
Minggu, 30 November 2008 | 02:51 WIB
MUMBAI, Sabtu - Aparat India, Sabtu (29/11), mengakhiri aksi teror yang dilakukan kelompok militan di Hotel Taj Mahal, Mumbai. Aparat menembak mati kelompok militan terakhir, yang juga telah menyebabkan kematian atas 183 orang tamu yang disandera.
Aparat dari satuan bernama Kucing Hitam Elite (Elite Black Cat) menembak mati empat militan setelah terjadi pertarungan genting di koridor, kamar-kamar, dan balai-balai pertemuan Hotel Taj Mahal.
Warga India berang dengan aksi teror itu setelah Perdana Menteri India Manmohan Singh mengindikasikan bahwa militan tersebut kemungkinan telah dibantu salah satu negara tetangga. Pakistan langsung jadi tertuduh. ”Tentara kami datang dan orang- orang Pakistan itu telah enyah,” demikian teriakan dari 50 demonstran di luar Hotel Taj Mahal.
Empat militan terakhir yang ditembak itu termasuk dari 10 militan yang menyerang hotel mewah di Mumbai tersebut. Ratusan orang, kebanyakan warga asing, terjebak atau dijadikan sebagai sandera.
ML Kumawat, pejabat senior dari Departemen Dalam Negeri India, Sabtu, mengatakan, aksi penyanderaan oleh militan itu telah berakhir dengan korban tewas 183 orang, 20 orang di antaranya adalah polisi atau tentara. Dari total korban tewas itu, sekitar 25 orang adalah warga asing.
Sebelumnya, salah seorang pejabat senior di Mumbai mengatakan, sekitar 195 orang tewas dan 295 orang cedera. Angka ini meningkat setelah jenazah sudah ditemukan dan diangkat dari Hotel Taj Mahal dan juga dari Hotel Trident/Oberoi yang berdekatan, di mana aksi penyanderaan telah berakhir lebih dulu pada hari Jumat.
Dari Pakistan
Bukti-bukti bermunculan bahwa para militan yang menyandera hotel-hotel itu datang dari Karachi, Pakistan, menuju Mumbai melalui laut. ”Ini adalah hasil investigasi yang sudah mulai dilakukan,” kata Sriprakash Jaiswal, pejabat dari Departemen Dalam Negeri India.
Presiden Pakistan Asif Ali Zardari mengatakan, pihaknya siap bekerja sama. ”Jika ada bukti bahwa para militan itu berasal dari Pakistan, kami siap bekerja sama melakukan penyelidikan,” katanya.
Pada saat pemberangusan para militan itu, masih banyak tamu yang terjebak di kamar masing- masing di Hotel Taj Mahal. Aksi saling serang antara aparat dan militan itu telah menyebabkan lorong-lorong di hotel itu bersimbah darah.
”Aliran darah terlihat di mana- mana,” kata Patricia, wanita warga Amerika Serikat, kepada televisi NDTV yang menyaksikan penyanderaan.
Militan juga telah membakar sebagian bangunan Taj Mahal untuk mencoba melarikan diri dari pengejaran aparat.
Dari 10 militan, sembilan di antaranya tewas ditembak dan satu orang ditangkap hidup- hidup. Beberapa militan telah mendaftar sebagai tamu beberapa hari sebelum aksi penyanderaan. (REUTERS/AP/AFP/MON)