
Minggu, 1 Maret 2009 | 01:39 WIB
Bernard SY Batubara
Kakiku, Kaki Puisi
kakiku, kaki kembara
kakiku waktu yang baka
puisi di ujung duri, jariku merindu luka
(2008)
Bernard SY Batubara
Solilokui Puisi
benarkah tak ada halaman kosong bagi puisi yang ingin ditulis dengan rasa gembira?
apakah puisi yang lahir dari jari yang luka saja yang bisa diterima?
lalu bagaimana dengan puisi yang lahir dari jari yang luka tapi ditulis dengan rasa gembira?
apa pula yang terjadi dengan puisi gembira yang lahir dari jiwa yang luka?
bagaimana menilai puisi itu puisi luka atau puisi gembira?
yakinkah seseorang, ia sedang benar-benar terluka saat menulis puisi agar puisi ia diterima?
siapa yang pantas menerima puisi?
siapa yang pantas diterima puisi?
(2008)
Bernard SY Batubara
Mol
rendah, rendahkan o belahan jari, pagi
sudah tak tahan bermimpi, embun, o
biarkan dia yang melanjutkan nada
berikutnya, sebab bunyi pada waktu ini
sudah tak sama, bapa ada
di surga, kenapa tak kita juga?
rendah, o rendahkan lagi bunyi ini, di
beranda rumah sepasang kursi, hai sangkar
burung yang telah ditinggal pergi, biarkan,
biarkan mereka yang melanjutkan mencari,
sebab luka pada waktu ini sudah tak lagi,
kenapa tak kita Mati?
(2009)
Bernard SY Batubara
Kres
waktu telah memainkan luka, hingga ke nada
yang lebih tinggi, dawai menyimpan mimpi,
denting menanam rindu entah di petik yang
mana, ah, langit telah menyala..
suara tak lagi, ada bisik yang lebih
lengking, napas begitu kering, apa yang
bunyi terdengar begitu api, di sini
jemari membakar, ah, teriak telah berkobar!
(2009)
Bernard SY Batubara
Bar
betapa kita hanyalah tubuh yang runtuh, o ruang
yang mengarung nada-nada, tanda-tanda, o
duka yang terselip di setiap jeda, o tuah
yang mengalir di belahan lagu, romansa
bunyi masa lalu, aroma sedap malam dari laut
mati dalam simfonimu membawa maut, o jemari
yang lihai melantun luka, menatah luka,
menyusun luka, o tubuh yang runtuh,
betapa kita hanya ruang yang rubuh, ruang yang rubuh..
(2009)
Bernard SY Batubara
Fret
ini, gurat jariku di lehermu, begitu panjang
dari ujung yang lebar hingga pangkal
yang sempit, berbekas, o, sekali lagi
kusentuh ya, maaf, lagu ini belum juga
selesai, o, petak nada yang serak, sampaikan
pesan paling lengking ke gendang telinga
beliau, biar dia mendengarnya sebagai
desing peluru, jangan menikung, petak
nada yang serak, o, berikan aku satu-dua
bunyi yang paling pekik, sampaikan pula
pada beliau, biar dia mendengarnya sebagai
jerit ibu
(2009)
Sunlie Thomas Alexander
Belinyu
carilah pada dahiku yang kau lukai,
kerinduan para leluhur berbaju belacu
yang tak temukan jalan pulang
ke guci guci abu dan aroma gaharu
hingga bersilang bayangan, berbelit silsilah
pada batang batang pohon dan bebatu,
gubuk gubuk miring dan bagan di laut jemu
menjelma sebelah kaos kaki
usang dan bau
sebagai anak yatim yang terjebak
di palang pintu, aku mengadu
pada peruntungan mata dadu;
oh, kian berlumut batu batu!
kulihat mata arwah waktu
yang membara di tepi teluk kelabu,
sayu terbuai merdu dendang melayu
sampai berkali dilukai lagi
kenangan kanakku yang lugu
merah darah ibu kelewat pekat
menyusuri nadiku,
mengental di dahi (oh, di hati!)
serupa gelombang laut
yang mengantarkan sesajen basi
ke meja meja pemujaanmu
maka kaos kaki usang kukantong di saku
setelah sia sia lekatkan nama di guci abu
tapi kau terus mengintai warna mataku
dan menjarah doa keluh
di sepanjang ingatanku
hingga pada tiap ngungun kepulangan
mesti kubangun kerinduan yang tabu
di lengang jalanmu
Bangka-Yogyakarta, 2008
Sunlie Thomas Alexander
Elegi Kuli Tambang
liu ngie
aku tak sedang mencatat
warna ajalmu, karena
tak pernah tiba waktu ruwat
untuk mataku
yang terhujam mata pacul
di parit parit tambang
selokan selokan tergarit
seperti masa depan yang kau nujum
dan menjelma nasib buruk bagi pepohonan
ah, lihatlah tanganku yang tersayat
meraba cerita kelam pelayaran
dalam perih tubuhku, di mana jejak
darahmu yang mengering
jadi bentangan peta baru
tak hanya pasir timah
yang bocor dari pecah papan sakan
tapi juga doa dari hatimu yang rawan,
masih menetes di tiap pendulangan
hingga pohon pohon yang hilang
berganti tiang gantungan!
aku sedang tak melawat kematianmu…
walau dari biji matamu yang menyala
pada luka mataku, terus terkenang
gemuruh parit dan kabar pemberontakan
karena begitulah riwayatmu
yang diabaikan takdir;
tak pernah berhenti
mengayak pasir nasibku
di anyir penambangan yang
menjelma kampung halaman
Belinyu-Yogyakarta, 2008
Sakan: talang panjang dari papan untuk mengalirkan pasir timah ke dulang
Bernard SY Batubara lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 9 Juli 1989. Kuliah di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Indonesia. Bergiat sebagai staf redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi. Sajak-sajaknya dimuat di sejumlah situs internet sastra.
Sunlie Thomas Alexander lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Belajar Seni Rupa di Institut Seni Indonesia dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; sembari bergiat di Komunitas Rumahlebah dan Komunitas Ladang.