Rabu, 10 Februari 2010
Sajak Sajak

Minggu, 1 Maret 2009 | 01:39 WIB

Bernard SY Batubara

Kakiku, Kaki Puisi

kakiku, kaki kembara

kakiku waktu yang baka

puisi di ujung duri, jariku merindu luka

(2008)

 

Bernard SY Batubara

Solilokui Puisi

benarkah tak ada halaman kosong bagi puisi yang ingin ditulis dengan rasa gembira?

apakah puisi yang lahir dari jari yang luka saja yang bisa diterima?

 

lalu bagaimana dengan puisi yang lahir dari jari yang luka tapi ditulis dengan rasa gembira?

apa pula yang terjadi dengan puisi gembira yang lahir dari jiwa yang luka?

 

bagaimana menilai puisi itu puisi luka atau puisi gembira?

yakinkah seseorang, ia sedang benar-benar terluka saat menulis puisi agar puisi ia diterima?

 

siapa yang pantas menerima puisi?

siapa yang pantas diterima puisi?

(2008)

 

Bernard SY Batubara

Mol

rendah, rendahkan o belahan jari, pagi

sudah tak tahan bermimpi, embun, o

biarkan dia yang melanjutkan nada

berikutnya, sebab bunyi pada waktu ini

sudah tak sama, bapa ada

di surga, kenapa tak kita juga?

rendah, o rendahkan lagi bunyi ini, di

beranda rumah sepasang kursi, hai sangkar

burung yang telah ditinggal pergi, biarkan,

biarkan mereka yang melanjutkan mencari,

sebab luka pada waktu ini sudah tak lagi,

kenapa tak kita Mati?

(2009)

 

Bernard SY Batubara

Kres

waktu telah memainkan luka, hingga ke nada

yang lebih tinggi, dawai menyimpan mimpi,

denting menanam rindu entah di petik yang

mana, ah, langit telah menyala..

suara tak lagi, ada bisik yang lebih

lengking, napas begitu kering, apa yang

bunyi terdengar begitu api, di sini

jemari membakar, ah, teriak telah berkobar!

(2009)

 

Bernard SY Batubara

Bar

betapa kita hanyalah tubuh yang runtuh, o ruang

yang mengarung nada-nada, tanda-tanda, o

duka yang terselip di setiap jeda, o tuah

yang mengalir di belahan lagu, romansa

bunyi masa lalu, aroma sedap malam dari laut

mati dalam simfonimu membawa maut, o jemari

yang lihai melantun luka, menatah luka,

menyusun luka, o tubuh yang runtuh,

betapa kita hanya ruang yang rubuh, ruang yang rubuh..

(2009)

 

Bernard SY Batubara

Fret

ini, gurat jariku di lehermu, begitu panjang

dari ujung yang lebar hingga pangkal

yang sempit, berbekas, o, sekali lagi

kusentuh ya, maaf, lagu ini belum juga

selesai, o, petak nada yang serak, sampaikan

pesan paling lengking ke gendang telinga

beliau, biar dia mendengarnya sebagai

desing peluru, jangan menikung, petak

nada yang serak, o, berikan aku satu-dua

bunyi yang paling pekik, sampaikan pula

pada beliau, biar dia mendengarnya sebagai

jerit ibu

(2009)

 

Sunlie Thomas Alexander

Belinyu

carilah pada dahiku yang kau lukai,

kerinduan para leluhur berbaju belacu

yang tak temukan jalan pulang

ke guci guci abu dan aroma gaharu

hingga bersilang bayangan, berbelit silsilah

pada batang batang pohon dan bebatu,

gubuk gubuk miring dan bagan di laut jemu

menjelma sebelah kaos kaki

usang dan bau

sebagai anak yatim yang terjebak

di palang pintu, aku mengadu

pada peruntungan mata dadu;

oh, kian berlumut batu batu!

kulihat mata arwah waktu

yang membara di tepi teluk kelabu,

sayu terbuai merdu dendang melayu

sampai berkali dilukai lagi

kenangan kanakku yang lugu

merah darah ibu kelewat pekat

menyusuri nadiku,

mengental di dahi (oh, di hati!)

serupa gelombang laut

yang mengantarkan sesajen basi

ke meja meja pemujaanmu

maka kaos kaki usang kukantong di saku

setelah sia sia lekatkan nama di guci abu

tapi kau terus mengintai warna mataku

dan menjarah doa keluh

di sepanjang ingatanku

hingga pada tiap ngungun kepulangan

mesti kubangun kerinduan yang tabu

di lengang jalanmu

Bangka-Yogyakarta, 2008

 

Sunlie Thomas Alexander

Elegi Kuli Tambang

liu ngie

aku tak sedang mencatat

warna ajalmu, karena

tak pernah tiba waktu ruwat

untuk mataku

yang terhujam mata pacul

di parit parit tambang

selokan selokan tergarit

seperti masa depan yang kau nujum

dan menjelma nasib buruk bagi pepohonan

ah, lihatlah tanganku yang tersayat

meraba cerita kelam pelayaran

dalam perih tubuhku, di mana jejak

darahmu yang mengering

jadi bentangan peta baru

tak hanya pasir timah

yang bocor dari pecah papan sakan

tapi juga doa dari hatimu yang rawan,

masih menetes di tiap pendulangan

hingga pohon pohon yang hilang

berganti tiang gantungan!

aku sedang tak melawat kematianmu…

walau dari biji matamu yang menyala

pada luka mataku, terus terkenang

gemuruh parit dan kabar pemberontakan

karena begitulah riwayatmu

yang diabaikan takdir;

tak pernah berhenti

mengayak pasir nasibku

di anyir penambangan yang

menjelma kampung halaman

Belinyu-Yogyakarta, 2008

 

Sakan: talang panjang dari papan untuk mengalirkan pasir timah ke dulang

Bernard SY Batubara lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 9 Juli 1989. Kuliah di Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Indonesia. Bergiat sebagai staf redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi. Sajak-sajaknya dimuat di sejumlah situs internet sastra.

Sunlie Thomas Alexander lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Belajar Seni Rupa di Institut Seni Indonesia dan Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; sembari bergiat di Komunitas Rumahlebah dan Komunitas Ladang.

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: