Rabu, 10 Februari 2010
Penyakit
Awalnya untuk Menekan DBD

Senin, 1 Desember 2008 | 02:04 WIB

Meski lebih banyak berkecimpung sebagai dosen di Politeknik Kesehatan Yogyakarta, di tangan Bambang Suwerda-lah Bank Sampah Gemah Ripah muncul. Awalnya, bapak tiga anak itu memiliki gagasan membangun bengkel kesehatan lingkungan di kampungnya.

Ide sederhana itu dilatarbelakangi tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayahnya. Dalam benaknya, dengan membentuk bengkel kesehatan lingkungan, ia bisa mengajak warga lebih peduli pada kebersihan lingkungan.

”Kalau bicara soal kebersihan jelas tidak bisa lepas dari masalah sampah. Karenanya, saya mengajak masyarakat untuk mulai mengumpulkan sampah dan memilah-milah. Awalnya, respons masyarakat tidak terlalu bagus karena mereka menilai sampah adalah urusan ringan yang tak perlu dibuat serius,” katanya.

Respons warga tersebut membuat pria kelahiran Sleman, 9 Juli 1969, itu harus berpikir keras. Suatu saat ia melihat tayangan televisi yang mempertontonkan aktivitas sebuah komunitas dalam membangun bank sampah. ”Namun, konsep mereka baru sebatas mengumpulkan, lalu mengolah menjadi produk yang lebih bermanfaat,” katanya.

Istilah bank sampah, membuatnya langsung teringat pada aktivitas perbankan. Meski latar belakang pendidikannya teknik lingkungan, Bambang mencoba mengadopsi konsep bank konvensional pada bank sampah. ”Waktu itu saya kepikiran bagaimana mengelola sampah seperti mengelola uang di bank. Gagasan itu akhirnya saya lontarkan kepada kelompok dan mereka menerimanya,” katanya.

Setelah digagas cukup matang, momentum peringatan dua tahun gempa pun dimanfaatkan untuk me-launching gerakan bank sampah. Pada masa awal, banyak masyarakat masih bingung dengan konsep tersebut sehingga gerakan bank sampah kurang berjalan efektif. Setidaknya satu bulan kemudian, masyarakat mulai bisa menerima.

Kesibukannya di bank sampah tidak membuat Bambang melupakan tugasnya sebagai pengajar. Lulusan S-2 Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu harus membagi waktunya. Pada pagi hari sebelum mengajar ia menyempatkan diri datang ke lokasi bengkel, lalu melanjutkan pada sore hari hingga malam.

”Saya senang bisa membantu masyarakat. Tidak hanya membuat pendapatan mereka bertambah, tetapi saya juga senang bisa menekan angka DBD di Desa Bantul,” ujarnya. (ENY)

 

 

 

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: