
Minggu, 4 Januari 2009 | 02:23 WIB
Ninuk Mardiana Pambudy
Bila berulang kali tawaran diskon di mal-mal selama dua bulan terakhir adalah sinyal turunnya daya beli konsumen karena krisis keuangan global, maka di balik gambaran buram itu ada peluang yang dapat dimanfaatkan.
Ekonom Aviliani dalam diskusi yang diadakan majalah FashionPro di Jakarta pada Desember lalu menyebutkan, krisis finansial saat ini lebih parah daripada krisis finansial Asia 1998 karena pasar utama dunia Amerika dan Eropa yang kali ini menjadi sumber krisis.
Meski demikian, krisis ini dapat menjadi berkah bila melihat dari sisi peluang menggarap secara serius pasar domestik. Bila selama ini industri tekstil dan garmen nasional hanya maklon alias menjadi tukang jahit, krisis finansial adalah kesempatan membangun industri dalam negeri dengan antara lain memperkuat merek nasional.
Peluang sangat besar bila melihat potensi pasar. Meskipun sekitar 40 juta orang Indonesia tergolong miskin, tetapi jumlah kelas menengah 40 persen dari total populasi yang sekitar 230 juta orang.
Aviliani menekankan pentingnya memanfaatkan masa krisis ini untuk mengembangkan industri dalam negeri di tengah pertumbuhan ekonomi nasional di atas enam persen setahun, tetapi pertumbuhannya tidak berkualitas karena sumbangan terbesar berasal dari sektor perdagangan dan transaksi pasar uang.
”Pertumbuhan seperti itu tidak menyerap tenaga kerja dan industri dalam negeri kalah pertumbuhannya karena yang di industri pindah menjadi pedagang yang lebih gampang dan relatif tanpa risiko,” kata Aviliani.
Hal ini didukung pembicara lain, pendiri dan penasihat Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Poppy Dharsono dan pemimpin Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (APGAI) yang beranggotakan lebih dari 40 pabrik dan memasok sekitar 160 merek lokal. Banyak anggota APGAI akhirnya memilih menjadi pedagang.
Mereka mengimpor garmen dan memasarkannya di Indonesia daripada memproduksi sendiri karena kalah bersaing dari China yang memiliki banyak kelebihan dari Indonesia, antara lain tenaga kerja murah dan bunga bank yang lebih bersaing.
Stimulus pemerintah
Untuk bisa merebut peluang itu, keduanya berpendapat, pemerintah perlu memberikan stimulus bagi pelaku industri. Poppy menyebut, salah satu hambatan adalah ritel yang berperilaku seperti penyewaan ruangan dengan sistem konsinyasi untuk produk lokal mengambil lebih dari 45 persen dari harga jual dan meminggirkan produk Indonesia.
Dalam catatan Kompas, banyak perancang Indonesia sudah lama mengeluhkan hal tersebut. Sejumlah mal besar di Jakarta tidak mengizinkan merek lokal berada di lantai dasar bersama merek impor. Di sejumlah department store, produk Indonesia diletakkan di pinggir, sementara area prima diberikan untuk merek asing meskipun produk perancang dapat memenuhi target penjualan.
”Kami pernah dua tahun tidak dibayar sebuah department store,” kata Tini Sardadi, pemilik merek aksesori Art Kea, berbagi pengalaman saat diskusi.
Ironisnya, department store bersedia membeli putus produk impor dan karya perancang Indonesia melalui pameran dagang internasional, seperti Hong Kong Fashion Week.
Ketika Departemen Perdagangan mencanangkan tahun 2009 sebagai tahun ekonomi kreatif di mana mode dimasukkan sebagai salah satu dari 14 jenis industri kreatif Indonesia yang bersinggungan dengan industri kriya, infrastruktur industrinya dari hulu hingga hilir seharusnya sudah harus siap, antara lain penataan bisnis ritel, pencegahan impor garmen ilegal, skema pembiayaan, peningkatan sumber daya manusia, hingga promosi tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar. Tanpa kesiapan tersebut, pencanangan itu kembali hanya menjadi hiasan bibir.
Dalam diskusi, Aviliani mengatakan, praktiknya tidak ada negara yang tidak memproteksi industri dan pasar dalam negerinya, termasuk Amerika dan Eropa yang menjadi pendukung pasar bebas.
Modal nasional
Bisnis perancang mode Indonesia saat ini kebanyakan berstatus usaha kecil dan menengah. Dalam situasi krisis 1998, UKM terbukti dapat bertahan, terutama yang tidak mengandalkan pada bahan baku impor yang menjadi mahal karena merosotnya nilai tukar rupiah.
Perancang seperti Tuty Cholid atau seniman kain Baron Manansang sudah merintis kerja sama dengan pengusaha benang sutra dalam negeri meskipun dalam skala kecil.
Pada masa sulit saat ini, perancang antara lain Denny Wirawan; Biyan Wanaatmadja yang memiliki label Biyan, Studio 133, dan Biyan Bride (bukan Boyan Bride seperti tertulis dalam teks foto Minggu lalu di halaman ini); Sebastian Gunawan; Ali Charisma; Oka Diputra; Musa Widyatmodjo; Dina Midiani; Oka Diputra; Ali Charisma; rumah kain Bin House; serta kegiatan rutin, seperti Bali Fashion Week, adalah beberapa aset nasional yang telah membawa citra Indonesia di dalam negeri dan masyarakat internasional.
Sementara APPMI dan Ikatan Perancang Mode Indonesia terus mempromosikan karya perancang Indonesia, Jakarta Food and Fashion Week dan Jakarta Fashion Week mudah-mudahan tetap hadir sebagai ruang pamer karya para perancang. Mereka adalah modal ekonomi dan sosial industri kreatif Indonesia yang tidak meminta bantuan gratis, tetapi perlakuan yang adil untuk dapat berkembang di negerinya sendiri.