
Sabtu, 15 November 2008 | 11:21 WIB
SEMARANG, KOMPAS - Komunitas Sedulur Sikep atau masyarakat Samin meminta pihak peneliti melakukan penelitian mengenai kawan karst di Pegunungan Kendeng, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, bersama warga setempat. Penelitian bersama ini untuk menyamakan persepsi antara warga, peneliti, dan PT Semen Gresik yang akan mendirikan pabrik baru di Kecamatan Sukolilo.
Salah satu anggota Komunitas Sedulur Sikep, Gunarti, mengatakan hal itu dalam temu ilmiah yang difasilitasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah di Kota Semarang, Jumat (14/11). "Masyarakat yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di tempat itu tentu lebih memahami karakteristik wilayah, termasuk lokasi-lokasi rawan yang tidak boleh dirusak," katanya.
Gunarti mengatakan, jika peneliti tidak melibatkan warga dalam penelitian, hasilnya akan selalu bertentangan seperti yang terjadi selama ini. "Daerah di Sukolilo juga tidak dapat disamakan dengan daerah lain. Jika pendirian pabrik semen di daerah lain bisa berhasil baik, belum tentu hal serupa bisa terjadi di daerah kami," ujarnya.
Dengan pendirian pabrik semen di lahan sekitar 2.000 hektar, masyarakat khawatir akan kehilangan sumber air di kawasan Pegunungan Kendeng yang digunakan untuk irigasi dan penghidupan bagi penduduk. Sumber-sumber air itu dilindungi oleh kawasan karst yang sebagian akan ditambang oleh pabrik semen.
Menanggapi permintaan itu, peneliti dari Pusat Lingkungan dan Geologi Bandung, Wafid AN, mengatakan siap menerima warga yang ingin melakukan penelitian bersama. "Kami justru merasa terbantu jika memang warga memiliki data-data yang lebih lengkap dari yang kami miliki," kata Wafid.
Kepala Divisi Komunikasi PT Semen Gresik Saifuddin Zuhri mengatakan, pihaknya selalu terbuka mendengar masukan masyarakat. "Seluruh masyarakat baik yang pro maupun kontra tetap kami dengar," katanya. (uti)