Sabtu, 04 Juli 2009
KALYANA SHIRA FILMS
Pekerja seks di Gunung Bolo, Tulungagung, Jawa Timur, dalam film dokumenter Pertaruhan
Menonton Ini... Menonton Itu...

Minggu, 7 Desember 2008 | 03:00 WIB

Suasana sinepleks Platinum XXI di FX Plaza, Senayan, pada hari pertama Jakarta International Film Festival 2008, Jumat (5/12), riuh.

Seorang mahasiswi kecewa lantaran film pilihannya, Burn After Reading, yang dibintangi George Clooney, tiketnya habis. ”Ya... kok habis? Kalau yang ini? Yang ini? Yang ini?” tanya dia sambil menunjuk beberapa judul film di dalam lembaran jadwal.

Dewi (19) sudah menjadwalkan lima hari menonton film JiFFest. Selain film yang dapat ditonton gratis, ia juga ingin menonton film bertiket Rp 20.000.

Dewi memilih Dunya and Desie, Tokyo Sonata, dan Captain Abu Raed. ”Aku membaca sinopsisnya. Kalau bagus, ambil. Aku belajar berbagai budaya negara lain dari film di JiFFest. Kalau film Hollywood sudah biasa,” kata Dewi yang baru tahun 2007 menonton film di JiFFest.

Sementara Rita D Suradipa sudah memastikan sejak awal minggu lalu dia akan tiap hari menonton JiFFest, kecuali hari pertama. ”Hari Sabtu nonton Welcome to the Sticks dan The Man Who Loves Yngve. Minggu nonton filmnya Majid Majidi dan The Edge of Heaven. Senin nonton Cherry Blossom dan Selasa Reprise dan Tokyo Sonata,” kata Rita, penulis lepas, yang selalu menunggu JiFFest untuk menonton film yang bukan mainstream.

Banyaknya film bagus juga menggairahkan Heru Widodo (33), karyawan swasta warga Petukangan, Jakarta Selatan. ”Saya suka film yang bercerita tentang filsafat kehidupan dan keluarga. Dan itu didapat di JiFFest, meski kadang mikir banget,” tutur dia.

Heru mengikuti JiFFest sejak 2006, dengan film pembuka Babel. Ia menonton antara lain Akeelah and the Bee, All the King’s Men, Kinky Boots, dan Little Miss Sunshine. Tahun ini, karena sibuk, ia tidak banyak membeli tiket. ”Hanya sepuluhan film,” kata dia.

Penonton lain, Fitri (23), sore itu menonton film Belanda, Dunya and Desie bersama Ginatri S Noer, penulis skenario film Ayat-Ayat Cinta dan Jelangkung 3. ”Aku sudah beli tujuh tiket, tetapi enggak dapat Happy Go Lucky, sudah habis,” jelas Fitri.

Menurut Ginatri, film bagus adalah film yang inspiratif, komunikatif, dan merepresentasi kehidupan manusia. Film seperti itu disuguhkan pula di JiFFest. ”Kadang film itu mengganggu sisi kemanusiaan. Kadang menonton sampai ikut tertekan, sedih, tetapi kita mendapat sesuatu yang berbeda dari sana,” tutur Ginatri.

Mengenai film pembuka dan penutup JiFFest kali ini, menurut Rita, memang agak mengejutkan. Bagaimanapun, kata Rita, nama sangat komersial seperti Brad Pitt dan George Clooney kalau mendatangkan liputan media yang lebih masif dan berdampak pada berbondong-bondongnya penonton ke JiFFest, menjadi hal yang positif juga.

”Lagi pula, saya tidak terlalu meyakini pendapat film pembuka dan penutup adalah film paling utama suatu festival. Pada JiFFest tiga tahun lalu film jagoannya, Le Grand Voyage, ternyata kalah dahsyat, menurut saya tentunya, dari film yang ditayangkan gratis, Turtles Can Fly. Jadi, mau film pembukaannya Burn After Reading atau Heima enggak masalah. Saya mau kok nonton dua-duanya ha-ha-ha...,” kata Rita. (IVV/NMP)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: