
Minggu, 21 Desember 2008 | 01:43 WIB
TS Pinang
Doa Lupa Kami
suram, suram
mentari yang merana
leram, leram
leram murka dahana
kami beriman pada kemarau, musim di mana kering mengesatkan lidah. dan api yang
mewarnai bunga-bunga, menjadi pelepas kami punya dahaga. kami, kaki kanan dan kiri
melangkah mendaki. kadang kami tak sepakat, kadang kami sehati, kadang kami berhenti.
desau angin dan terik hari tak selalu memudahkan arah di peta kami. relief yang terjal tak
rata, batuan yang memendam fosil sejarah kami, pohon-pohon yang setua kota kami semakin
remang oleh jingga senja yang tumbang. malam kami kadang membara, sedangkan bulan
memuncak di ujung kepala.
wung, wung, gung
sirnalah kutuk sirnalah bala
o, suwung yang agung
hisap kami penuh segala
dan kami nyala, kami nyala. sebiru nyala balok parafin di tungku lipat kami, merebus malam
kemarau yang berdebu agar kami segera jalan kembali, mendaki kembali gunung kami yang
terlupa. dan kami nyala, kami nyala. rambut kami berkibar, meninggalkan kepala.
o, kembang trirupa
tiga nama tuhan kami sebutkan
o, tembang sari lupa
hapuskan nama kami, kebutkan
singkirkan langit, laut, api dari mata kami. singkirkan gunung, sungai, batu dari mata kami. singkirkan senja, malam, pagi dari mata kami. singkirkan lalu, kini, nanti dari mata kami.
TS Pinang
Merebus Kesedihan
kami berpuasa dari sukacita, kami berpantang tertawa. kami membangun mimpi dari rasa
cemas dan rasa takut yang akut. kami berpuasa agar kuat menanggung semua rasa airmata.
asin, pedih, panas, pengap, pepat, nyeri, ngilu. kami berpuasa agar dapat belajar dari ketel
yang menjerit menjelang subuh, merebus kesedihan yang memasygulkan malam. kami
berpuasa dari hiruk-pikuk keinginan yang tak terbeli oleh cinta, oleh pelukan, oleh cium lekat
hangat bibir kami.
kami berpuasa, tak ingin menjolok bulan seribu, atau merobek langit dengan zikir
semalaman. tak ingin menggerus neraka dengan tadarus hingga pedih mata, hingga habis
suara. kami puasa, hanya untuk merebus kesedihan dalam ketel penuh air doa dari sumur di
belakang rumah kami.
TS Pinang
Membuat Kota
siapkan selembar peta wajah bumi, lalu bacalah puisi di setiap kerut tanahnya. di sana kami
membangun mesin dari lempengan rasa lapar. tiada pilihan lain kecuali menciptakan pilihan
kami sendiri. lalu kami pun menetek pada pabrik-pabrik, pada zigzag jarum di mesin-mesin
jahit, membordir mulut kami yang selalu sobek terbuka.
gambarlah garis-garis di mana bisa kau letakkan angka-angka. semua menari merayakan
hasrat manusia. dan di hiruk-pikuk semacam itu kami teringat burung-burung dan pepohonan
di sajak-sajak kami sebelum ini. di buku-buku, para penghitung laba, penggali bumi, juga
para perambah tanah begitu gairah mencari cara membuat kota, mesin penggemuk juga
pemangsa manusia. dan di wajah setiap kota kami, terpasang senyum pahit sakit hati.
sementara di pojok peta, kami lupa waktu. terlalu asyik merancang sebuah kota yang seluruh bangunannya terbuat dari sirih rambat, daun bayam, bambu jalar, dan kembang mawar.
F Aziz Manna
Penabuh
kau tampar kulit kendang seperti menampar kulit kami, kau tabuh kendang seperti menyentek hidup kami, kau buat penari itu berjingkrak seperti mendorong langkah kami, kau ramai- sepikan panggung seperti mengatur rizki kami, selama irama diizinkan, tarian hidup terus berjalan, tanganmu penentu nasib kami, tapi terkadang kami berpikir: siapa yang memulai semua mimpi buruk ini? ketukanmu atau igal tubuh kami? tapi semakin kami cari jawaban selalu ia mengelabui pikiran dengan pertanyaan tambahan, beranak pinak, membandang di pikiran dan kami yakini kebingungan sebagai sebuah awal penciptaan
F Aziz Manna
Dadu
kau lempar dadu seperti melempar nasib kami, tujuanmu hanya satu: selalu lewat tangga menuju kotak terakhir permainan ular tangga itu, sedang kami selalu waswas dan harus awas: jangan masuk kotak mulut ular, hidup akan berjalan mundur, kami menunggu lemparan dadumu seperti menunggu garis takdir, sedang takdir selalu di luar dugaan kami, dan dadu menjadi ancaman tersendiri bagi kami, seperti juga tanganmu, tangan yang melempar dadu, dadu yang seperti nasib kami, kami pernah belajar mengeja kata dan mengolahnya jadi senjata tapi dunia berjalan dengan pelempar dadu ugal-ugalan, kerap melanggar aturan, kami pun hanyut dalam permainan penuh kecurangan
F Aziz Manna
Laut Hitam
di laut ini kami tidurkan beragam impian tentang penghujan, musim semi dan lengkung pelangi, di laut ini kami leburkan seluruh warna jadi hitam, hanya hitam, sebab hidup kami kelam, nasib kami suram, dipinggirkan siang: kerja, kerja, kerja, upah lewat begitu saja, tak pernah menyapa, tak pernah bercengkerama, tertawa, laut jadi hitam, hanya hitam, seperti lingkar bola mata kami, kota-kota gelap, menyimpan penghuni gelap dalam rumah-rumah gelap, rumah kami, anak-anak kami, doa-doa hanya rintihan, hanya umpatan, impian tak pernah sampai, tentang penghujan, musim semi dan lengkung pelangi
Hawe Setiawan
cadas pangeran
tebing ini jalan ratapan
beribu kuli dari pedalaman
koloni yang takluk
pada kutuk cambuk
di sini garis tangan mengiris hutan
menuang aspal atas runcing kerakal
merentang jalan darah
urat nadi sejarah
siapa mengangkut kisah?
prasasti berbelit akar kayu
juga arca di persimpangan itu
warisan para penunggang tandu
peluh martil keluh martir
terpendam jauh di dasar tubir
—kubur peretas jalan
berlumut nisan
2006
Hawe Setiawan
menjerang sajak
sajakku uap rejang
mendobrak katup cerek
selagi air mendidih
digarang tungku
berlidah biru
2008
Hawe Setiawan
seutas uban
di pangkal subuh
waktu kering peluh
gigil dan suara memanggil
kulihat di hitam rambut
ubanmu berkilat
seperti isyarat
atau mungkin sirat
akhir yang kian dekat
setelah pergumulan
kesekian
sanggupkah kita
kelak tak setubuh
aus dan rapuh
di lubang angin
belalang menggelepar
dengan sayap-sayap fajar
2008
F Aziz Manna adalah aktivis Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). Ia menyelesaikan studi Sejarah di Universitas Airlangga, Surabaya.
Hawe Setiawan lahir di Subang, Jawa Barat, 21 November 1968. Selain menulis puisi dan esai, ia bekerja sebagai editor dan bergiat di Yayasan Kebudayaan Rancage.
TS Pinang lahir di Pati, Jawa Tengah, 1971. Karyanya dimuat di beberapa antologi bersama, antara lain Antologi Bungamatahari (2006) dan Jogja 5,9 Skala Richter (2006). Saat ini ia tinggal di Yogyakarta.