblioholic di Makassar. Buku puisinya yang terbaru adalah Aku Hendak Pindah Rumah (2008).
Riki Dhamparan Putra lahir 1 Juli 1975 di Talamau, Sumatera Barat. Ia tinggal di Denpasar. Saat ini ia sedang menyiapkan buku kumpulan puisinya, Pembaringan Siang Malam.