Rabu, 10 Februari 2010
Sajak Sajak

Minggu, 21 Desember 2008 | 01:43 WIB

TS Pinang

Doa Lupa Kami

suram, suram

mentari yang merana

leram, leram

leram murka dahana

kami beriman pada kemarau, musim di mana kering mengesatkan lidah. dan api yang

mewarnai bunga-bunga, menjadi pelepas kami punya dahaga. kami, kaki kanan dan kiri

melangkah mendaki. kadang kami tak sepakat, kadang kami sehati, kadang kami berhenti.

desau angin dan terik hari tak selalu memudahkan arah di peta kami. relief yang terjal tak

rata, batuan yang memendam fosil sejarah kami, pohon-pohon yang setua kota kami semakin

remang oleh jingga senja yang tumbang. malam kami kadang membara, sedangkan bulan

memuncak di ujung kepala.

wung, wung, gung

sirnalah kutuk sirnalah bala

o, suwung yang agung

hisap kami penuh segala

dan kami nyala, kami nyala. sebiru nyala balok parafin di tungku lipat kami, merebus malam

kemarau yang berdebu agar kami segera jalan kembali, mendaki kembali gunung kami yang

terlupa. dan kami nyala, kami nyala. rambut kami berkibar, meninggalkan kepala.

o, kembang trirupa

tiga nama tuhan kami sebutkan

o, tembang sari lupa

hapuskan nama kami, kebutkan

singkirkan langit, laut, api dari mata kami. singkirkan gunung, sungai, batu dari mata kami. singkirkan senja, malam, pagi dari mata kami. singkirkan lalu, kini, nanti dari mata kami.

 

TS Pinang

Merebus Kesedihan

kami berpuasa dari sukacita, kami berpantang tertawa. kami membangun mimpi dari rasa

cemas dan rasa takut yang akut. kami berpuasa agar kuat menanggung semua rasa airmata.

asin, pedih, panas, pengap, pepat, nyeri, ngilu. kami berpuasa agar dapat belajar dari ketel

yang menjerit menjelang subuh, merebus kesedihan yang memasygulkan malam. kami

berpuasa dari hiruk-pikuk keinginan yang tak terbeli oleh cinta, oleh pelukan, oleh cium lekat

hangat bibir kami.

kami berpuasa, tak ingin menjolok bulan seribu, atau merobek langit dengan zikir

semalaman. tak ingin menggerus neraka dengan tadarus hingga pedih mata, hingga habis

suara. kami puasa, hanya untuk merebus kesedihan dalam ketel penuh air doa dari sumur di

belakang rumah kami.

 

TS Pinang

Membuat Kota

siapkan selembar peta wajah bumi, lalu bacalah puisi di setiap kerut tanahnya. di sana kami

membangun mesin dari lempengan rasa lapar. tiada pilihan lain kecuali menciptakan pilihan

kami sendiri. lalu kami pun menetek pada pabrik-pabrik, pada zigzag jarum di mesin-mesin

jahit, membordir mulut kami yang selalu sobek terbuka.

gambarlah garis-garis di mana bisa kau letakkan angka-angka. semua menari merayakan

hasrat manusia. dan di hiruk-pikuk semacam itu kami teringat burung-burung dan pepohonan

di sajak-sajak kami sebelum ini. di buku-buku, para penghitung laba, penggali bumi, juga

para perambah tanah begitu gairah mencari cara membuat kota, mesin penggemuk juga

pemangsa manusia. dan di wajah setiap kota kami, terpasang senyum pahit sakit hati.

sementara di pojok peta, kami lupa waktu. terlalu asyik merancang sebuah kota yang seluruh bangunannya terbuat dari sirih rambat, daun bayam, bambu jalar, dan kembang mawar.

 

F Aziz Manna

Penabuh

kau tampar kulit kendang seperti menampar kulit kami, kau tabuh kendang seperti menyentek hidup kami, kau buat penari itu berjingkrak seperti mendorong langkah kami, kau ramai- sepikan panggung seperti mengatur rizki kami, selama irama diizinkan, tarian hidup terus berjalan, tanganmu penentu nasib kami, tapi terkadang kami berpikir: siapa yang memulai semua mimpi buruk ini? ketukanmu atau igal tubuh kami? tapi semakin kami cari jawaban selalu ia mengelabui pikiran dengan pertanyaan tambahan, beranak pinak, membandang di pikiran dan kami yakini kebingungan sebagai sebuah awal penciptaan

 

F Aziz Manna

Dadu

kau lempar dadu seperti melempar nasib kami, tujuanmu hanya satu: selalu lewat tangga menuju kotak terakhir permainan ular tangga itu, sedang kami selalu waswas dan harus awas: jangan masuk kotak mulut ular, hidup akan berjalan mundur, kami menunggu lemparan dadumu seperti menunggu garis takdir, sedang takdir selalu di luar dugaan kami, dan dadu menjadi ancaman tersendiri bagi kami, seperti juga tanganmu, tangan yang melempar dadu, dadu yang seperti nasib kami, kami pernah belajar mengeja kata dan mengolahnya jadi senjata tapi dunia berjalan dengan pelempar dadu ugal-ugalan, kerap melanggar aturan, kami pun hanyut dalam permainan penuh kecurangan

 

F Aziz Manna

Laut Hitam

di laut ini kami tidurkan beragam impian tentang penghujan, musim semi dan lengkung pelangi, di laut ini kami leburkan seluruh warna jadi hitam, hanya hitam, sebab hidup kami kelam, nasib kami suram, dipinggirkan siang: kerja, kerja, kerja, upah lewat begitu saja, tak pernah menyapa, tak pernah bercengkerama, tertawa, laut jadi hitam, hanya hitam, seperti lingkar bola mata kami, kota-kota gelap, menyimpan penghuni gelap dalam rumah-rumah gelap, rumah kami, anak-anak kami, doa-doa hanya rintihan, hanya umpatan, impian tak pernah sampai, tentang penghujan, musim semi dan lengkung pelangi

 

Hawe Setiawan

cadas pangeran

tebing ini jalan ratapan

beribu kuli dari pedalaman

koloni yang takluk

pada kutuk cambuk

di sini garis tangan mengiris hutan

menuang aspal atas runcing kerakal

merentang jalan darah

urat nadi sejarah

siapa mengangkut kisah?

prasasti berbelit akar kayu

juga arca di persimpangan itu

warisan para penunggang tandu

peluh martil keluh martir

terpendam jauh di dasar tubir

—kubur peretas jalan

berlumut nisan

2006

 

Hawe Setiawan

menjerang sajak

sajakku uap rejang

mendobrak katup cerek

selagi air mendidih

digarang tungku

berlidah biru

2008

 

Hawe Setiawan

seutas uban

di pangkal subuh

waktu kering peluh

gigil dan suara memanggil

kulihat di hitam rambut

ubanmu berkilat

seperti isyarat

atau mungkin sirat

akhir yang kian dekat

setelah pergumulan

kesekian

sanggupkah kita

kelak tak setubuh

aus dan rapuh

di lubang angin

belalang menggelepar

dengan sayap-sayap fajar

2008

 

F Aziz Manna adalah aktivis Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). Ia menyelesaikan studi Sejarah di Universitas Airlangga, Surabaya.

Hawe Setiawan lahir di Subang, Jawa Barat, 21 November 1968. Selain menulis puisi dan esai, ia bekerja sebagai editor dan bergiat di Yayasan Kebudayaan Rancage.

TS Pinang lahir di Pati, Jawa Tengah, 1971. Karyanya dimuat di beberapa antologi bersama, antara lain Antologi Bungamatahari (2006) dan Jogja 5,9 Skala Richter (2006). Saat ini ia tinggal di Yogyakarta.

Share on Facebook
Nilai 1 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: