Rabu, 10 Februari 2010
Sajak-sajak Dorothea Rosa Herliany

Minggu, 30 November 2008 | 02:14 WIB

Surat dari Ibu

kutulis pada lipatanlipatan wajahku yang lelah kukisahkan kekecewaanku

pada sungai yang makin kering menjalari rusukrusuk kota kita. seperti urat

yang tak lagi rajin mengalirkan darah ke penjuru tubuhmu. setiap jatuh daun

dan pendar uap menyanyikan murungku pada hari yang selalu berjalan resah.

detikdetik berjajar melukiskan gairah rumput dan amarah batu yang bisu.

kutuliskan suratku, tak beralamat rindu. tahuntahun yang renta mengurung

perjalanan hati yang tak punya cinta. selongsong waktu yang kerontang

berserakan. harihari baru yang berlumut tumbuh di atas tanah tandus.

kutulis surat ini di atas lelangit cerah di lengkung jejalan setapak ruangkosong.

kereta bayi dan keranda tua beriringan seperti bergegas mencari alamat dan nama.

tak kukirimkan kepada sesiapa....

parkhotel am taunus, oktober 2008

 

Ibu Sembarang Waktu

setiap pintu dan lapislapis tangga menembus igauan cahaya yang gelisah.

lalu di batas yang jauh sana tidak mudah kutebak bayangan menyingkap pendar udara.

langit mengatup pelahan. menyebarkan gerimis atau selinap embun yang bimbang.

ibuku melahirkan kegelapan dan bukit-bukit tandus. melahirkan kejahatan dan

kekacauan. tapi para dewa menghembuskan jiwa ke dalam cangkang-cangkang sunyi.

kehidupan merayap dalam jubahjubah para suci yang memanggul pedang dan

menenteng kepala. gelombang manusia menggulung dalam rintihan parasit di

pokokpokok pohon hutan asing. ibuku menuliskan kelahiran yang tidak berhenti....

rumahrumah ditinggalkan dalam dinding dan benteng yang renta. genangan sejarah palsu

mengubur lantailantai dan merapuhkan pintupintu dan meniupkan angin untuk

membangunkan geritnya. di langit yang tanpa warna burungburung nazar dan gagak liar

membesutkan

bayangan dan kabar keabadian derita.

ibuku menyusui jejakjejak gelap. gulungan waktu yang kering dan sepi. nyanyian pujian

dan ayat-ayat doa yang teramat jauh mendekap luka yang rindu pada keniscayaan.

anakanak durhaka dikloning dalam tebaran lalat dan serangga pencari darah dan nanah.

tubuhnya yang ditindih bermacam penyakit kelamin membekaskan jejak ludah tarantula tua.

sembarang bayi mengubur tubuhnya sendiri yang rapuh dengan tulangtulang lunak.

jarijari tangannya menggoreskan pesan rahasia: tak terbaca dalam kumpulan riwayat

dan doa pelepasan.

ibuku melahirkan sejarah gelap dan sakit. waktu bergerak memanjati bukitbukit ketakutan

dan detaknya menembus rerimba bisu yang mati. langkahlangkahnya menyanyikan gema

dan irama yang dingin dan sedih. bulan tua menuntaskan kalimat dalam sederet kisah luka.

sebagai telur yang gagal, aku membiarkan cangkangku retak dan menetaskan kesia-siaan....

oberursel, oktober 2008

 

Berlin

 —untuk Sabina

kuinginkan suatu waktu kau tinggal di sini. biarkan jarimu yang rahasia

meramal sendiri tunastunas hari yang membimbing buah cinta memahami benci.

kakimu berlari mengejar kereta dan menghitung jam kota yang tak pernah tua.

tubuhmu yang runcing menancapi lubuk hati setiap penghuni. matamu yang tulus

takkan ucapkan rindumu pada rumah dan kami yang tak pernah keluar dari takut akan benci.

jika engkau tua nanti, tuliskan pesan pendek pada sajakku: sebab engkau tak juga tahu

bahwa kebencian itu sesuci katakata. dan aku tak ingin engkau percaya.

oktober, 2008

 

Sumur Itu Menjadi Rumah bagi Entah

setiap kugali sumur tak kutemukan dasar. kutempuh sepersekian detik usia yang renta.

nafasku yang teramat pendek mendaki kedalamannya, dan pandangku yang rabun

menyelami ketinggiannya. ratusan kalimat doa berguguran menyunting tetembangan

di antara lamatlamat gema.

aku memanggili diriku sendiri yang merendam pekatmimpi. kujawab dengan bisikan resah.

rintihnya yang ngilu menuliskan biografi luka yang ranjab bagai tebaran pasir tajam.

ah, sedalam inikah kugali dan kugali jarak? agar rahimku menyimpan segulung sejarah bisu.

ya nabi! alangkah jauh bayangku. alangkah gelap lorong waktu.

semakin gelap oleh pendar langit yang menyangga bersit rautnya.

hauptwache, oktober 2008

 

Alloysya Louise

sedalam usiaku seseorang telah menyembunyikan rahasia seperti waktu.

melalui gerimis yang tak pernah setia ia rawat kesabaran menunggu lahir katakata.

tahun demi tahun buah yang montok menetas dan menghasilkan tebaran benih

yang akan menyuburkan berhektar tanahtandus dan bebukitan gelap dan sayup.

pemetik berbondong menuntun ternak yang menggendong harapan tua di setiap rindu.

rahasia itu meringkuk dalam gelembung udara yang menguap dari mulut pendusta.

udara yang kotor mengibas dan mengubah warnanya yang ranum menjadi hitam.

di setiap sudut cinta daundaun kering mengelamkan sunyi yang menguruk hati.

pondok-pondok kecil menyiapkan atap dan dindingnya bagi pejalan yang mencari.

serangga dan binatang malam mengutuk kidung jauh yang tak selesai ditembangkan.

di sini bidadari malam mengurungku. masih kubaca kalimat tua para pujangga dunia

yang berkisah tentang kebajikan burung gagak. langit mengirimkan gelapnya yang gigil

menuju ratusan abad kisah dalam kitab usang. tanganku diborgol kebebalan parabuas.

kakiku dibebani rantai dan ratusan kilo kebencian parasinis. hatiku dibunuh pengetahuan

akan surga. jiwaku dikutuk kebenaran paratamak.

sedalam waktu seseorang telah menuliskan rahasia. makin tua abad makin tak terbaca

lelambang buram dalam ringkiknya. kupecahkan ia dalam setiap rahasia baru pada janinku.

capelle, oktober 2008

 

Ulangtahun

dia tidak ingin lilin dan roti untuk ulangtahunnya kali ini

sebab, ia baru sadar betapa selama ini

tak pernah ia ingat haribaik dan kenangan akan waktu

lilin itu akan menerangi pikirannya, roti itu akan mengenyangkan tubuhnya

dan ia akan melupakan bahwa besok akan makin lambat datangnya

dia ingin hari ini secarik potret ibu. agar dia selalu ingat wajah waktu,

dan tak pangling pada tempat dari mana ia selalu berangkat.

waldlust-amsterdam, 20 oktober 2008

 

Morphology of Desire

seekor mantis hijau menyelinap ke balik dedaun lalu rebah ke tanah.

tarantula hitam liar menyergap dan mencumbunya. gelora yang sakit

menggulung hikayat dan mimpi dalam tebaran bintang dan getar pohon yang

meruntuhkan daundaun. langit seperti mengatup dalam lelehan pasta

yang mendidihkan rintih sembarang hasrat renta.

seekor mantis hijau mengejang dalam aura biru malam tanpa bulan.

ratusan bebintang jatuh berdentum dalam lenguh tarantula hitam yang meregangkan

waktu. detakdetak jam mengiring sederet syair pedih. nyanyian serangga yang jauh

mengatupkan langit dalam lelehan luka sembarang ngilu.

leiden, 2008.

 

Puisi Cinta Kelas Tiga

di kepala patung hitler gelembunggelembung soda dari mabokku menyebarkan nafas

menggarit luka langit di sembarang persimpangan padat dan traffic-light. hatimu

ribut oleh klakson dan derum knalpot. pikiranmu bising oleh rencanarencana dan

janjikosong. dari jendela apartemen 13 lantai kuledakkan amarah beku yang

mengeras dalam lemari es. dan kepongahanmu terpahat pada grafiti di lekuklekuk

gang kumuh kotaentah. kaubacakan catatanmu dalam blocknote jingga

: cintaku, masih basah ciumanmu tahun lalu....

aku terpampang di sembarang papan iklan menjulang di deretan jalan utama.

lampulampu bertebaran bagai semburan hujan lupa musim. dan kau tetap bersitegang

di dinding jembatan luar kota: melepaskanku pergi memburu resah.

kukira suatu saat akan kubuat mural terjelek tentangmu. dan kulupakan kota ini,

hingga terpejam matawaktu....

jakarta, 2008

Dorothea Rosa Herliany meraih Khatulistiwa Literary Award tahun 2005/2006 lewat kumpulan puisi Santa Rosa. Buku kumpulan puisinya yang lain, Kill the Radio, diterbitkan ulang di Inggris (Arc Publication, 2007). Karyanya telah diterjemahkan sedikitnya ke dalam enam bahasa.

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Viema mirzalita @ Jumat, 4 Desember 2009 | 11:58 WIB
aq boleh tnya g tentang puisi Anda yg Sungai. tentang polany yang berulang, gaya bahasa yg dgunakan,suasana yg dbangun kseluruhan teks,n unsur2 yg ada???

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: