Minggu, 05 Juli 2009
OP Pupuk Jangan Ditunda

Selasa, 2 Desember 2008 | 01:07 WIB

Jakarta, Kompas - Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, saat ini masalah kelangkaan pupuk urea bersubsidi bagi petani dalam kondisi darurat. Petani tidak bisa lagi menunda kegiatan pemupukan sehingga operasi pasar pupuk harus dilakukan secepatnya dan jangan saling menunggu.

Pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) itu disampaikan, Senin (1/12) di Jakarta, menanggapi lambannya pemerintah daerah (pemda) tingkat II dalam merespons operasi pasar (OP) pupuk urea bersubsidi.

Sebelumnya, produsen pupuk mengeluhkan tersendatnya OP karena belum ada permohonan OP dari pemda.

>w 9536m<Mentan menegaskan, dalam rapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jumat pekan lalu, diteka>w 9736m<nkan bahwa masalah kelangkaan pupuk merupakan kondisi darurat yang harus diselesaikan secepatnya. Karena itu, pelaksanaan OP tak perlu saling menunggu.

”Begitu ada petani di suatu wilayah mengeluhkan pupuk langka dan sulit didapat, operasi pasar harus segera dilakukan,” katanya. Meski OP dilakukan secepatnya, pelaksanaannya harus selektif agar pupuk bersubsidi bisa sampai ke petani. Mekanisme seleksi dilakukan melalui pengisian rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) tani.

Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso menyatakan, meskipun produsen bisa langsung melakukan OP, mereka harus tetap berkoordinasi dengan pemda supaya tidak terjadi keributan.

Selain itu, koordinasi dengan pemda melalui dinas pertanian setempat dilakukan agar pelaksanaan OP tepat sasaran.

Untuk mengatasi kelangkaan pupuk urea bersubsidi, pemerintah menambah alokasi dari semula 4,3 juta ton menjadi 4,5 juta ton. Karena masih juga belum cukup, alokasi ditambah lagi 300.000 ton. Dari jumlah itu, 100.000 untuk keperluan OP.

Direktur Pemasaran PT Petrokimia Gresik Bambang Tjahjono menyatakan, hingga Minggu (30/11), pihaknya telah menyalurkan 1.065 ton urea dalam program OP pupuk.

OP dilakukan di delapan kabupaten di Jawa Timur, yakni Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik.

Pada 2008, alokasi urea bersubsidi Petrokimia Gresik sebanyak 312.043 ton. Hingga 25 November 2008, tersalur 295.219 ton sehingga untuk Desember sisa 16.824 ton.

Perencanaan lemah

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir menyatakan, kelangkaan pupuk terjadi akibat lemahnya pemerintah dalam menyusun perencanaan terkait alokasi kebutuhan sarana produksi pupuk.

Melihat tren peningkatan luas tanam dan luas panen tiap tahun, seharusnya alokasi pupuk meningkat. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, tahun 2006 luas panen padi 11,7 juta hektar, 2007 sebanyak 12,14 juta ha, dan tahun ini sebanyak 12,38 juta ha.

Adapun alokasi urea tahun 2006 sebanyak 4,2 juta ton, 4,3 juta ton pada 2007, dan 2008 (sebelum penambahan 500.000 ton) hanya sebanyak 4,3 juta ton. ”Persoalan pada perencanaan yang tidak tepat sehingga merugikan petani,” katanya. (MAS)

 

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: