Rabu, 10 Februari 2010
Genangan Air Lumpur Rawan Luber
Permukaan Air Hanya 20 Sentimeter dari Bibir Tanggul

Kamis, 13 November 2008 | 16:16 WIB

SIDOARJO, KOMPAS - Genangan air lumpur Lapindo di tanggul kolam lumpur Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, rawan luber dan menimbulkan wilayah terdampak lumpur yang baru. Aksi warga yang menghalangi peninggian tanggul menyebabkan air genangan semakin mendekati bibir tanggul.

Kini, tinggi permukaan air hanya berjarak sekitar 20 sentimeter dari bibir tanggul. Desakan semburan lumpur dari tanggul cincin di pusat semburan menyebabkan air semakin meninggi. Upaya peninggian tanggul terhenti sejak aksi warga Desa Renokenongo yang menolak penanggulan pada Jumat pekan lalu karena uang muka ganti rugi belum dibayar.

Kepala Humas Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BPLS) Achmad Zulkarnain mengungkapkan, sebagai upaya mencegah genangan air lumpur meluber, empat mesin pompa penyedot air telah dioperasikan. Pompa-pompa tersebut menyedot air untuk dialirkan ke Sungai Porong.

"Jika tidak disedot, kami khawatir air genangan tersebut meluber sehingga menyebabkan wilayah terdampak lumpur yang baru. Selain dibuang ke Sungai Porong, air juga kami alirkan ke tanggul kolam di titik 42," kata Zulkarnain, Rabu (12/11) di Sidoarjo.

Menurut Zulkarnain, jika air genangan lumpur benar-benar meluber, wilayah yang akan segera terkena genangan adalah permukiman di Desa Glagaharum, Kecamatan Porong, dan Desa Keboguyang di Kecamatan Jabon.

Tidak peduli Wintoko, salah satu korban lumpur dari Desa Renokenongo mengatakan, warga tidak peduli meskipun genangan air meluber dan menggenangi wilayah sekitar tanggul. Menurut dia, warga akan menghentikan aksinya jika uang muka ganti rugi segera dicairkan.

"Hanya satu permintaan kami, yaitu uang muka ganti rugi sebesar 20 persen segera dicairkan. Selama ganti rugi itu belum kami terima, kami tetap akan berada di sini," tutur Wintoko.

Menurut Wakil Ketua Warga Desa Renokenongo Korban Lapindo (Rekorlap) Pitanto, warga sudah lelah menunggu uang muka ganti rugi sebesar 20 persen yang belum juga diterima. Menurut dia, warga sudah kehilangan kesabaran setelah selama dua tahun tak kunjung menerima uang ganti rugi.

Sekitar 100 korban lumpur dari Desa Renokenongo pada Jumat (7/11) lalu berunjuk rasa dengan menduduki tanggul di titik nomor 41. Mereka menolak penanggulan yang sedang berlangsung sebelum uang muka ganti rugi sebesar 20 persen diterima warga. Selain mendirikan tenda di tanggul, warga juga menanami tanggul dengan pohon pisang. (APO)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: