
Jumat, 14 November 2008 | 00:27 WIB
Anggaran Pilpres Sebaiknya untuk Anak Kurang Gizi
Kepada pemerintah atau yang bekerja di pemerintahan: apa benar untuk anggaran pemilihan presiden (pilpres) sebesar Rp 9 triliun? Itu untuk apa saja? Apa gunanya pemilihan dilakukan sebanyak dua kali? Apa manfaatnya? Bukankah itu hanya menambah biaya? Bahkan, sebelum biaya Rp 9 triliun, anggaran yang diusulkan adalah sebesar Rp 13,5 triliun.
Anggaran untuk pilpres yang sudah berkurang itu dipotong oleh pemerintah dan DPR. Hebat sekali pemerintah di Indonesia untuk memilih presiden saja harus mengeluarkan uang triliunan, padahal katanya negara miskin.
Sebaiknya uang sebesar itu diprioritaskan untuk membantu rakyat miskin dan anak-anak yang kekurangan gizi di Indonesia, daripada dihambur-hamburkan untuk poster-poster dan spanduk yang ditempel di jalan raya yang malah merusak dan mengotori jalan.
Kita memilih presiden bukan untuk gaya-gayaan. Namun, memilih presiden untuk mengubah bangsa Indonesia yang terpuruk menjadi lebih maju lagi. Tolong dipikirkan kembali dana yang sebesar itu, apakah ada manfaatnya atau tidak karena itu adalah uang rakyat.
TIA OKTRIANA Jalan Cendani, Duren Sawit, Jakarta
XL tentang Tagihan Miliaran
Menanggapi surat Bapak Kushareyanto di Kompas (3/11) ”Tagihan Seluler Perseorangan Mencapai Rp 17,66 Miliar”, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami. Kami telah menghubungi Bapak Kushareyanto untuk menindaklanjuti dan menjelaskan permasalahan. Terkait dengan tagihan Bapak Kushareyanto (Nomor: 400-27686-2047) yang jatuh tempo pada tanggal 30 Oktober 2008 telah terjadi kesalahan cetak pada lembar tagihan dimaksud.
Saat ini telah dilakukan koreksi atas tagihan tersebut dan Bapak Kushareyanto dapat menerima penjelasan dari kami. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi layanan pelanggan melalui 817 (dari ponsel XL) atau (021) 57959817 dari telepon lain, atau mengirim e-mail ke: customerservice@xl.co.id.
Myra Junor GM Corporate Communication PT Excelcomindo Pratama Tbk
Satu Kursi Dua Tiket di Lion
Awalnya saya membeli tiket Lion Air Jakarta-Jayapura (atas nama Aviyanti sesuai KTP) pada agen PT Bumi Cenderawasih Perkasa (Bucend Tour & Travel) Jayapura untuk keberangkatan tanggal 23 Oktober 2008 pukul 22.35 (pesawat JT 798) dengan harga Rp 1.659.000. Setelah sampai di rumah tiket tersobek pada lembaran untuk boarding dan lembar tiket hilang. Sekitar empat jam sebelum jam keberangkatan saya cek dan saya telah masuk listing keberangkatan di Lion Air Bandara Soekarno-Hatta.
Karena lembar tiket saya hilang, sebelum keberangkatan saya mengurus tiket untuk memperoleh tiket pengganti di Lion Air Bandara Soekarno-Hatta. Saya sempat bersitegang dengan petugas Lion Air karena diharuskan untuk membeli tiket sesuai harga tiket, bukan diberikan pengganti tiket. Meski penerbangan belum dilaksanakan, tetapi petugas Lion Air menganggap bahwa jika lembar tiket tersobek dan hilang dianggap telah terbang dan sepertinya sesama petugas Lion Air telah saling kontak untuk hal ini.
Mendekati jam keberangkatan dan akhirnya saya harus membeli tiket baru dengan tawar-menawar sebesar Rp 1.459.000, di Lion Air Bandara Soekarno-Hatta. Petugas melayani dengan membalik nama pada tiket menjadi Yanti Avi (maksud di balik itu pasti agar tidak sesuai KTP) seakan-akan orang lain (bukan Aviyanti). Jadi, saya harus membeli dua tiket untuk satu kursi. Ini layanan Lion Air terburuk yang saya alami ketika sedang mengalami musibah.
AVIYANTI Jalan Nanas 3 B, Boyolali, Jateng
Tanpa PJU, Penabrak Maut Lari
Pada tanggal 4 November 2008 terjadi tabrak lari di Jalan RE Martadinata, Cipayung, Ciputat, Tangerang, sekitar pukul 21.30. Korban meninggal di tempat dengan luka di bagian kepala. Kejadiannya sangat cepat karena malam itu jalan sangat sepi dari lalu lalang kendaraan. Korban (usia 24 tahun) adalah pekerja di kompleks saya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan dari keluarga tidak mampu.
Menurut saksi yang melihat dari rumah, penabrak menggunakan mobil mini van sekelas Avanza/Innova berwarna putih/silver. Hal ini tidak tampak jelas oleh saksi karena penerangan jalan umum (PJU) tidak ada. Setelah tertabrak korban sempat ditarik ke sisi jalan oleh penabrak, tetapi penabrak melanjutkan perjalanan kembali dan bukan melapor kepada kantor polisi terdekat atau membawa korban ke rumah sakit.
Dengan kejadian ini, maka warga mengurus jenazah sampai selesai dan membawanya ke kampung halamannya untuk dikebumikan.
Untuk itu saya berharap pihak penabrak mohon bertanggung jawab dan pihak keluarga tidak akan menuntut secara hukum namun dapat diselesaikan secara kekeluargaan (bisa terlebih dahulu telepon ke nomor 021 74707273, dan telepon seluler 0816785545). Pihak penabrak telah membuat nyawa orang melayang.
WAHDINO Gardenia Estat Blok A 5/12 A, Ciputat, Tangerang
Kartu BCA Diblokir Masih Bobol
Menyimpan uang di bank ternyata tak menjamin uang bisa aman dari tangan orang yang tak bertanggung jawab. Seperti yang saya hadapi saat ini, kartu ATM BCA saya hilang dan dibobol orang tidak dikenal sebesar Rp 1.500.000. Padahal, masih dalam status kartu ATM diblokir dua hari kerja. Saya melapor kehilangan lewat Halo BCA tanggal 24 September pukul 18.00, dan 26 September 2009 pukul 11.00 dibobol orang tidak dikenal.
Mungkin karena bukan nasabah besar, kasus saya tidak ditanggapi dengan serius dan tuntas. Saya sangat kecewa kehilangan uang sebesar itu. Saya sudah meminta pertanggungjawaban dari Halo BCA dan kantor cabang tempat membuka rekening, tetapi lepas tangan.
Bagian layanan nasabah BCA Cabang Karang Anyar, Jakarta, hanya memberikan jawaban karena ada laporan kasus ini maka pemblokiran dua hari kerja berakhir pukul 16.00. Tetapi, tidak menyelesaikan masalah ganti rugi kehilangan uang yang saya alami.
Viliana Karang Anyar Jalan D No 13 Sawah Besar, Jakarta Pusat
Klarifikasi ke Berbagai Pihak
Menanggapi surat di Kompas (17/10) ”Asuransi Jiwasraya dan Nasabah Setia” yang disampaikan oleh Bapak Suyoto Hadisaputro, kami menyampaikan turut berdukacita atas wafatnya Ibu drg Hj Lilik Setyorini, salah satu nasabah Jiwasraya (Tertanggung) yang adalah istri Bapak Suyoto Hadisaputro selaku ahli waris. Kami mohon maaf atas pelayanan kantor kami di Malang Regional Office dalam pengurusan klaim meninggal dunia tertanggung.
Prosedur pengajuan klaim meninggal dunia untuk kondisi tertentu, seperti klaim Bapak Suyoto Hadisaputro selaku ahli waris memang memerlukan waktu karena harus dilakukan klarifikasi ke berbagai pihak terkait. Namun, demikian pihak kami telah bertemu langsung dengan Bapak Suyoto Hadisaputro dan permasalahan telah diselesaikan. Kewajiban kami untuk memberi pelayanan terbaik bagi para nasabah.
Wiwik Sutrisno Bagian Humas PT Asuransi Jiwasraya
Tidak Pernah Ditegur KPI
Pemberitaan di Kompas (10/11) ”Media Bisa Menginspirasi Kejahatan” yang menyebutkan, dalam pembagian porsi (pie chart) tayangan kekerasan yang bersumber dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terlihat bahwa Global TV menduduki peringkat teratas sebagai televisi yang paling sering menyiarkan program kekerasan di bulan September 2008 pada waktu prime time (pukul 18.00-21.00), yaitu sebesar 35,2 persen.
Perlu diklarifikasi, yaitu selama bulan Ramadhan (September) direntang waktu 18.00- 21.00 Global TV hanya menayangkan 25 judul program animasi dan keluarga, antara lain, Spirit Stallion, Thumbellina, The Three Musketeers, Flinstones, dan Lassie. Juga Sketsa Komedi Abdel & Temon. Semua program ini dalam penayangannya telah mendapatkan surat tanda lulus sensor (STLS).
Selama bulan September sampai Oktober 2008, Global TV tidak pernah mendapatkan teguran dalam bentuk apa pun yang berasal dari KPI terkait tayangan yang dapat dikategorikan bermasalah karena mengandung unsur kekerasan.
Kami sangat menyesalkan atas pemberitaan Kompas, terlebih tanpa melalui proses konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak kami. Hal tersebut dapat berpotensi memberikan citra buruk terhadap Global TV, berupa stasiun televisi yang memberikan kontribusi terbesar pada dampak kekerasan di kalangan masyarakat.
Imelda Triana Corporate Secretary PT Global Informasi Bermutu
Catatan Redaksi: Terima kasih atas penjelasannya. Berita dimaksud bersumber dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Bagasi Penumpang Rusak Diganti
Terkait dengan surat di Kompas (8/11) ”Bagasi di Pesawat Garuda Rusak” yang disampaikan oleh Bapak Gabriel A Danurdara, kami mohon maaf atas kejadian yang dialami dalam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta dengan pesawat Garuda (GA 325).
Sebagai bagian dari komitmen pelayanan kepada para pelanggan dan sesuai ketentuan yang berlaku di Garuda Indonesia, telah diberikan penggantian atas bagasi/tas Bapak Gabriel yang rusak pada tanggal 11 November 2008.
Pujobroto VP Corporate Secretary PT Garuda Indonesia (Persero)
Sudah Dilakukan Pengecekan Ulang
Sehubungan dengan surat Bapak Yustus Sulardjo di Kompas (30/10) ”Auto 2000 BSD Tidak Peduli”, dengan ini disampaikan, kami telah mengadakan pertemuan dengan pelanggan dan melakukan pengecekan ulang atas keluhan pada kendaraan dimaksud. Atas temuan masalah, saran serta penjelasan yang telah kami berikan kepada Bapak Yustus Sulardjo sudah diterima dan dimengerti.
Coddy Kurniawan Kepala Cabang Auto 2000 BSD