Minggu, 05 Juli 2009
Indonesia Menjadi Pusat Peringatan Dini Tsunami

Kamis, 13 November 2008 | 01:07 WIB

Denpasar, Kompas - Jejaring sistem pemantauan gempa dan peringatan dini tsunami Indonesia saat ini yang paling komprehensif di kawasan Samudra Hindia. Dengan kemampuan ini, Indonesia diakui sebagai Pusat Peringatan Dini Tsunami untuk kawasan Samudra Hindia yang meliputi 29 negara.

Hal ini disampaikan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman dalam International Conference on Tsunami Warning di Nusa Dua Bali, Rabu kemarin. Konferensi yang akan berlangsung hingga Jumat (14/11) itu dihadiri peserta dari 12 negara dan mempresentasikan 82 makalah yang terbagi dalam lima sesi, yaitu database pemantauan permukaan laut, pemodelan dan simulasi informasi, diseminasi komunikasi dan peringatan tsunami, mitigasi bencana, dan kesiapsiagaan masyarakat.

Kusmayanto mengatakan, pihaknya pernah mengusulkan agar jejaring pemantau dan peringatan dini tsunami di Samudra Hindia tidak berpola sentralistik, tetapi menggunakan konsep desentralisasi. Artinya, sistem jejaring dibangun di tiap negara anggota (network of networks/ NONs).

Menurut Kusmayanto, konsep ini diterima negara-negara di kawasan Hindia dan kemudian dikembangkan dalam lingkup global. Dalam forum PBB yang diadakan di Brussel, Austria, lanjut Kusmayanto, konsep NONs dituangkan dalam deklarasi Global Earth Observation System of Systems (GEOSS). GEOSS terdiri dari lima sistem pemantau tsunami, yaitu di Pasifik, Atlantik, Hindia, Sistem Eropa Utara dan Mediterania, serta Sistem Baltik.

Baru enam negara

Deputi Sistem Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prih Haryadi, menambahkan, saat ini dari 29 negara yang berada di Samudra Hindia yang berminat membangun sistem nasional pemantau tsunami baru enam negara, yaitu Australia, India, Indonesia, Iran, Malaysia, dan Thailand. Dari enam negara tersebut, hanya Iran yang belum membangun sistemnya. Malaysia hanya akan membangun sistem peringatan bagi kepentingan nasionalnya. Adapun Thailand membangun sistem peringatan tsunaminya di tingkat hilir yang berdasarkan informasi gempa dan tsunami dari negara lain, termasuk Indonesia.

Indonesia yang memiliki panjang garis pantai 81.000 kilometer, sekitar 57 persennya merupakan daerah rawan tsunami. Data BMKG tahun 1991 hingga 2008, Indonesia dilanda tsunami sekali dalam dua tahun.

Pembangunan InaTEWS

Sejak pembangunan jejaring Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS) pada tahun 2005, tambah Prih, dengan penerapan berbagai jejaring pemantau gempa dan pasang laut secara online tercapai peningkatan kecepatan penyampaian informasi peringatan dini tsunami dari 15 menit menjadi 5 menit mulai 2008 ini.

Ditambahkan Jan Sopaheluwakan, Deputi Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga Chairman Intergovernmental Coordination Group for the Indian Ocean Tsunami Warning and Mitigation System->small 2<Unesco>small 0<, Indonesia harus mulai membangun kemandirian dalam pengoperasian dan pemeliharaan sistem pemantau gempa dan peringatan dini tsunami yang dimilikinya. (YUN)

 

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: