Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/SUBUR TJAHJONO
Pendidikan Alternatif
Merangsang Kreativitas dengan Arsitektur

Selasa, 23 Desember 2008 | 02:11 WIB

Suasana kelas IV A SD Negeri 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, pagi lalu gaduh. Nevine Rafa Kusuma, mahasiswi semester VII Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, itu harus berjuang keras mengatasi riuhnya kelas.

Dengan suara yang serak, Nevine berupaya mencuri perhatian lima siswa yang berada dalam kelompoknya agar mau mendiskusikan topik hari itu, yaitu soal ”rumah impian”. Para siswa itu berumur rata-rata 9-10 tahun. Mereka adalah Aisyah, Dhesta Alfianty, Arfiansyah, Andhika, dan Emira Afieta Fitriadi.

Semuanya ada lima kelompok dalam kelas dengan 25 murid tersebut yang dibentuk oleh Didi Pramujadi, aktivis Education Care Unit (ECU). Setiap kelompok yang difasilitasi oleh para mahasiswa relawan tersebut akan berdiskusi tentang rumah impian dan mewujudkan dalam bangunan arsitektur sederhana.

Setiap kelompok berkumpul di meja belajar yang disusun bersama. Tim ECU sudah menyiapkan berbagai bahan yang diperlukan seperti kertas karton tebal, berbagai karton bekas pembungkus, kertas koran, kertas krep, dan lem. Bahan-bahan itu nantinya akan dikreasi oleh setiap kelompok untuk membuat rumah impian tersebut.

Namun, sebelum mewujudkan rumah impian tersebut, para siswa diajak berdiskusi terlebih dahulu. Itu yang ternyata tidak mudah. Di kelompok yang difasilitasi Nevine, misalnya, ada siswa yang aktif mendiskusikan setiap pertanyaan yang dilontarkan Nevine, yaitu Emira Afieta Fitriadi. Ada yang hanya mengiyakan atau mengangguk-angguk, seperti Aisyah dan Dhesta. Namun, ada yang apatis dan diam saja, yaitu Andhika dan Arfiansyah.

Setelah menanyakan nama dan alamat rumah masing-masing, Nevine memulai diskusi, ”Di rumah banyak sampah enggak?”

”Ada banyak. Tong sampah jarang lagi,” tanya Emira.

”Siapa yang tahu rumah yang udaranya segar kayak apa?” tanya Nevine.

”Enggak ada sampah,” jawab Aisyah.

”Ada yang terasa sumpek enggak ruangannya,” tanya Nevine lagi.

”Ada. Tapi pakai AC,” kata Emira.

”Ada yang tahu enggak kalau enggak pakai AC rumah jadi sumpek?” ujar Nevine. Tidak ada yang bisa menjawab, lalu ia bertanya lagi,” Di rumah ada jendela enggak?” ”Kenapa kalau ada jendela udara tidak pengap. Ada yang tahu?” kata Nevine yang terus berusaha menggali.

”Enggak tahu,” ujar Dhesta.

”Supaya rumah tidak pengap diapain?” kata Nevine.

”Pakai AC,” ujar Emira yang tampak paling aktif di diskusi. ”Pakai jendela. Pakai ventilasi,” kata Emira menambahkan.

”Ada yang tahu ventilasi yang mana? Ada yang tahu bedanya dengan jendela enggak? Kata Nevine. Lama tidak ada yang menjawab. Lalu, Nevine menunjuk ke ruangan kelas mana yang disebut ventilasi dan mana yang disebut jendela.

Hampir setengah jam mereka berdiskusi. Mereka mendiskusikan sejumlah isu besar menyangkut rumah impian, yaitu udara segar, cahaya, kebersihan dalam rumah dan sanitasi, serta lingkungan luar. Nevine terus berupaya agar masing-masing anggota kelompok secara aktif mengungkapkan pemikiran-pemikirannya secara kritis sehingga muncul pikiran-pikiran kreatif untuk mewujudkan rumah impian.

Hasil diskusi tersebut dicatat oleh masing-masing anggota kelompok. Jawaban dibagi dalam dua kategori, yakni kondisi rumah yang nyaman dan rumah yang tidak nyaman. Ruang bagian mana yang nyaman dan tidak nyaman harus disebutkan. Mereka juga diminta menuliskan alasan mengapa rumah masing-masing nyaman dan tidak nyaman.

Masalah-masalah itu dikelompokkan. Proses itu disebut pemetaan pikiran. Misalnya, dalam masalah ”rumah yang pengap” dikelompokkan disebabkan oleh ”AC yang padam”. Untuk mengatasinya, seperti usulan para anggota kelompok, ada dua, yaitu ”AC jangan dipadamkan” atau ”dibuat ventilasi”. Dalam masalah ”ruangan gelap” dikelompokkan disebabkan oleh ”tidak ada cahaya” karena ”jendela tidak dibuka”.

Setelah semua anggota memahami masalah-masalah yang terkait dengan rumah impian dan solusi-solusinya, siswa diajak membuat maket sebuah kompleks perumahan sesuai hasil diskusi.

Berbeda dengan proses diskusi dan penggalian pemikiran yang sulit dilakukan, proses pembuatan maket ini disambut antusias para siswa. Kegaduhan yang muncul dalam proses diskusi berubah menjadi keasyikan mewujudkan rumah impian. Mereka tenggelam dalam aktivitas menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas-kertas tersebut.

Dengan bahan-bahan sederhana, para siswa menyusun rumah impian masing-masing di atas karton tebal dengan ukuran 40 x 60 sentimeter. Rumah- rumah itu terbuat dari kotak-kotak karton seukuran 5 x 10 cm dengan tinggi 5 cm. Siswa menggambar jendela-jendela dengan pulpen. Pohon-pohon dibuat dari kertas krep warna hijau atau daun-daun yang diambil dari halaman sekolah.

Dalam maket kelompok yang difasilitasi Nevine itu, misalnya, mereka membuat kompleks Perumahan Tangkuban Perahu. Di situ terdapat enam rumah, satu lapangan bola, kolam ikan, dan pepohonan.

Proses berikutnya tidak kalah penting yaitu membuat refleksi dari maket yang dibuat. Setelah mengemukakan hasil refleksinya, mereka diminta menuliskannya di catatan. Setiap siswa harus menjawab pertanyaan refleksi, yakni, ”Apa yang sudah dikerjakan?”, ”Apa yang dipelajari?”, ”Apa keinginan untuk rumahmu?”, dan ”Apakah menyenangkan?”.

Menjawab pertanyaan pertama, Dhesta (10), misalnya, menulis, ”membuat kompleks yang bersih, wangi, dan banyak pepohonan”. Untuk pertanyaan kedua ia menulis, ”membuat rumah yang sehat dan sejuk”. Menjawab pertanyaan ketiga, Dhesta menulis, ”rumah yang sehat, bersih, dan sejuk”. Untuk pertanyaan keempat, Dhesta menulis, ”Ya, karena jadi tahu lingkungan yang bersih untuk bermain dan belajar”.

Lima maket hasil karya kelas IV A tersebut akhirnya disusun memanjang di teras kelas. Mereka pun berfoto bersama. Selesailah semua proses yang memakan waktu dua jam tersebut.

Pemahaman pemikiran kreatif dan kritis itu yang diharapkan oleh ECU. Pada program- program sebelumnya, ECU melombakan hasil karya mereka itu. ”Mereka membuat maket sebagus mungkin. Namun, jadinya malah kehilangan makna dan hanya terkesan membuat prakarya,” tutur Yandi Andri Yatmo. Model atau maket arsitektur itu bukan tujuan, tetapi hanya menjadi alat untuk merangsang kreativitas anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya.

Kepala SDN 03 Guntur Tamsa menyambut positif kegiatan tersebut karena sejak awal siswa sudah diajari konsep-konsep dasar tentang pengelolaan lingkungan yang baik. ”Konsep-konsep ini akan dibawa mereka seumur hidup,” ujarnya.

Esensi dari proses pembelajaran alternatif ini adalah penanaman pemahaman sejak dini tentang pengelolaan lingkungan. Pikiran yang sudah tertanam sejak dini diharapkan berlanjut ketika mereka dewasa. Dengan demikian, pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan dapat terwujud. (BUR)

 

 

 

 

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: