
Kamis, 13 November 2008 | 00:49 WIB
London, Rabu - Harga minyak turun lebih dari 2 persen pada perdagangan hari Rabu (12/11). Harga minyak diperdagangkan di bawah 58 dollar AS per barrel, harga terendah dalam 20 bulan terakhir.
Penurunan harga minyak dunia itu karena diperkirakan terjadi penurunan permintaan energi. Harga minyak sudah turun 60 persen dari harga puncak pada Juli sebesar 147 dollar AS per barrel.
Perkembangan melemahnya harga minyak ini melanjutkan penurunan harga sebesar 5 persen pada hari Selasa. Para analis mengatakan, arah pasar minyak saat ini sedang turun sehingga harga minyak akan terus berada di bawah 50 dollar AS per barrel.
Turunya harga minyak sempat melambat setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan memangkas lagi produksi minyak sebesar 1 juta barrel per hari. Sikap OPEC ini diputuskan dalam pertemuan di Aljazair bulan depan.
Sumber OPEC mengatakan, mereka mungkin akan memangkas produksi minyak tambahan 1 juta barrel per hari saat bertemu di Aljazair nanti karena menurunnya permintaan dunia. Sebelumnya, OPEC sudah sepakat memangkas 1,5 juta barrel per hari mulai 1 November karena penurunan harga minyak.
Akan tetapi, Qatar yang merupakan salah satu anggota terkecil OPEC telah menyatakan bahwa setidaknya sudah ada dua pembeli berjangka panjang dari Asia. Oleh karena itu, Qatar tidak akan memangkas produksi minyak mentahnya pada bulan November dan Desember.
Sementara itu, data persediaan minyak AS memperlihatkan adanya kenaikan sebesar 800.000 barrel pekan lalu. Data terbaru juga akan dikeluarkan pada Kamis ini.
Harga minyak AS jenis light sweet untuk pengiriman Desember mencapai 57,90 dollar AS per barrel atau turun 1,43 dollar AS. Harga minyak Brent London turun 1,20 dollar AS menjadi 54,51 dollar AS per barrel.
”Ketakutan bahwa resesi global akan memburuk dari hari ke hari membuat pasar komoditas semakin melemah. Permintaan minyak akan terus menurun,” ujar Rob Laughlin, analis minyak senior pada MF Global.
Analis berharap Badan Energi Internasional (IEA) akan menurunkan perkiraan permintaan minyak pada laporan bulanannya hari Kamis ini.
Penurunan permintaan
”Suasana sedang menurun di mana-mana. Saya berharap IEA mengurangi perkiraan permintaan energinya. Bahkan, angka-angka permintaan dari China dan Jepang pekan ini juga diperkirakan menurun,” ujar Tobias Merath, Kepala Riset Komoditas Credit Suisse, di Singapura.
Menurut sumber di pemerintahan China, pertumbuhan produksi industri di China menurun menjadi hanya sekitar 8 persen hingga Oktober lalu dalam tahun ini. Angka itu menunjukkan untuk pertama kalinya pertumbuhan produksi China hanya mencapai satu digit sejak tahun 2001. Data resmi baru akan keluar pada Kamis ini.
Pada hasil risetnya, Credit Suisse menambahkan, Departemen Energi AS kemungkinan akan memangkas perkiraan harga West Texas WTI Intermediate (WTI) yang dipublikasikan pada outlook energi jangka pendek hari Kamis ini.
WTI yang juga dikenal se- bagai texas light sweet merupakan salah satu jenis minyak mentah yang dijadikan sebagai patokan harga minyak pada kontrak berjangka di Bursa Berjangka New York.
Bank Dunia juga telah memangkas perkiraan permintaan minyak tahun 2009 di negara-negara berkembang dan telah menawarkan dana lebih dari 100 miliar dollar AS dalam tiga tahun ke depan untuk membantu negara-negara mengatasi krisis finansial.
Bank Dunia menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara berkembang dari 6,4 persen menjadi 4,5 persen. Penyebabnya adalah gonjang-ganjing finansial, pelemahan laju ekspor, serta menurunnya harga komoditas. (AP/Reuters/AFP/joe)