
Kamis, 20 November 2008 | 00:39 WIB
Medan, Kompas - Sedikitnya 60 anak muda di Sumatera Utara selama dua tahun ini berhasil mewarisi musik tradisi dari Batak Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak. Seniman-seniman tradisi yang baru itu akan menggelar hasil belajar mereka selama dua tahun pada akhir bulan ini di masing-masing daerah.
Direktur Program Revitalisasi Musik Tradisi Sumatera Utara, kerja sama Universitas Sumatera Utara dengan Ford Foundation, Rithaony Hutajulu, Selasa (18/11), mengatakan, ada lima sampai tujuh seniman tradisi di masing- masing daerah yang mengajar masing-masing dua sampai empat murid.
”Lalu ada semacam pergeseran kebiasaan dari murid yang ikut guru ke mana guru pergi, seperti kebiasaan transfer ilmu secara tradisi menjadi tatap muka,” kata Rithaony. Dan proses ini membutuhkan waktu untuk bisa berjalan baik.
Meskipun para guru yang berusia 45-84 tahun, seperti spesialis sarunai bilin Sumalungun Meja Saragih (84) menyatakan, murid-muridnya yang berusia antara 13 tahun dan 35 tahun sudah bisa pentas, kemampuan para murid dirasa belum mencapai tahap ahli, masih di tataran menengah.
”Butuh waktu dua tahun lagi untuk membuat mereka fasih. Selain itu, para murid ini juga bisa mengajar lagi peminat-peminat baru musik tradisi,” tutur Rithaony.
Prof Ramon P Santos, musikolog dari Universitas Philiphina, mengatakan, keresahan akan hilangnya musik tradisi terjadi di seluruh dunia. Di China, Kamboja, Filipina, dan Thailand menunjukkan musik tradisi semakin tergerus modernitas.(WSI)