
Jumat, 30 Januari 2009 | 01:04 WIB
Jakarta, Kompas - Jika asumsi harga minyak diubah menjadi 45 dollar AS per barrel, pemerintah memperkirakan subsidi bahan bakar minyak tahun ini hanya Rp 31 triliun. Ini berarti ada penurunan Rp 27 triliun dari asumsi semula.
Dirjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Evita Legowo mengemukakan hal itu dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR, membahas perubahan asumsi APBN 2009 di Jakarta, Kamis (29/1).
”Asumsi subsidi ini juga dihitung dengan perkiraan alpha Pertamina 13,4 persen dan kurs Rp 11.000,” kata Evita Legowo.
Sebelumnya, dalam APBN 2009 pemerintah mengalokasikan subsidi BBM sebesar Rp 58 triliun dengan asumsi harga minyak 80 dollar AS.
Adapun volume BBM bersubsidi diusulkan 36,85 juta kiloliter (kl) dan margin pendistribusian BBM bersubsidi ditetapkan 8 persen.
Dalam usulan perubahan, Departemen ESDM menaikkan alokasi kuota BBM bersubsidi menjadi 38,94 juta kl.
Penurunan harga BBM sebanyak tiga kali sejak Desember lalu diperkirakan mendorong kenaikan konsumsi premium dan solar sekitar 8 persen.
Kuota premium tahun ini naik dari 19,4 juta kl menjadi 20,63 juta kl, sedangkan solar naik dari 11,6 juta kl menjadi 12,5 juta kl. Subsidi BBM masih ada kemungkinan bertambah.
Masih akan surplus
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro memperkirakan masih akan terjadi surplus antara penerimaan dari sektor migas dan tambang dengan pengeluaran untuk subsidi BBM, elpiji, dan listrik.
”Pada posisi harga minyak Indonesia 45 dollar AS per barrel, masih ada surplus sekitar Rp 89 triliun,” ujar Purnomo.
Meskipun Departemen Keuangan telah mengajukan asumsi harga minyak di angka 45 dollar AS, Departemen ESDM dan Komisi VII DPR sepakat untuk mengajukan asumsi harga minyak dalam rentang 40 dollar AS-60 dollar AS per barrel.
Departemen ESDM juga mengusulkan tambahan subsidi untuk bahan bakar nabati (BBN) sebesar Rp 774 miliar. Subsidi perlu ditambah karena harga bahan baku BBN lebih tinggi daripada harga jual.
Purnomo mengemukakan, banyak produsen BBN yang mengurangi pasokan ke Pertamina karena harga bahan baku yang mahal. Padahal, pemerintah telah berkomitmen agar program diversifikasi energi tetap berlanjut. ”Oleh karena itu, kami usulkan ada tambahan subsidi untuk BBN rata-rata Rp 1.000 per liter,” ujar Purnomo.
Saat ini ada dua jenis BBN yang dimasukkan sebagai bahan bakar yang disubsidi, yaitu biopremium (campuran premium dan etanol ) dan biosolar (campuran solar dengan fatty acid methyl ester/FAME).
Tahun ini, pemerintah menetapkan kandungan etanol dalam biopremium minimal 1 persen, sedangkan untuk biosolar, kandungan FAME ditetapkan minimal 5 persen.
Dengan target itu, volume biopremium tahun ini diperkirakan mencapai 194.444 kl, sedangkan solar 580.025 kl. Tambahan subsidi untuk kedua BBN itu mencapai Rp 774,469 miliar.
Harga jual eceran BBN sama dengan harga BBM subsidi, sedangkan dengan harga minyak yang jatuh saat ini, harga BBN menjadi lebih tinggi.
Harga BBN ditetapkan dari rata-rata harga BBN di pasar Asia Tenggara dan harga BBN di dalam negeri.
Anggota Komisi VII Agusman Effendi mengatakan, dengan menambah subsidi BBN, pemerintah melakukan subsidi ganda. Sebab, volume BBN telah dimasukkan ke dalam perhitungan kuota BBM bersubsidi. (DOT)