
Minggu, 18 Januari 2009 | 01:26 WIB
Bagaimana Nono Anwar Makarim tumbuh menjadi intelektual dengan spektrum perhatian begitu luas? Itu tak lepas dari pengaruh keluarga, pendidikan, dan pergaulan dengan banyak intelektual.
Kecintaan pada ilmu pengetahuan tumbuh berkat dorongan ayahnya, Anwar Makarim, seorang notaris. Anwar senang mengoleksi buku, membaca, dan mengajak Nono dan ketiga adiknya berdiskusi. Biasanya, perbincangan dilakukan sembari makan malam.
”Meja makan jadi tempat diskusi, bahkan debat yang hangat, seputar berbagai soal,” kata Nono mengenang.
Lulus sekolah HBS (tingkat SMP dan SMA) di Capentier Alting Stichting Jakarta, Nono menguasai empat bahasa: Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Kemampuan itu mempermudahnya mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Nono kuliah S-1 pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) selama 15 tahun. Maklum, dia menekuni segudang aktivitas. Bersama para aktivis mahasiswa, dia getol memperjuangkan kebebasan berekspresi melawan garis politik revolusi Presiden Soekarno.
”Mahasiswa jadi kekuatan ban serep berwajah populis yang dimanfaatkan TNI untuk melawan PKI ketika itu,” paparnya.
Dia dipercaya jadi Pemimpin Redaksi, Harian Kami, lantas diangkat jadi anggota DPR-GR/ MPRS. Dia juga ikut mendirikan dan jadi direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Jakarta.
Pada akhir kuliah S-1, Nono sempat jadi fellow pada Center for International Affairs di Harvard University, Amerika. Setelah lulus UI tahun 1975, dia kembali ke Amerika untuk ambil program Master of Law dan program Doctor of Juridical Science di Harvard Law School, lulus tahun 1978.
Kembali ke Tanah Air, Nono mendirikan kantor advokat dan penasihat hukum, Makarim & Taira S. Tahun 1998, dia mendirikan dan menjadi Ketua Badan Pelaksana Yayasan Aksara, organisasi penelitian, pendidikan, dan penerbitan nirlaba.
Perjalanan hidup, pendidikan, dan pengalaman semacam itulah yang membuat Nono bersentuhan dengan berbagai bidang ilmu secara lintas batas, mulai dari politik, sosial, budaya, sampai hukum. Meski begitu, lelaki keturunan Arab ini lebih senang disebut ahli hukum.
”Dalam menelaah segala sesuatu, saya menerapkan kacamata ahli hukum yang sangat memerhatikan detail,” katanya. (iam/bsw)