
Minggu, 4 Januari 2009 | 02:04 WIB
Beni Setia
Dini Hari
bagai bangkai memendam larva
sebelum belatung muncul, bagai
daun-daun luruh dicumbu hujan
sebelum terurai humus ladang bambu
: setapak dalam kabut. merentang
jadi tiada di dekat kuburan. angin
menyapu cuat ranting meluruhkan
embun. satu-dua gemeritik dari pipi
“yang dari laut kembali ke lautan,”
kata burung hantu. cecurut terbirit
masuk liang tepi tebing bawah waru
jalan burai. rentang tangan mengorak jejak
1/12.2007
Beni Setia
Kamis Petang
angin berkesiur lagi. bagai jutaan ibu
yang serentak bangkit dari kuburan
tsunami di aceh dan mencari anak mereka
sementara para suami jadi batu karang
kadang lumut di dermaga dan lumpur
yang terpercik ombak. mencari anak mereka
dan anak mereka? seperti setiap anak-anak
: naik ke langit. berjumpalitan di awan
dan tak hentinya mengejar-ngejar matahari. riang
—ditumbuhi sayap karena tak kenal duka dunia
23/5.2008
Beni Setia
Ziarah
sekali waktu setapak dihapus rumput
dan disembunyikan semak-perdu. kau
terlunta-lunta. tak tahu harus bagaimana
burung-burung bercericit tajam, angin
meriapkan daun jambu, mengagetkan
kepompong yang mau jadi kupu-kupu
lalu suara ricik air dari kali itu
mengisyaratkan ada yang pergi
dan tak pernah kembali. seperti cintaku
23/5.2008
Putu Fajar Arcana
Uma
Pohon yang kau pahat di dinding luluh dalam kabut.
Seorang jejaka atau gembala tua
yang menahanmu di tepi hutan cemara.
Angin tak jua berkabar tentang risau langit senja. Dan para dewa
mengintipmu dari celah dedaunan. Mungkin mereka sangsi
tentang petaka
tentang kutuk yang kau derita.
Kau tahu air susu lembu itu, hanya tipu
gerutu pilu seorang pangeran kahyangan.
Tapi cemar telah ditebar. Pantang menjilat sabda
yang bagai kilat menyambar, menghanguskan pucuk daun.
Jadi pergi, pergilah sejauh hutan.
Seorang malaikat muda menunggumu
di balik rimbun cahaya. Dan jika mukaku terbakar
karena api dalam darahmu, sebaiknya tak usah kembali.
Sebab surga tak seperti diceritakan dalam kitab.
Penuh kutuk dan sabda keji para pangeran tua.
Uma, pohon yang kau pahat di dinding leleh dalam terik.
Seorang dewa atau gembala tua yang mengutukmu.
Pasrahkan pada angin agar senja memerah
dan mengantar mataharimu ke balik malam.
2008
Putu Fajar Arcana
Malaikat Bersayap
Di retak lenganmu burung-burung meruntuhkan bulunya.
Dan jam pasir mengucur menuju senja
yang baka.
Kaukah yang mengepakkan sayap, hingga relief
berguguran seperti serbuk waktu.
Dalam kelabu batubatu kisah dewadewi menjelma gulma
yang melilit lehermu.
Pada siapa kubertanya tentang wahyu yang terkubur di dasar lingga.
Kau yang mengirim senyap, biar kurengkuh dengan sayap
dan kutabur di celah yoni.
Sudah berapa lama kita alpa membaca penanggalan
hingga serbuk waktu membatu di pusaran gugusan candi.
Pada patahan tanganmu lumut-lumut tumbuh liar.
Dan jam pasir mengucur menuju malam
yang gusar.
Kaukah yang menjelma saat aku tengadah memandang langit.
Dan bintang-bintang berkedip tanda pertalian darahku dan darahmu.
2008
Putu Fajar Arcana
Candi Sukuh
Di depan seorang dewi aku ingat penggalan kepalamu
yang terguling di dasar lembah.
Sayap-sayapmu ringkih dikikis angin,
yang berabad-abad menyelinap ke bilik candi.
Siapa yang memutar waktu ke masa lalu. Siapa diriku dan dirimu,
kalau bukan seseorang yang meletakkan batubatu
untuk merengkuhmu dari balik kabut. Aku datang kepadamu
di sore yang hangat, aku datang dengan bunga dan hati sejernih sungai.
Dan jika bukan karena dirimu, aku tak tahu siapa diriku.
Tapi kau memenggal lehermu
saat aku bertanya tentang siapa dirimu.
Ah. Waktu begitu gulita, rapuh, dan sengsara. Menjeratku
dalam pusaran kehilangan demi kehilangan.
2008
Idrus F Shihab
Sampan
Seperti sampan hancur di dalam dada
buih-buih ombak
uban-uban di kepala
di bawah sikuku,
kursi goyang buaian masa silam
Nina bobok, nina bobok...
sepasang kaki, sepuluh jemari
harpa dan tarian kematian
Nina bobok, nina bobok...
sampan karam perlahan
Ke dasar lahatku
Idrus F Shihab
Perjalanan
Dua mata,
basah di dasar kolam
Dari rindu,
Lilin tua menetes ke dalam hati
hangat sampai ke sumsum
Sampai di mana kita berjalan?
Idrus F Shihab
Rindu
Kudengar rebanamu di detak jantung
angin-angin berekor kuda panjang
datang dari pulau-pulau perantau di selatan
Sepuluh jariku bernyanyi
satu lagu seriuh pasar malam
dengan judul namamu
Aku rindu
Beni Setia lahir di Soreang, Jawa Barat, 1 Januari 1954. Buku sajaknya antara lain adalah Harendong (1996). Kini ia tinggal di Caruban, Jawa Timur.
Idrus F Shihab tinggal di Jakarta. Ia bekerja sebagai jurnalis.
Putu Fajar Arcana lahir di Kota Negara, Bali. Sajak-sajaknya termuat antara lain dalam antologi Mimbar Penyair Abad 21 (1996) dan Kembang Rampai Puisi Bali (1997).