
Senin, 19 Januari 2009 | 12:44 WIB
Gunung-gunung dan lembah telah mengajar kita/tentang keindahan hidup di alam terbuka/mempersatukan jiwa kita bagai saudara..
Petikan lagu tersebut dinyanyikan Iwan Abdurrahman atau lebih dikenal dengan nama Abah Iwan di hadapan 200 lebih peserta reuni alumni SMP/SMA Santo Aloysius Bandung bertempat di Kawasan Konservasi Masigit-Kareumbi, Sabtu (17/1). Lagu tidak dinyanyikan dengan tuntas, tetapi setiap penggal lagu, dia tak lupa mengajak peserta merenungkan bait lagunya.
"Hutan mengajarkan kita mengenai realitas hidup bahwa semua manusia adalah sama, tidak melihat agama atau kesukuan orang. Hanya saja kita lebih suka mengotak-otakkan sesama manusia," ujarnya. Tidak lupa dia menyanyikan lagu Melati dari Jayagiri sambil bercerita tentang kenangan 30 tahun lalu saat berburu di kawasan tersebut. Pada 30 tahun silam, hutan di perbatasan Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang tersebut dipenuhi rimbunnya pepohonan.
Kini sebagian wilayah hutan itu gundul. Namun, dia percaya 30 tahun ke depan harapan itu masih ada asalkan ada orang yang memiliki kecintaan terhadap pohon, tidak sekadar menanam. Wali Pohon
Ketua Panitia Reuni 60 Tahun Taruna Ogha Pravritti (TOP) Herru Joewono menjelaskan, penanaman pohon merupakan salah satu bentuk keinginan alumni SMP dan SMA Santo Aloysius yang ingin mengisi reuni. "Kami melibatkan siswa yang belum lulus untuk mengikuti penanaman 1.200 pohon melalui program Wali Pohon," kata Herru.
Menurut Staf Pengelola Manajemen Kawasan Konservasi Masigit Kareumbi Galih Donikara, Wali Pohon adalah sebuah skim penghijauan yang coba ditawarkan kepada masyarakat yang ingin berpartisipasi terhadap penghijauan dengan beberapa perbedaan yaitu pemberdayaan masyarakat.
Dengan berpartisipasi pada program Wali Pohon, setiap donatur seperti menjadi orangtua asuh dengan memberikan dana Rp 50.000 untuk setiap pohon. Dana itu digunakan untuk pemeliharaan pohon hingga lima tahun mendatang.
Dana yang terkumpul juga untuk memberdayakan warga setempat sehingga mereka ikut menjaga kelangsungan hidup pohon. Kalau ada yang mati sebelum lima tahun, pohon akan diganti dengan yang baru. "Dana yang dikeluarkan Rp 50.000 adalah jumlah kecil untuk lima tahun," kata Galih.
Program yang diperkenalkan itu diadopsi dari skim sejenis di Inggris dan Jerman dengan nama Baby Tree. Namun, nilainya bisa Rp 100.000 untuk satu pohon. Di Jawa, lokasi ini merupakan yang pertama menerapkan konsep tersebut.
Program Wali Pohon bertujuan menghijaukan lahan gundul seluas 380 hektar di wilayah itu. Ada enam jenis pohon yang akan ditaman yaitu puspa, rasamala, manglid, salam, sobsi, dan surian. (Didit PUTRA Erlangga Rahardjo)