
Rabu, 17 Desember 2008 | 01:06 WIB
Jakarta, Kompas - Jumlah kabupaten/kota di Indonesia yang tertular virus flu burung terus meningkat. Bila pada tahun 2003 hanya 60 kabupaten/kota yang tertular, tahun ini melonjak menjadi 294 wilayah.
Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Tjeppy D Soedjana, Selasa (16/12) di Jakarta, mengungkapkan, meskipun dari jumlah wilayah kabupaten/kota meningkat, jumlah ternak yang mati akibat terpapar virus flu burung terus menurun.
Data Deptan hingga 15 Desember 2008 menunjukkan, jumlah kematian unggas akibat tertular virus flu burung tahun ini secara nasional sebanyak 46.014 ekor. Hal ini lebih rendah dibandingkan kasus tahun lalu sebanyak 483.364 ekor.
Tahun 2006 sebanyak 1.306.360 ekor, tahun 2005 sebanyak 1.066.372 ekor, tahun 2004 sebanyak 5.014.273 ekor, dan tahun 2003 berjumlah 4.179.270 ekor.
Seiring dengan perluasan wilayah yang terpapar virus flu burung, jumlah provinsi yang terpapar juga masih tetap banyak, yakni 31 provinsi.
”Saat ini provinsi yang bebas flu burung hanya Gorontalo dan Maluku Utara,” kata Tjeppy seusai Rapat Koordinasi Intensifikasi Pengendalian Virus Flu Burung di Jawa bagian barat.
Fokus 2009
Dalam rangka mengefektifkan penanggulangan virus flu burung, papar Tjeppy, pemerintah melakukan pendekatan kewilayahan. Fokus penanggulangan virus flu burung 2009 adalah di Jawa bagian barat, yakni Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Hal ini karena wilayah Jawa bagian barat memiliki tingkat kepadatan penduduk dan populasi unggas yang tinggi serta mempertimbangkan keterkaitan potensi risiko penyebaran virus flu burung antardaerah.
Kondisi itu didukung peningkatan kasus flu burung pada unggas dan flu burung pada manusia dengan pola musiman tertinggi di musim hujan.
Program intensifikasi yang akan dilakukan, antara lain, adalah intervensi pasar tradisional yang menjual unggas hidup dan tempat penampungan unggas serta pengendalian penyakit hewan berbasis manusia.
Di tempat terpisah, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Wiwiek Bagdja menyatakan, tingginya kasus penularan penyakit hewan ke manusia atau yang bersifat zoonosis sebagai dampak belum diperhatikannya masalah kesehatan hewan.
Pemerintah cenderung fokus melakukan penanggulangan wabah penyakit zoonosis setelah menimpa dan mengakibatkan manusia yang menjadi korban meninggal. Ketika penyakit itu masih menular antarhewan, hal itu belum menjadi fokus perhatian.
”Padahal, pencegahan penularan penyakit antarhewan bisa menyelamatkan manusia dari paparan virus itu,” katanya. (MAS)