
Kamis, 20 November 2008 | 02:24 WIB
Washington, Rabu - Resesi berupa kontraksi ekonomi sudah dimulai pada kuartal III-2008 dan berlanjut ke kuartal IV. Krisis keuangan di Amerika Serikat adalah pemicu dan kini mulai memukul investasi, perdagangan, bantuan, serta keyakinan konsumen dan investor.
”Krisis sektor keuangan kita telah menyebar ke seluruh sistem perekonomian,” kata Menteri Keuangan AS Henry Paulson, Selasa (18/11) di Washington, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Sektor Keuangan DPR AS.
Krisis keuangan AS sudah melenyapkan lembaga keuangan besar AS, seperti Lehman Brothers, dan ambruknya perolehan laba sejumlah perbankan AS lainnya. Hal itu disebabkan oleh macetnya sektor kredit di perumahan AS.
Krisis sektor keuangan AS telah menyebabkan seretnya aliran kredit, yang selanjutnya memperlambat investasi dan konsumsi. ”Tak ada jalan pintas memulihkan ekonomi. Dibutuhkan waktu bagi sektor keuangan kita untuk kembali menyalurkan kredit,” kata Paulson.
Asosiasi Nasional Ekonom Bisnis AS (NABE) menyatakan, krisis di AS telah merembet ke minimal 19 negara, termasuk 15 negara zona euro, Inggris, Kanada, Meksiko, dan Jepang.
Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan, krisis di negara anggota OECD dan Uni Eropa membuat Brasil, Rusia, India, dan China (Bric) tidak aman.
Menurunkan bantuan
Penurunan aktivitas ekonomi menyebabkan anjloknya perdagangan, aliran investasi, dan bantuan internasional—salah satu penggerak perekonomian. Kelompok negara berkembang yang terdiri dari 49 negara berkumpul di Siem Reap, Kamboja, Rabu, yang dibuka Perdana Menteri Hun Sen. Konferensi ini mengingatkan, aliran bantuan internasional dipastikan menurun.
Demikian halnya sektor perdagangan. Sektor ini sudah menurun. Ekspor Jepang ke AS, misalnya, anjlok. Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Pascal Lamy mengingatkan agar perdagangan diperlancar dengan mengurangi hambatan ekspor dan impor.
Masalah belum selesai. Krisis semakin memukul berbagai sektor di negara maju, seperti otomotif di AS dan sektor penerbangan. Hal ini menyebabkan sentimen buruk tetap mewarnai suasana di hampir semua bursa global. Sentimen buruk ini merembet ke penurunan kepercayaan konsumen dan investor sebagaimana dikatakan analis dari Barclays Capital, David Woo, di London.
”Fenomena risk aversion telah mendominasi bursa sekarang ini,” kata Neil Mellor, analis di Bank of New York Mellon.
Risk aversion adalah julukan bagi investor yang menghindari risiko, terutama saat situasi tidak menentu, yang bisa menyeretkan lagi arus investasi.(AP/AFP/MON/JOE)