Rabu, 10 Februari 2010
"Survival of the Fittest"

Sabtu, 27 Desember 2008 | 00:34 WIB

Jaya Suprana

Di dalam tulisan ”Normalisasi Sosial” (Kompas, 22/12/ 2008) tersurat sebuah kalimat, ”Sejak terjebak kejahatan, manusia mengalami proses denormalisasi sosial berupa gerakan premanisme yang mengultuskan teori survival of the fittest. ” Kalimat ini sangat benar berdasarkan tafsir kurang benar terhadap teori survival of the fittest.

Maka, kalimat itu masih dilanjutkan, ”Penyalahgunaan kuasa dalam wujud tindak kekerasan dan hukum rimba meruntuhkan peradaban manusia. Politik homicide gaya Herodes termasuk aksi denormalisasi sosial. Proses sosial ini dikategorikan sebagai langkah awal kekacauan sosial.”

Semua itu benar apabila didasari tafsir yang kurang benar. Apabila berdasarkan tafsir yang benar, semuanya menjadi kurang benar.

Teori evolusi

Teori survival of the fittest sebenarnya bukan teori, tetapi sekadar slogan teori evolusi. Kekeliruan kaprah lainnya adalah keyakinan bahwa Charles Darwin penggagas slogan survival of the fittest . Memang slogan survival of the fittest muncul akibat teori evolusi yang tersirat di dalam buku Origin of Species tulisan Darwin yang secara kebetulan sangat mirip teori seleksi alam (natural selection) AR Wallace. Namun, sebenarnya penggubah slogan soal survival itu adalah Herbert Spencer.

Sebagai rekan sepaham yang tentu saja membela teori seleksi alam, Spencer menggunakan senjata slogan bersuasana dramatis, yakni survival of the fittest. Namun. sebenarnya slogan keren Spencer itu mengandung makna berbeda dari makna yang kini telanjur dipahami khalayak ramai. Maka, kekeliruan tentang sang pencipta slogan masih diperparah kekeliruan tafsir atas makna sang slogan sendiri.

Akibat kekeliruan tafsir itu, dengan sendirinya timbul pula kekeliruan pemahaman, apalagi pendayagunaan terhadap permasalahan sosio-biologis yang merupakan panggung teori evolusi. Apabila landasan pemikiran saja sudah keliru, jelas penjabaran pemikiran juga rawan keliru. Hanya, dibutuhkan kemauan, bahkan keberanian untuk menelaah, lalu mengoreksi kekeliruan demi mencari kebenaran.

”Fittest”

Istilah fittest merupakan superlatifisasi kata fit. Namun, yang dimaksud Spencer sebenarnya bukan makna kata fit yang muncul akibat Revolusi Industri olahraga abad XX, yakni bugar yang berkembang menjadi istilah institusional fitness centre alias pusat kebugaran, di mana manusia memperoleh kesempatan untuk membayar mahal demi menghamburkan energi ragawinya.

Makna istilah kata fit yang digunakan Spencer sebenarnya bukan dalam makna bugar, perkasa, kuat, atau superior secara ragawi, tetapi fit dalam makna be the right size, be appropriate, be compatible alias serasi, selaras, sesuai, cocok, pas.

Spencer tidak keliru menafsirkan teori evolusi Darwin berkat sadar bahwa mahluk yang mampu bertahan hidup bukan yang paling kuat ragawinya, melainkan yang paling mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan hidupnya. Secara empiris memang terbukti mahluk hidup yang paling mampu berjaya bertahan hidup bukan yang paling kuat atau ganas secara ragawi, seperti Tyrannosaurus rex atau Velociraptor, tetapi yang paling mampu lentur menyesuaikan, menyelaraskan, dan menyerasikan diri dengan perubahan lingkungan hidupnya, seperti kecoak dan berbagai jenis bakteri yang terkesan relatif tidak perkasa.

Selaras

Keliru jika ada pihak yang keliru menafsirkan slogan survival of the fittest kemudian ngotot mendayagunakan kekerasan demi mempertahankan, bahkan memperjayakan eksistensi diri di tengah kemelut evolusi kehidupan. Kekerasan bukan jalan yang benar untuk keluar dari permasalahan apa pun! Yang lebih benar adalah penyelarasan, penyesuaian, penyerasian, dan pengharmonisan diri dengan perubahan lingkungan yang terus-menerus terjadi.

Politik kekerasan rezim Orba terbukti akhirnya gagal menghadapi prahara krisis ekonomi sebagai sumber perlawanan yang kemudian tampil sebagai gerakan Reformasi. Gaya soft power Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang semula dianggap ciri kelemahan, terbukti ampuh—seperti Mahatma Gandhi—untuk menanggulangi berbagai permasalahan politik formal ataupun informal. Gus Dur menjadi korban politik adu kekuasaan antara presiden dan DPR/MPR yang tidak perlu terjadi apabila Gus Dur mau menyelaraskan diri dengan realita konstelasi kekuatan politik pada masa kepresidenannya itu.

Terorisme yang tidak segan mengorbankan nyawa sesama manusia yang justru tidak berdosa, seperti para pengemudi taksi di halaman Hotel Marriot, Jakarta, merupakan bukti bahwa kekerasan bukan pemecahan masalah sosio-budaya-politik yang tepat dan benar. Al Gore gigih menuntut dunia sudi menyelaraskan diri dengan lingkungan hidup demi mencegah kiamat akibat perubahan iklim global.

Maka, dengan slogan ”Change!” menawarkan penyelarasan diri AS dengan perubahan iklim politik dan ekonomi global, jelas Obama berada di jalan yang lebih benar ketimbang George W Bush yang mengutamakan kekerasan sesuai pemahaman survival of the fittest yang keliru.

Semoga semua masyarakat dunia masa kini mau dan mampu menafsirkan makna slogan survival of the fittest secara konsekuen dan konsisten tepat dan benar demi masa depan yang lebih damai dan sejahtera!

Jaya Suprana Budayawan

 

 

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: