Rabu, 10 Februari 2010
Sajak-sajak

Minggu, 4 Januari 2009 | 02:04 WIB

Beni Setia

Dini Hari

bagai bangkai memendam larva

sebelum belatung muncul, bagai

daun-daun luruh dicumbu hujan

sebelum terurai humus ladang bambu

: setapak dalam kabut. merentang

jadi tiada di dekat kuburan. angin

menyapu cuat ranting meluruhkan

embun. satu-dua gemeritik dari pipi

“yang dari laut kembali ke lautan,”

kata burung hantu. cecurut terbirit

masuk liang tepi tebing bawah waru

jalan burai. rentang tangan mengorak jejak

1/12.2007

 

Beni Setia

Kamis Petang

angin berkesiur lagi. bagai jutaan ibu

yang serentak bangkit dari kuburan

tsunami di aceh dan mencari anak mereka

sementara para suami jadi batu karang

kadang lumut di dermaga dan lumpur

yang terpercik ombak. mencari anak mereka

dan anak mereka? seperti setiap anak-anak

: naik ke langit. berjumpalitan di awan

dan tak hentinya mengejar-ngejar matahari. riang

—ditumbuhi sayap karena tak kenal duka dunia

23/5.2008

 

Beni Setia

Ziarah

sekali waktu setapak dihapus rumput

dan disembunyikan semak-perdu. kau

terlunta-lunta. tak tahu harus bagaimana

burung-burung bercericit tajam, angin

meriapkan daun jambu, mengagetkan

kepompong yang mau jadi kupu-kupu

lalu suara ricik air dari kali itu

mengisyaratkan ada yang pergi

dan tak pernah kembali. seperti cintaku

23/5.2008

 

Putu Fajar Arcana

Uma

Pohon yang kau pahat di dinding luluh dalam kabut.

Seorang jejaka atau gembala tua

yang menahanmu di tepi hutan cemara.

Angin tak jua berkabar tentang risau langit senja. Dan para dewa

mengintipmu dari celah dedaunan. Mungkin mereka sangsi

tentang petaka

tentang kutuk yang kau derita.

Kau tahu air susu lembu itu, hanya tipu

gerutu pilu seorang pangeran kahyangan.

Tapi cemar telah ditebar. Pantang menjilat sabda

yang bagai kilat menyambar, menghanguskan pucuk daun.

Jadi pergi, pergilah sejauh hutan.

Seorang malaikat muda menunggumu

di balik rimbun cahaya. Dan jika mukaku terbakar

karena api dalam darahmu, sebaiknya tak usah kembali.

Sebab surga tak seperti diceritakan dalam kitab.

Penuh kutuk dan sabda keji para pangeran tua.

Uma, pohon yang kau pahat di dinding leleh dalam terik.

Seorang dewa atau gembala tua yang mengutukmu.

Pasrahkan pada angin agar senja memerah

dan mengantar mataharimu ke balik malam.

2008

 

Putu Fajar Arcana

Malaikat Bersayap

Di retak lenganmu burung-burung meruntuhkan bulunya.

Dan jam pasir mengucur menuju senja

yang baka.

Kaukah yang mengepakkan sayap, hingga relief

berguguran seperti serbuk waktu.

Dalam kelabu batubatu kisah dewadewi menjelma gulma

yang melilit lehermu.

Pada siapa kubertanya tentang wahyu yang terkubur di dasar lingga.

Kau yang mengirim senyap, biar kurengkuh dengan sayap

dan kutabur di celah yoni.

Sudah berapa lama kita alpa membaca penanggalan

hingga serbuk waktu membatu di pusaran gugusan candi.

Pada patahan tanganmu lumut-lumut tumbuh liar.

Dan jam pasir mengucur menuju malam

yang gusar.

Kaukah yang menjelma saat aku tengadah memandang langit.

Dan bintang-bintang berkedip tanda pertalian darahku dan darahmu.

2008

 

Putu Fajar Arcana

Candi Sukuh

Di depan seorang dewi aku ingat penggalan kepalamu

yang terguling di dasar lembah.

Sayap-sayapmu ringkih dikikis angin,

yang berabad-abad menyelinap ke bilik candi.

Siapa yang memutar waktu ke masa lalu. Siapa diriku dan dirimu,

kalau bukan seseorang yang meletakkan batubatu

untuk merengkuhmu dari balik kabut. Aku datang kepadamu

di sore yang hangat, aku datang dengan bunga dan hati sejernih sungai.

Dan jika bukan karena dirimu, aku tak tahu siapa diriku.

Tapi kau memenggal lehermu

saat aku bertanya tentang siapa dirimu.

Ah. Waktu begitu gulita, rapuh, dan sengsara. Menjeratku

dalam pusaran kehilangan demi kehilangan.

2008

 

Idrus F Shihab

Sampan

Seperti sampan hancur di dalam dada

buih-buih ombak

uban-uban di kepala

di bawah sikuku,

kursi goyang buaian masa silam

Nina bobok, nina bobok...

sepasang kaki, sepuluh jemari

harpa dan tarian kematian

Nina bobok, nina bobok...

sampan karam perlahan

Ke dasar lahatku

 

Idrus F Shihab

Perjalanan

Dua mata,

basah di dasar kolam

Dari rindu,

Lilin tua menetes ke dalam hati

hangat sampai ke sumsum

Sampai di mana kita berjalan?

 

Idrus F Shihab

Rindu

Kudengar rebanamu di detak jantung

angin-angin berekor kuda panjang

datang dari pulau-pulau perantau di selatan

Sepuluh jariku bernyanyi

satu lagu seriuh pasar malam

dengan judul namamu

Aku rindu

 

Beni Setia lahir di Soreang, Jawa Barat, 1 Januari 1954. Buku sajaknya antara lain adalah Harendong (1996). Kini ia tinggal di Caruban, Jawa Timur.

Idrus F Shihab tinggal di Jakarta. Ia bekerja sebagai jurnalis.

Putu Fajar Arcana lahir di Kota Negara, Bali. Sajak-sajaknya termuat antara lain dalam antologi Mimbar Penyair Abad 21 (1996) dan Kembang Rampai Puisi Bali (1997).

Share on Facebook
Nilai 4 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: