Minggu, 14 Maret 2010
Sajak Hasan Aspahani

Minggu, 16 November 2008 | 01:54 WIB

Janin

: dari pantai telanjang ke rahim lautan

DI pantai itu ada peringatan:

Dilarang Bersenang!

Dia kira itu larangan berenang.

Laut sedang surut memang, tapi

kalaupun sedang besar pasang

-ia bertanya-buat apa pantai?

Buat apa peringatan?

Buat apa dia datang ke sana?

Tak ada pelabuhan di situ.

Tak ada perahu.

Tak ada kedai.

Tak ada gadis menunggu pelaut kekasihnya pulang.

Tak ada angin.

Tak ada pohon cemara dan pohon kelapa.

Tak ada bocah menatap bintang-bintang.

Dia pun ingin sekali percaya

bahwa sebenarnya dia pun tak ada di sana.

*

DIA rogoh saku jaket

tangannya tersentuh dompet.

Ah-dia ingat-di situ pasti ada Kartu Tanda Penduduk.

Dia bisa baca nama dan alamatnya.

Dia bisa lihat tanggal lahirnya.

Dia bisa tahu statusnya.

Dia bisa bertatap dengan foto dirinya.

Dia bisa bertemu tanda tangan camat

atas nama walikota

atas nama pemerintah

atas nama negara

yang membuat dia seakan-akan ada,

meskipun dia ingin sekali percaya bahwa

sebenarnya dia tak pernah ada,

negara itu tak pernah ada, dan

pemerintah itu pun tak pernah ada.

*

HEI, siapa yang merokok di pantai ini?

Ada ia temukan filter dan tembakau.

Abu.

Dan bau kretek.

Tapi tak ada jejak di pasir itu.

Siapa ya yang merokok tadi?

Ia tidak kenal aroma rokok itu.

Rokok apa ya itu?

Seperti bau kemenyan? Bukan.

Kelembak? Bukan.

Ia dekati rokok itu.

Tak ada bekas basah di ujung filter itu.

Tak ada bekas gigitan.

Rokok itu seperti terbakar sendiri,

Bara di ujungnya merambat sendiri

rajangan tembakau dan cengkeh satu per satu.

Seperti tak ada yang menghisapnya.

Ah, dia ingin sekali merokok, dia ingin

pungut batang rokok itu.

Dia pikir: Apakah ada yang

ingin aku temani merokok?

Apakah dia mengajak aku

merokok bersamanya?

*

DIA tiba-tiba ingat kata dapat.

Dia ingin mengucapkan beberapa

kalimat dengan kata itu.

Misalnya: Saya dapat menemukan diri saya sendiri.

Atau: Saya dapat mendapatkan diri saya sendiri.

Atau: Saya terdapat dalam diri saya sendiri.

Atau: Dapat tak dapat, saya harus dapat.

Atau: Hore saya dapat hadiah, yakni diri saya sendiri.

Berulang-ulang ia ucapkan kata itu.

Tapi ia belum juga

merasa menyatu dengan kata itu

ia belum dapatkan dapat.

Dia belum dapatkan dirinya dalam dirinya

dan dalam kata dapat itu.

Dia ingin sekali percaya

bahwa tidak ada dirinya dan tidak ada dapat, dan

tidak ada dapat yang dapat mendapatkan dirinya.

LALU apa yang menyebabkan dia ada di sini?

Di pantai ini?

Di pantai dengan larangan bersenang

yang dia kira larangan berenang ini?

Dia berjalan. Dia toleh ada bekas kakinya.

Dia bilang, kakiku telah menyebabkan

ada jejak tertinggal di pasir itu.

Kakinya bilang, tidak bukan aku,

tapi karena engkau berjalanlah

maka ada jejakku di pasir itu.

Pasir itu bilang, aku tidak kenal bekas

jejak itu, jejakmu atau jejak kakimu,

terlalu banyak jejak yang

harus kuingat kalau aku harus

mengenali jejak-jejak itu.

Dia terus saja berjalan

tanpa peduli apa yang menyebabkan

ia berjalan.

Ia ingin sekali meyakini bahwa tak ada yang

menyebabkan ia ada dan kelak tak ada.

*

DIA sudah jauh berjalan.

Dia tak lagi peduli pada jejaknya

di pasir sepanjang pantai itu.

Tapi, kenapa dia tiba-tiba

ingat pada peringatan.

Benarkah tadi dia membaca

peringatan itu? Dilarang berenang,

betulkah begitu kalimat peringatan itu?

Apakah dia tidak salah baca?

Kenapa seperti ada semacam kanker ingatan ganas

yang tak bisa ia kendalikan dalam otaknya,

kanker yang menumpang dalam ingatannya

tentang banyak hal?

Ia mengalami banyak hal,

ia mengingat banyak hal,

ia melupakan banyak hal.

Kenapa sesuatu tetap dalam

ingatan dan yang lain terlupakan?

Dia ingin berenang,

tapi kenapa ada peringatan itu?

Ia senang berenang, tapi,

kenapa orang dilarang bersenang di pantai ini?

*

DIA sekarang berdiri menatap laut.

Seperti benteng menghadang serangan

dari sepasukan kapal.

Dia melihat ada ombak.

Apakah ombak?

Cuma permukaan laut yang bergerak.

Dia ingin bilang, bahwa dia

seperti ombak.

Pikirannya seperti ombak.

Dia dan pikirannya ada kalau ia

dan pikirannya bergerak.

Ombak ada karena angin ada.

Angin yang menyebabkan permukaan laut bergerak.

Lalu apakah angin yang menyebabkan

dirinya dan pikirannya bergerak?

Dia bilang dia tak perlu angin.

Dia hanya perlu membayangkan sebuah

serangan datang padanya

dan pada otaknya.

Nah, sekarang dia bertanya kenapa

tadi dia ingin sekali meyakini bahwa

dirinya tidak ada?

*

DIA sekarang merasakan detak jantung

di dalam tubuhnya.

Dia tidak pernah memperhatikan detak itu

seperti saat ini.

Dia tiba-tiba ingin tahu

bagaimana dulu jantungnya mulai berdetak.

Bagaimana jantungnya mempertahankan detak itu.

Kenapa detak itu ada pada jantungnya?

Kalau detak itu berhenti,

kenapa dia harus ikut berhenti ada?

Ia tahu jantungnya bisa tiba-tiba

berhenti karena serangan berbagai hal.

Ia tak tahu bagaimana menahan atau

mengelak dari serangan itu.

Ia ingat rokok menyala yang tadi di bait ketiga.

Dia ingat keinginannya untuk

meyakini bahwa dia sebenarnya

tidak ada di bait-bait sebelum bait ini.

Tapi, kini dia sangat memperhatikan

detak jantungnya.

*

SEKARANG dia meraba pada kelaminnya.

Ada sesuatu di otaknya yang membuat

kelaminnya ada.

Dia kadang lupa pada kelaminnya,

seperti dia lupa pada bagian-bagian

tubuhnya yang lain. Misalnya, pada

jantung dan paru-paru.

Dia tahu kadang terjadi sesuatu pada

kelaminnya dan itu membuat jantungnya

berdetak lebih cepat.

Dia tiba-tiba saja telanjang dan

dia tidak rasakan apa-apa.

Dia merasa sejak lama dia telanjang.

Dia merasa tak pernah punya pakaian.

Pakaian kan cuma pakaian.

Cuma sesuatu yang dipakai.

Dengan pakaian sebaik apapun

dia toh tetap saja telanjang.

Di balik pakaian seindah apapun yang

ada hanya ketelanjangan.

Dia ingin berenang.

Dia melangkah ke laut yang telanjang.

Pantai yang telanjang.

Langit yang telanjang.

Udara yang telanjang.

Dia ingin bersetubuhan

dengan semuanya yang telanjang itu.

Semua yang tak peduli

dia mengidap impotensi atau tidak.

Sekarang dia merasa tak sia-sia ada.

Seperti ada yang menunggunya dengan asbak,

sekotak rokok, dan korek api.

 

*

DAN angin datang.

Kini ombak ada. Laut menggeliat-

geliatkan permukaannya. Angin menyentuhkan

dingin dan tiba-tiba dia

merasakan ketelanjangan tubuhnya.

Ini semacam gangguan pada ketiadaan.

Hanya dingin anginkah yang meyakinkan bahwa dia ada?

 

*

 

IA berjalan ke laut. Laut yang telanjang.

Ia melihat seperti ada rahim yang mengembang,

membuka, meminta dia datang. Ia ingat itu

seperti saat-saat ia dihamilkan dalam

sebuah rahim yang sangat ia kenal.

Ia berjalan ke laut seperti pulang

setelah singkat sebuah masa tualang.

Kakinya dipegangi gelombang.

Ia mencium bau laut. Seperti bau rahim

di mana di sana dulu ia belajar menendang,

menunggu tumbuh jantung, mata, paru-paru

dan jari untuk ia jilati sendiri.

 

*

 

LIHAT, ia lihat dirinya berenang senang

di rahim lautan. Tak ada larangan apa-apa.

Ia seperti janin yang tak akan pernah dilahirkan.

Ia berenang bersama tembuni lautan.

Ia berenang dengan ketuban lautan.

Ia berenang dalam detak lautan.

Share on Facebook
A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Ruli muncak @ Jumat, 12 Februari 2010 | 01:08 WIB
aku terkesima plus terpesona, Kang Hasan... kata kata itu sarat makna! salam
Ruli muncak @ Jumat, 12 Februari 2010 | 01:07 WIB
aku terkesima plus terpesona, Kang Hasan... kata kata itu sarat makna! salam
Kuswoyo Arief @ Kamis, 11 Februari 2010 | 06:00 WIB
Bhs yg lugas tapi sarat makna, silahkan menggali makna dalam tumpukan makna yg jelas terlukis dalam kelugasan bahasa sastra bang hasan.

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: