
Minggu, 30 November 2008 | 02:14 WIB
Surat dari Ibu
kutulis pada lipatanlipatan wajahku yang lelah kukisahkan kekecewaanku
pada sungai yang makin kering menjalari rusukrusuk kota kita. seperti urat
yang tak lagi rajin mengalirkan darah ke penjuru tubuhmu. setiap jatuh daun
dan pendar uap menyanyikan murungku pada hari yang selalu berjalan resah.
detikdetik berjajar melukiskan gairah rumput dan amarah batu yang bisu.
kutuliskan suratku, tak beralamat rindu. tahuntahun yang renta mengurung
perjalanan hati yang tak punya cinta. selongsong waktu yang kerontang
berserakan. harihari baru yang berlumut tumbuh di atas tanah tandus.
kutulis surat ini di atas lelangit cerah di lengkung jejalan setapak ruangkosong.
kereta bayi dan keranda tua beriringan seperti bergegas mencari alamat dan nama.
tak kukirimkan kepada sesiapa....
parkhotel am taunus, oktober 2008
Ibu Sembarang Waktu
setiap pintu dan lapislapis tangga menembus igauan cahaya yang gelisah.
lalu di batas yang jauh sana tidak mudah kutebak bayangan menyingkap pendar udara.
langit mengatup pelahan. menyebarkan gerimis atau selinap embun yang bimbang.
ibuku melahirkan kegelapan dan bukit-bukit tandus. melahirkan kejahatan dan
kekacauan. tapi para dewa menghembuskan jiwa ke dalam cangkang-cangkang sunyi.
kehidupan merayap dalam jubahjubah para suci yang memanggul pedang dan
menenteng kepala. gelombang manusia menggulung dalam rintihan parasit di
pokokpokok pohon hutan asing. ibuku menuliskan kelahiran yang tidak berhenti....
rumahrumah ditinggalkan dalam dinding dan benteng yang renta. genangan sejarah palsu
mengubur lantailantai dan merapuhkan pintupintu dan meniupkan angin untuk
membangunkan geritnya. di langit yang tanpa warna burungburung nazar dan gagak liar
membesutkan
bayangan dan kabar keabadian derita.
ibuku menyusui jejakjejak gelap. gulungan waktu yang kering dan sepi. nyanyian pujian
dan ayat-ayat doa yang teramat jauh mendekap luka yang rindu pada keniscayaan.
anakanak durhaka dikloning dalam tebaran lalat dan serangga pencari darah dan nanah.
tubuhnya yang ditindih bermacam penyakit kelamin membekaskan jejak ludah tarantula tua.
sembarang bayi mengubur tubuhnya sendiri yang rapuh dengan tulangtulang lunak.
jarijari tangannya menggoreskan pesan rahasia: tak terbaca dalam kumpulan riwayat
dan doa pelepasan.
ibuku melahirkan sejarah gelap dan sakit. waktu bergerak memanjati bukitbukit ketakutan
dan detaknya menembus rerimba bisu yang mati. langkahlangkahnya menyanyikan gema
dan irama yang dingin dan sedih. bulan tua menuntaskan kalimat dalam sederet kisah luka.
sebagai telur yang gagal, aku membiarkan cangkangku retak dan menetaskan kesia-siaan....
oberursel, oktober 2008
Berlin
—untuk Sabina
kuinginkan suatu waktu kau tinggal di sini. biarkan jarimu yang rahasia
meramal sendiri tunastunas hari yang membimbing buah cinta memahami benci.
kakimu berlari mengejar kereta dan menghitung jam kota yang tak pernah tua.
tubuhmu yang runcing menancapi lubuk hati setiap penghuni. matamu yang tulus
takkan ucapkan rindumu pada rumah dan kami yang tak pernah keluar dari takut akan benci.
jika engkau tua nanti, tuliskan pesan pendek pada sajakku: sebab engkau tak juga tahu
bahwa kebencian itu sesuci katakata. dan aku tak ingin engkau percaya.
oktober, 2008
Sumur Itu Menjadi Rumah bagi Entah
setiap kugali sumur tak kutemukan dasar. kutempuh sepersekian detik usia yang renta.
nafasku yang teramat pendek mendaki kedalamannya, dan pandangku yang rabun
menyelami ketinggiannya. ratusan kalimat doa berguguran menyunting tetembangan
di antara lamatlamat gema.
aku memanggili diriku sendiri yang merendam pekatmimpi. kujawab dengan bisikan resah.
rintihnya yang ngilu menuliskan biografi luka yang ranjab bagai tebaran pasir tajam.
ah, sedalam inikah kugali dan kugali jarak? agar rahimku menyimpan segulung sejarah bisu.
ya nabi! alangkah jauh bayangku. alangkah gelap lorong waktu.
semakin gelap oleh pendar langit yang menyangga bersit rautnya.
hauptwache, oktober 2008
Alloysya Louise
sedalam usiaku seseorang telah menyembunyikan rahasia seperti waktu.
melalui gerimis yang tak pernah setia ia rawat kesabaran menunggu lahir katakata.
tahun demi tahun buah yang montok menetas dan menghasilkan tebaran benih
yang akan menyuburkan berhektar tanahtandus dan bebukitan gelap dan sayup.
pemetik berbondong menuntun ternak yang menggendong harapan tua di setiap rindu.
rahasia itu meringkuk dalam gelembung udara yang menguap dari mulut pendusta.
udara yang kotor mengibas dan mengubah warnanya yang ranum menjadi hitam.
di setiap sudut cinta daundaun kering mengelamkan sunyi yang menguruk hati.
pondok-pondok kecil menyiapkan atap dan dindingnya bagi pejalan yang mencari.
serangga dan binatang malam mengutuk kidung jauh yang tak selesai ditembangkan.
di sini bidadari malam mengurungku. masih kubaca kalimat tua para pujangga dunia
yang berkisah tentang kebajikan burung gagak. langit mengirimkan gelapnya yang gigil
menuju ratusan abad kisah dalam kitab usang. tanganku diborgol kebebalan parabuas.
kakiku dibebani rantai dan ratusan kilo kebencian parasinis. hatiku dibunuh pengetahuan
akan surga. jiwaku dikutuk kebenaran paratamak.
sedalam waktu seseorang telah menuliskan rahasia. makin tua abad makin tak terbaca
lelambang buram dalam ringkiknya. kupecahkan ia dalam setiap rahasia baru pada janinku.
capelle, oktober 2008
Ulangtahun
dia tidak ingin lilin dan roti untuk ulangtahunnya kali ini
sebab, ia baru sadar betapa selama ini
tak pernah ia ingat haribaik dan kenangan akan waktu
lilin itu akan menerangi pikirannya, roti itu akan mengenyangkan tubuhnya
dan ia akan melupakan bahwa besok akan makin lambat datangnya
dia ingin hari ini secarik potret ibu. agar dia selalu ingat wajah waktu,
dan tak pangling pada tempat dari mana ia selalu berangkat.
waldlust-amsterdam, 20 oktober 2008
Morphology of Desire
seekor mantis hijau menyelinap ke balik dedaun lalu rebah ke tanah.
tarantula hitam liar menyergap dan mencumbunya. gelora yang sakit
menggulung hikayat dan mimpi dalam tebaran bintang dan getar pohon yang
meruntuhkan daundaun. langit seperti mengatup dalam lelehan pasta
yang mendidihkan rintih sembarang hasrat renta.
seekor mantis hijau mengejang dalam aura biru malam tanpa bulan.
ratusan bebintang jatuh berdentum dalam lenguh tarantula hitam yang meregangkan
waktu. detakdetak jam mengiring sederet syair pedih. nyanyian serangga yang jauh
mengatupkan langit dalam lelehan luka sembarang ngilu.
leiden, 2008.
Puisi Cinta Kelas Tiga
di kepala patung hitler gelembunggelembung soda dari mabokku menyebarkan nafas
menggarit luka langit di sembarang persimpangan padat dan traffic-light. hatimu
ribut oleh klakson dan derum knalpot. pikiranmu bising oleh rencanarencana dan
janjikosong. dari jendela apartemen 13 lantai kuledakkan amarah beku yang
mengeras dalam lemari es. dan kepongahanmu terpahat pada grafiti di lekuklekuk
gang kumuh kotaentah. kaubacakan catatanmu dalam blocknote jingga
: cintaku, masih basah ciumanmu tahun lalu....
aku terpampang di sembarang papan iklan menjulang di deretan jalan utama.
lampulampu bertebaran bagai semburan hujan lupa musim. dan kau tetap bersitegang
di dinding jembatan luar kota: melepaskanku pergi memburu resah.
kukira suatu saat akan kubuat mural terjelek tentangmu. dan kulupakan kota ini,
hingga terpejam matawaktu....
jakarta, 2008
Dorothea Rosa Herliany meraih Khatulistiwa Literary Award tahun 2005/2006 lewat kumpulan puisi Santa Rosa. Buku kumpulan puisinya yang lain, Kill the Radio, diterbitkan ulang di Inggris (Arc Publication, 2007). Karyanya telah diterjemahkan sedikitnya ke dalam enam bahasa.